Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jelang Kematian Firaun, Jibril Cegah Tobat Terakhir dengan Menyumpal Mulutnya

Kompas.com, 7 April 2026, 17:00 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Kisah akhir hayat Fir’aun yang tenggelam di Laut Merah bukan hanya menjadi puncak dari perlawanan antara kebenaran dan kezaliman, tetapi juga menyimpan detail yang menggugah, detik-detik ketika ia mencoba bertobat, namun justru terhalang.

Dalam sejumlah riwayat hadis, disebutkan bahwa mulut Fir’aun disumpal oleh Malaikat Jibril agar ia tidak sempat mengucapkan kalimat tauhid secara sempurna.

Peristiwa ini bukan sekadar kisah dramatis, melainkan pelajaran teologis yang dalam tentang batas waktu tobat, keadilan Ilahi, serta konsekuensi dari kesombongan yang melampaui batas.

Detik-Detik Terakhir Fir’aun di Tengah Laut

Al-Qur’an menggambarkan dengan sangat kuat momen ketika Fir’aun dan pasukannya mengejar Nabi Musa AS dan Bani Israil hingga ke tepi laut. Dengan izin Allah, laut terbelah dan menjadi jalan keselamatan bagi kaum beriman.

Namun ketika Fir’aun mencoba menyusul, air laut kembali menutup dan menenggelamkan dirinya beserta bala tentaranya.

Dalam Surah Yunus ayat 90–91 disebutkan bahwa pada saat hampir tenggelam, Fir’aun akhirnya mengakui kebenaran:

وَجَاوَزْنَا بِبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ الْبَحْرَ فَاَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُوْدُهٗ بَغْيًا وَّعَدْوًا ۗحَتّٰىٓ اِذَآ اَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ اٰمَنْتُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا الَّذِيْٓ اٰمَنَتْ بِهٖ بَنُوْٓا اِسْرَاۤءِيْلَ وَاَنَا۠ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

اٰۤلْـٰٔنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ

Artinya: "Kami jadikan Bani Israil bisa melintasi laut itu (Laut Merah). Lalu, Fir'aun dan bala tentaranya mengikuti mereka untuk menganiaya dan menindas hingga ketika Fir'aun hampir (mati) tenggelam, dia berkata, 'Aku percaya bahwa tidak ada tuhan selain (Tuhan) yang telah dipercayai oleh Bani Israil dan aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri kepada-Nya).' Apakah (baru) sekarang (kamu beriman), padahal sungguh kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?"

Namun pengakuan itu datang terlambat. Ayat selanjutnya menegaskan penolakan atas tobat tersebut karena dilakukan saat ajal telah tiba.

Dalam kitab Tafsir Al-Munir karya Wahbah az-Zuhayli dijelaskan, pengakuan iman Fir’aun tidak diterima karena ia baru beriman setelah menyaksikan azab secara nyata, sebuah kondisi di mana pintu tobat telah tertutup.

Baca juga: Daftar Mukjizat Nabi Musa AS dari Tongkat Menjadi Ular hingga Laut Terbelah

Riwayat Hadis: Malaikat Jibril Menyumpal Mulut Fir’aun

Detail yang lebih dramatis datang dari hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA. Dalam hadis yang dicatat oleh Imam al-Tirmidzi,

Rasulullah SAW bersabda bahwa Malaikat Jibril turun dan memasukkan tanah ke dalam mulut Fir’aun.

"Jibril pernah berkata kepadaku: 'Seandainya engkau melihat aku sementara aku dapat melakukan dan mengubah keadaan laut, akan aku injak mulut Fir'aun karena aku khawatir ia akan mendapatkan rahmat," (HR Abu Dawud).

Tujuannya bukan tanpa alasan. Dalam riwayat tersebut, Jibril berkata bahwa ia khawatir Fir’aun sempat mengucapkan kalimat tauhid secara sempurna, yang bisa membuka kemungkinan turunnya rahmat Allah.

Dalam kitab Kisah Para Nabi karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa tindakan Jibril mencerminkan kemarahan terhadap kezaliman Fir’aun yang telah melampaui batas.

Ia bukan sekadar penguasa zalim, tetapi juga sosok yang mengaku sebagai tuhan dan menindas Bani Israil secara sistematis.

Riwayat lain yang dicantumkan dalam Musnad Ahmad juga memperkuat kisah ini, bahwa Jibril menyumpal mulut Fir’aun dengan pasir laut agar ia tidak sempat mengucapkan “La ilaha illa Allah”.

