Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari “Surga Terlupakan” ke Pusat Ekonomi Dunia: Makran Iran Bangkit di Jalur Perdagangan Eurasia

Kompas.com, 6 April 2026, 13:39 WIB
Add on Google
Farid Assifa

Editor

Sumber Press TV

KOMPAS.com - Selama berabad-abad, pesisir Makran di Iran hanya dikenal sebagai wilayah terpencil yang kering dan nyaris terlupakan.

Kini, kawasan itu perlahan menjelma menjadi pusat ekonomi baru yang diproyeksikan memainkan peran penting dalam perdagangan global abad ke-21.

Membentang sekitar 500 kilometer di sepanjang Teluk Oman hingga perbatasan Pakistan, Makran dulunya identik dengan panas ekstrem, minim air, dan akses terbatas.

Kawasan ini bahkan terlewat dari jalur Sutra kuno maupun perdagangan maritim.

Baca juga: Sosok Ali Larijani Arsitek Militer Iran: Filsuf, Politisi, dan Pria Rumah Tangga yang Menginspirasi

Namun kini, narasi itu berubah drastis. Pemerintah Iran mendorong strategi berbasis maritim dengan investasi besar pada infrastruktur, pelabuhan, dan kawasan industri, menjadikan Makran sebagai “bintang baru” di peta ekonomi global.

Pelabuhan dan Jalur Dagang Global

Dua pelabuhan utama—Chabahar dan Jask—menjadi jantung transformasi ini. Keduanya terintegrasi dalam International North-South Transport Corridor (INSTC), jalur perdagangan ambisius yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Rusia hingga Eropa Utara.

Rute ini mampu memangkas waktu dan biaya logistik dibandingkan jalur Terusan Suez, menjadikan Makran sebagai simpul strategis perdagangan Eurasia bernilai triliunan dolar.

Tak hanya itu, pembangunan pipa minyak Goreh–Jask memungkinkan Iran mengekspor minyak tanpa melalui Selat Hormuz, mengurangi ketergantungan pada jalur energi paling sensitif di dunia.

Ekonomi Laut yang Melejit

Di balik proyek besar tersebut, transformasi ekonomi juga terjadi secara senyap di sektor perikanan. Kawasan ini kini menyumbang sekitar **sepertujuh dari total tangkapan ikan Iran**, dengan produksi mencapai 200.000 ton per tahun.

Makran bahkan mulai dikenal sebagai pemasok global tuna dan produk laut lainnya. Kehadiran kompleks pengolahan ikan terbesar di Iran menandai pergeseran dari ekspor mentah menuju industri bernilai tambah.

Selain itu, proyek akuakultur seperti budidaya udang di kawasan mangrove semakin memperkuat fondasi ekonomi pesisir.

Untuk mendukung pertumbuhan besar ini, Iran membangun jaringan bendungan, fasilitas desalinasi, serta proyek transfer air senilai miliaran dolar.

Sistem ini ditargetkan mampu menyuplai hingga 2,4 miliar meter kubik air per tahun, bahkan menjangkau wilayah pedalaman seperti Mashhad.

Di sektor energi, pembangunan pembangkit listrik termasuk proyek nuklir baru di Hormoz akan menyediakan daya hingga 5.000 megawatt—cukup untuk menopang industri berat dan pertumbuhan kota baru.

Pariwisata dan Alam yang Tersembunyi

Tak hanya ekonomi, Makran juga menyimpan potensi wisata luar biasa. Pantai alami, gunung berwarna, hutan mangrove, hingga gunung lumpur aktif menjadikan kawasan ini unik dibanding wilayah lain di Iran.

Bagi wisatawan, Makran menawarkan pengalaman berbeda: alam liar yang belum tersentuh, budaya pesisir khas, dan suasana yang jauh dari keramaian destinasi populer.

Kebangkitan Makran juga menarik perhatian kekuatan besar dunia. India berinvestasi di Chabahar untuk akses ke Asia Tengah, Rusia melihatnya sebagai jalur strategis ke laut hangat, sementara China mengaitkannya dengan proyek konektivitas regionalnya.

Iran pun memanfaatkan posisi ini dengan menyeimbangkan hubungan global, menjadikan Makran sebagai titik temu kepentingan ekonomi dan geopolitik.

Dari “Surga Hilang” Menuju Masa Depan

Makran kini tidak lagi sekadar wilayah terpencil. Dengan rencana pembangunan 27 kota baru dan target populasi hingga 2,5 juta jiwa, kawasan ini tengah dipersiapkan menjadi koridor industri dan perdagangan baru.

