KOMPAS.com – Kisah akhir hayat Fir’aun yang tenggelam di Laut Merah bukan hanya menjadi puncak dari perlawanan antara kebenaran dan kezaliman, tetapi juga menyimpan detail yang menggugah, detik-detik ketika ia mencoba bertobat, namun justru terhalang.
Dalam sejumlah riwayat hadis, disebutkan bahwa mulut Fir’aun disumpal oleh Malaikat Jibril agar ia tidak sempat mengucapkan kalimat tauhid secara sempurna.
Peristiwa ini bukan sekadar kisah dramatis, melainkan pelajaran teologis yang dalam tentang batas waktu tobat, keadilan Ilahi, serta konsekuensi dari kesombongan yang melampaui batas.
Al-Qur’an menggambarkan dengan sangat kuat momen ketika Fir’aun dan pasukannya mengejar Nabi Musa AS dan Bani Israil hingga ke tepi laut. Dengan izin Allah, laut terbelah dan menjadi jalan keselamatan bagi kaum beriman.
Namun ketika Fir’aun mencoba menyusul, air laut kembali menutup dan menenggelamkan dirinya beserta bala tentaranya.
Dalam Surah Yunus ayat 90–91 disebutkan bahwa pada saat hampir tenggelam, Fir’aun akhirnya mengakui kebenaran:
وَجَاوَزْنَا بِبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ الْبَحْرَ فَاَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُوْدُهٗ بَغْيًا وَّعَدْوًا ۗحَتّٰىٓ اِذَآ اَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ اٰمَنْتُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا الَّذِيْٓ اٰمَنَتْ بِهٖ بَنُوْٓا اِسْرَاۤءِيْلَ وَاَنَا۠ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
اٰۤلْـٰٔنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ
Artinya: "Kami jadikan Bani Israil bisa melintasi laut itu (Laut Merah). Lalu, Fir'aun dan bala tentaranya mengikuti mereka untuk menganiaya dan menindas hingga ketika Fir'aun hampir (mati) tenggelam, dia berkata, 'Aku percaya bahwa tidak ada tuhan selain (Tuhan) yang telah dipercayai oleh Bani Israil dan aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri kepada-Nya).' Apakah (baru) sekarang (kamu beriman), padahal sungguh kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?"
Namun pengakuan itu datang terlambat. Ayat selanjutnya menegaskan penolakan atas tobat tersebut karena dilakukan saat ajal telah tiba.
Dalam kitab Tafsir Al-Munir karya Wahbah az-Zuhayli dijelaskan, pengakuan iman Fir’aun tidak diterima karena ia baru beriman setelah menyaksikan azab secara nyata, sebuah kondisi di mana pintu tobat telah tertutup.
Baca juga: Daftar Mukjizat Nabi Musa AS dari Tongkat Menjadi Ular hingga Laut Terbelah
Detail yang lebih dramatis datang dari hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA. Dalam hadis yang dicatat oleh Imam al-Tirmidzi,
Rasulullah SAW bersabda bahwa Malaikat Jibril turun dan memasukkan tanah ke dalam mulut Fir’aun.
"Jibril pernah berkata kepadaku: 'Seandainya engkau melihat aku sementara aku dapat melakukan dan mengubah keadaan laut, akan aku injak mulut Fir'aun karena aku khawatir ia akan mendapatkan rahmat," (HR Abu Dawud).
Tujuannya bukan tanpa alasan. Dalam riwayat tersebut, Jibril berkata bahwa ia khawatir Fir’aun sempat mengucapkan kalimat tauhid secara sempurna, yang bisa membuka kemungkinan turunnya rahmat Allah.
Dalam kitab Kisah Para Nabi karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa tindakan Jibril mencerminkan kemarahan terhadap kezaliman Fir’aun yang telah melampaui batas.
Ia bukan sekadar penguasa zalim, tetapi juga sosok yang mengaku sebagai tuhan dan menindas Bani Israil secara sistematis.
Riwayat lain yang dicantumkan dalam Musnad Ahmad juga memperkuat kisah ini, bahwa Jibril menyumpal mulut Fir’aun dengan pasir laut agar ia tidak sempat mengucapkan “La ilaha illa Allah”.
"Suatu ketika dua orang sahabat menghadap Rasulullah SAW (menanyakan tentang Fir'aun). Beliau bersabda, 'Malaikat Jibril menyumpali mulut Fir'aun dengan pasir, khawatir kalau-kalau akan mengucapkan, 'La ilaha illallah,'" (HR Ahmad).