"Suatu ketika dua orang sahabat menghadap Rasulullah SAW (menanyakan tentang Fir'aun). Beliau bersabda, 'Malaikat Jibril menyumpali mulut Fir'aun dengan pasir, khawatir kalau-kalau akan mengucapkan, 'La ilaha illallah,'" (HR Ahmad).

Mengapa Tobat Fir’aun Ditolak?

Dalam teologi Islam, terdapat prinsip penting bahwa tobat hanya diterima selama seseorang masih berada dalam kondisi sadar dan belum menghadapi sakaratul maut.

Dalam buku Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali dijelaskan bahwa tobat yang sah harus memenuhi tiga syarat utama, penyesalan, berhenti dari dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya. Semua itu harus dilakukan sebelum datangnya kematian.

Fir’aun, dalam konteks ini, tidak memenuhi syarat tersebut. Ia baru mengakui kebenaran ketika azab telah nyata di hadapannya.

Lebih jauh, dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa iman dalam kondisi terpaksa, ketika seseorang sudah tidak memiliki pilihan lain, tidak memiliki nilai keimanan yang sejati.

Baca juga: Makna Dialog Nabi Muhammad dan Nabi Musa dalam Isra Miraj

Perspektif Ulama: Antara Keadilan dan Rahmat

Kisah ini juga sering menjadi bahan refleksi para ulama tentang hubungan antara keadilan dan rahmat Allah.

Di satu sisi, Allah dikenal Maha Pengampun. Namun di sisi lain, ada batasan waktu yang tidak bisa dilampaui.

Syaikh Hamid Ahmad Ath-Thahir Al-Basyuni dalam Shahih Qashashil Qur’an menjelaskan bahwa penolakan tobat Fir’aun justru menjadi bukti keadilan Ilahi.

Jika tobat di saat sakaratul maut diterima, maka tidak ada lagi perbedaan antara orang yang beriman sejak awal dan mereka yang baru beriman karena terpaksa.

Kisah ini menegaskan bahwa rahmat Allah luas, tetapi tidak menghapus konsekuensi dari pilihan hidup seseorang.

Dimensi Psikologis: Kesombongan yang Membutakan

Jika ditarik lebih dalam, kisah Fir’aun bukan hanya soal sejarah, tetapi juga cermin kondisi manusia.

Dalam banyak ayat, Fir’aun digambarkan sebagai sosok yang tidak hanya menolak kebenaran, tetapi juga aktif menindas dan menyesatkan.

Dalam buku Arkeologi Al-Qur’an karya Ali Akbar, dijelaskan bahwa Fir’aun adalah simbol kekuasaan absolut yang kehilangan batas moral.

Ia bukan sekadar raja, tetapi representasi dari kesombongan manusia yang merasa tidak membutuhkan Tuhan.

Kesombongan inilah yang membuatnya terus menolak kebenaran, bahkan setelah melihat mukjizat Nabi Musa AS secara langsung.

Baca juga: 9 Mukjizat Nabi Musa Lengkap: Dari Tongkat Hingga Laut Terbelah

Jasad yang Diselamatkan, Pelajaran yang Abadi

Meski tenggelam, Al-Qur’an menyebut bahwa jasad Fir’aun diselamatkan sebagai pelajaran bagi generasi setelahnya (QS Yunus: 92).

Ayat ini menjadi salah satu yang paling sering dikaitkan dengan temuan mumi Fir’aun di Mesir.

Dalam konteks tafsir, seperti dijelaskan dalam Tafsir Al-Jalalain, penyelamatan jasad ini bukan bentuk kemuliaan, melainkan peringatan agar manusia tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Hari ini, mumi para Firaun dapat dilihat di museum, menjadi saksi bisu dari sebuah kekuasaan besar yang runtuh karena kesombongan.

Antara Sejarah dan Hikmah

Perdebatan tentang siapa Fir’aun yang tenggelam—apakah Ramses II atau Merneptah—memang masih berlangsung di kalangan sejarawan dan ilmuwan.

Namun dalam perspektif Islam, fokus utama bukanlah identitasnya, melainkan pelajaran yang terkandung di dalamnya.

Kisah ini mengajarkan bahwa:

  • Kekuasaan tanpa iman akan berujung kehancuran
  • Kesombongan dapat menutup pintu kebenaran
  • Tobat memiliki batas waktu yang tidak bisa ditunda
  • Refleksi untuk Masa Kini

Di tengah kehidupan modern, kisah Fir’aun tetap relevan. Ia bukan hanya tokoh masa lalu, tetapi simbol dari sikap manusia yang merasa paling benar, paling kuat, dan paling berkuasa.

Dan mungkin, bagian paling menggugah dari kisah ini adalah kenyataan bahwa bahkan di detik terakhir, ketika kebenaran sudah begitu jelas, tidak semua orang mampu menerimanya.

Di situlah letak pelajaran terbesarnya, bahwa kebenaran bukan hanya soal melihat, tetapi juga soal kerendahan hati untuk menerima. Sebab ketika waktu telah habis, bahkan penyesalan pun tidak lagi memiliki makna.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kerugian Kasus Haji Ilegal Diperkirakan Capai Rp92,64 Miliar, Pengawasan di Titik Keberangkatan Diperketat
Kerugian Kasus Haji Ilegal Diperkirakan Capai Rp92,64 Miliar, Pengawasan di Titik Keberangkatan Diperketat
Aktual
Jadwal Keberangkatan Haji Asal Jambi Dipastikan Dimulai 5 Mei 2026, Bantah Kabar Pembatalan
Jadwal Keberangkatan Haji Asal Jambi Dipastikan Dimulai 5 Mei 2026, Bantah Kabar Pembatalan
Aktual
Kartu Nusuk Jemaah Haji 2026 Siap Dibagikan di Embarkasi Sebelum Berangkat
Kartu Nusuk Jemaah Haji 2026 Siap Dibagikan di Embarkasi Sebelum Berangkat
Aktual
106 Jenis Pekerjaan yang Bisa Dicantumkan di e-KTP, Termasuk Imam Masjid, Ustadz, dan Mubaligh
106 Jenis Pekerjaan yang Bisa Dicantumkan di e-KTP, Termasuk Imam Masjid, Ustadz, dan Mubaligh
Aktual
Kisah Ummu Mahjan, Marbot Wanita di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah SAW
Kisah Ummu Mahjan, Marbot Wanita di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah SAW
Aktual
Pemerintah Bentuk Satgas Haji Ilegal, Targetkan Penipuan dan Visa Ilegal
Pemerintah Bentuk Satgas Haji Ilegal, Targetkan Penipuan dan Visa Ilegal
Aktual
Kepdirjen Bimas Islam 193/2026 Terbit, Uji Kompetensi Penyuluh Agama Islam Kini Lebih Terukur
Kepdirjen Bimas Islam 193/2026 Terbit, Uji Kompetensi Penyuluh Agama Islam Kini Lebih Terukur
Aktual
Mengapa Rasulullah SAW Memuji Negeri Yaman? Ini Sejarahnya
Mengapa Rasulullah SAW Memuji Negeri Yaman? Ini Sejarahnya
Aktual
Jadwal dan Lokasi Layanan Legalisasi Buku Nikah, Tetap Buka Meski WFH
Jadwal dan Lokasi Layanan Legalisasi Buku Nikah, Tetap Buka Meski WFH
Aktual
Kemenhaj Pastikan Tidak Terbitkan Visa Haji Furoda 2026, Masyarakat Harus Waspadai Penawaran Ilegal
Kemenhaj Pastikan Tidak Terbitkan Visa Haji Furoda 2026, Masyarakat Harus Waspadai Penawaran Ilegal
Aktual
Jadwal Haji 2026 Lengkap: Masuk Asrama, Berangkat, Wukuf, hingga Pulang ke Indonesia
Jadwal Haji 2026 Lengkap: Masuk Asrama, Berangkat, Wukuf, hingga Pulang ke Indonesia
Aktual
Kejayaan Islamic Golden Age: Saat Ilmuwan Muslim Pimpin Dunia
Kejayaan Islamic Golden Age: Saat Ilmuwan Muslim Pimpin Dunia
Aktual
Sunnah Lari Kecil Saat Sa’i, Ini Makna di Balik Lampu Hijau
Sunnah Lari Kecil Saat Sa’i, Ini Makna di Balik Lampu Hijau
Aktual
Khutbah Jumat 10 April 2026: Islam Agama Damai, Menebar Rahmat bagi Semesta
Khutbah Jumat 10 April 2026: Islam Agama Damai, Menebar Rahmat bagi Semesta
Aktual
Calon Jemaah Wajib Tahu! Persiapan Lengkap Haji 2026 Agar Mabrur
Calon Jemaah Wajib Tahu! Persiapan Lengkap Haji 2026 Agar Mabrur
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com