Meski tantangan seperti kelangkaan air dan dinamika geopolitik masih ada, arah perubahan tampak jelas: Makran sedang bangkit.

Baca juga: Profil Pulau Kharg: Lokasi, Sejarah, dan Alasan AS Mengincar Pusat Minyak Vital Iran

Dari garis pantai yang dahulu diabaikan, Makran kini menjelma menjadi harapan baru Iran di panggung global.

Di era ketika Samudra Hindia menjadi pusat perdagangan dunia, kawasan ini berpotensi berubah dari “surga terlupakan” menjadi salah satu pusat ekonomi paling strategis di masa depan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kemenhaj Arab Saudi Tegaskan Visa Haji Satu-satunya Izin Resmi untuk Ibadah Haji
Kemenhaj Arab Saudi Tegaskan Visa Haji Satu-satunya Izin Resmi untuk Ibadah Haji
Aktual
565 Jemaah Haji Ponorogo Siap Berangkat 2026, Terbagi ke Dalam Kloter 19 dan 20
565 Jemaah Haji Ponorogo Siap Berangkat 2026, Terbagi ke Dalam Kloter 19 dan 20
Aktual
Kisah Haru Salman Al-Farisi, Pencari Kebenaran dari Persia
Kisah Haru Salman Al-Farisi, Pencari Kebenaran dari Persia
Aktual
Kisah Haru Jemaah Calon Haji Termuda Asal Musi Rawas yang Berangkat Gantikan Almarhum Ayah
Kisah Haru Jemaah Calon Haji Termuda Asal Musi Rawas yang Berangkat Gantikan Almarhum Ayah
Aktual
Kartu Nusuk Dibagikan Sejak di Tanah Air, Jemaah Bakal Dapat Tas Khusus untuk Cegah Kehilangan
Kartu Nusuk Dibagikan Sejak di Tanah Air, Jemaah Bakal Dapat Tas Khusus untuk Cegah Kehilangan
Aktual
Mengapa Ulama Hadis Terkemuka Banyak Lahir dari Persia? Ini Faktanya
Mengapa Ulama Hadis Terkemuka Banyak Lahir dari Persia? Ini Faktanya
Aktual
208 Calon Jemaah Haji 2026 Asal Depok Tunda Berangkat karena Belum Lunasi Pembayaran
208 Calon Jemaah Haji 2026 Asal Depok Tunda Berangkat karena Belum Lunasi Pembayaran
Aktual
Kisah Uwais al-Qarni, Dipuji Rasulullah karena Baktinya kepada Sang Ibu
Kisah Uwais al-Qarni, Dipuji Rasulullah karena Baktinya kepada Sang Ibu
Aktual
Sholawat Busyro Lengkap: Amalan Pembuka Kabar Baik dan Rezeki
Sholawat Busyro Lengkap: Amalan Pembuka Kabar Baik dan Rezeki
Doa dan Niat
Mulai Senin 13 April, Saudi Larang WNA Masuk Makkah, Kecuali Visa Haji
Mulai Senin 13 April, Saudi Larang WNA Masuk Makkah, Kecuali Visa Haji
Aktual
AS-Iran Gagal Berdamai, PBNU dan Paus Leo XIV Serukan Hentikan Kekerasan Dunia
AS-Iran Gagal Berdamai, PBNU dan Paus Leo XIV Serukan Hentikan Kekerasan Dunia
Aktual
Apa Itu Multazam? Lokasi, Keutamaan, dan Amalan Doa Mustajab
Apa Itu Multazam? Lokasi, Keutamaan, dan Amalan Doa Mustajab
Doa dan Niat
Kemenhaj Saudi: Hanya Visa Haji yang Sah, Visa Lain Tak Bisa Masuk Makkah
Kemenhaj Saudi: Hanya Visa Haji yang Sah, Visa Lain Tak Bisa Masuk Makkah
Aktual
Arab Saudi Batasi Masuk ke Makkah Tanpa Izin Mulai 13 April 2026, Ini Aturannya
Arab Saudi Batasi Masuk ke Makkah Tanpa Izin Mulai 13 April 2026, Ini Aturannya
Aktual
Pendaftaran Haji Domestik 2026 Dibuka 18 April, Ini Syarat Fase Kedua
Pendaftaran Haji Domestik 2026 Dibuka 18 April, Ini Syarat Fase Kedua
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com