Dalam teologi Islam, terdapat prinsip penting bahwa tobat hanya diterima selama seseorang masih berada dalam kondisi sadar dan belum menghadapi sakaratul maut.
Dalam buku Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali dijelaskan bahwa tobat yang sah harus memenuhi tiga syarat utama, penyesalan, berhenti dari dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya. Semua itu harus dilakukan sebelum datangnya kematian.
Fir’aun, dalam konteks ini, tidak memenuhi syarat tersebut. Ia baru mengakui kebenaran ketika azab telah nyata di hadapannya.
Lebih jauh, dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa iman dalam kondisi terpaksa, ketika seseorang sudah tidak memiliki pilihan lain, tidak memiliki nilai keimanan yang sejati.
Baca juga: Makna Dialog Nabi Muhammad dan Nabi Musa dalam Isra Miraj
Kisah ini juga sering menjadi bahan refleksi para ulama tentang hubungan antara keadilan dan rahmat Allah.
Di satu sisi, Allah dikenal Maha Pengampun. Namun di sisi lain, ada batasan waktu yang tidak bisa dilampaui.
Syaikh Hamid Ahmad Ath-Thahir Al-Basyuni dalam Shahih Qashashil Qur’an menjelaskan bahwa penolakan tobat Fir’aun justru menjadi bukti keadilan Ilahi.
Jika tobat di saat sakaratul maut diterima, maka tidak ada lagi perbedaan antara orang yang beriman sejak awal dan mereka yang baru beriman karena terpaksa.
Kisah ini menegaskan bahwa rahmat Allah luas, tetapi tidak menghapus konsekuensi dari pilihan hidup seseorang.
Jika ditarik lebih dalam, kisah Fir’aun bukan hanya soal sejarah, tetapi juga cermin kondisi manusia.
Dalam banyak ayat, Fir’aun digambarkan sebagai sosok yang tidak hanya menolak kebenaran, tetapi juga aktif menindas dan menyesatkan.
Dalam buku Arkeologi Al-Qur’an karya Ali Akbar, dijelaskan bahwa Fir’aun adalah simbol kekuasaan absolut yang kehilangan batas moral.
Ia bukan sekadar raja, tetapi representasi dari kesombongan manusia yang merasa tidak membutuhkan Tuhan.
Kesombongan inilah yang membuatnya terus menolak kebenaran, bahkan setelah melihat mukjizat Nabi Musa AS secara langsung.
Baca juga: 9 Mukjizat Nabi Musa Lengkap: Dari Tongkat Hingga Laut Terbelah
Meski tenggelam, Al-Qur’an menyebut bahwa jasad Fir’aun diselamatkan sebagai pelajaran bagi generasi setelahnya (QS Yunus: 92).
Ayat ini menjadi salah satu yang paling sering dikaitkan dengan temuan mumi Fir’aun di Mesir.
Dalam konteks tafsir, seperti dijelaskan dalam Tafsir Al-Jalalain, penyelamatan jasad ini bukan bentuk kemuliaan, melainkan peringatan agar manusia tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Hari ini, mumi para Firaun dapat dilihat di museum, menjadi saksi bisu dari sebuah kekuasaan besar yang runtuh karena kesombongan.
Perdebatan tentang siapa Fir’aun yang tenggelam—apakah Ramses II atau Merneptah—memang masih berlangsung di kalangan sejarawan dan ilmuwan.
Namun dalam perspektif Islam, fokus utama bukanlah identitasnya, melainkan pelajaran yang terkandung di dalamnya.
Kisah ini mengajarkan bahwa:
Di tengah kehidupan modern, kisah Fir’aun tetap relevan. Ia bukan hanya tokoh masa lalu, tetapi simbol dari sikap manusia yang merasa paling benar, paling kuat, dan paling berkuasa.
Dan mungkin, bagian paling menggugah dari kisah ini adalah kenyataan bahwa bahkan di detik terakhir, ketika kebenaran sudah begitu jelas, tidak semua orang mampu menerimanya.
Di situlah letak pelajaran terbesarnya, bahwa kebenaran bukan hanya soal melihat, tetapi juga soal kerendahan hati untuk menerima. Sebab ketika waktu telah habis, bahkan penyesalan pun tidak lagi memiliki makna.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang