KOMPAS.com – Sejarah bangsa Iran tidak bisa dilepaskan dari jejak panjang peradaban Persia kuno yang pernah menjadi salah satu kekuatan besar dunia.
Dari dataran tinggi yang luas di Asia Barat, bangsa ini membangun identitasnya melalui bahasa, budaya, dan sistem kekuasaan yang kuat, jauh sebelum kedatangan Islam.
Namun perjalanan sejarah itu mencapai titik balik dramatis pada abad ke-7 Masehi, ketika kekuasaan Persia runtuh dalam sebuah pertempuran besar yang dikenal sebagai Perang Nahavand.
Dari sinilah, wajah Iran mulai berubah, tidak hanya secara politik, tetapi juga spiritual dan peradaban.
Baca juga: Profil Pulau Kharg: Lokasi, Sejarah, dan Alasan AS Mengincar Pusat Minyak Vital Iran
Wilayah yang kini dikenal sebagai Iran pada masa lampau disebut Persia, sebuah kawasan yang dihuni oleh berbagai kelompok etnis Indo-Iran.
Dalam kajian sejarah klasik, bangsa ini sering dikaitkan dengan migrasi suku Arya yang datang dari wilayah utara sekitar Laut Kaspia.
Menurut sejarawan Yunani kuno Herodotus, kelompok ini dikenal sebagai Ariya, yang kemudian menjadi akar dari istilah “Iran” itu sendiri, yang berarti “tanah bangsa Arya”.
Dalam buku Sejarah Majusi hingga Menjadi Negara Iran karya Nor Kandir, dijelaskan bahwa dalam tradisi historiografi Islam, seperti yang ditulis oleh Imam al-Tabari dalam Tarikh al-Rusul wal Muluk, bangsa Persia bahkan dikaitkan dengan garis keturunan Nabi Nuh AS melalui putranya, Yafits.
Meski bersifat genealogi religius, narasi ini menunjukkan bagaimana identitas bangsa Iran tidak hanya dibentuk oleh faktor geografis, tetapi juga oleh konstruksi sejarah dan kepercayaan.
Baca juga: Harta Rampasan Perang Khalid vs Hormuz: Fakta yang Jarang Dibahas
Bangsa Persia mencapai puncak kejayaannya pada masa Dinasti Akhemeniyah yang dipimpin oleh tokoh besar seperti Darius I.
Pada masa ini, Persia menjadi salah satu kekaisaran terbesar dalam sejarah dunia, membentang dari Asia Barat hingga sebagian Eropa dan Afrika.
Dalam berbagai prasasti kuno, Darius menyebut dirinya sebagai “Arya dari keturunan Arya”, yang menunjukkan kebanggaan identitas etnis sekaligus legitimasi politik.
Setelah runtuhnya Akhemeniyah akibat ekspansi Alexander the Great, wilayah Persia mengalami berbagai perubahan kekuasaan, mulai dari Seleukia hingga Parthia, sebelum akhirnya bangkit kembali di bawah Kekaisaran Sassanid.
Pada masa Sassanid, Persia kembali menjadi kekuatan besar yang menyaingi Romawi Timur. Sistem administrasi, militer, dan kebudayaan berkembang pesat, menjadikan Persia sebagai pusat peradaban yang berpengaruh di kawasan Asia Barat.
Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Persia memiliki struktur sosial yang kompleks. Dalam buku Tarikh al-Muslimin wa Hadharatuhum fi Asia Wustha wa Bilad Qawqaz karya Muhammad Abdul Azhim Abu An-Nashr, disebutkan bahwa wilayah Asia Tengah didominasi oleh berbagai kelompok etnis, termasuk Persia, Turki, dan Mongol.
Kota-kota seperti Bukhara menjadi pusat penting yang mencerminkan interaksi budaya dan perdagangan lintas wilayah. Bahkan sebelum Islam, kawasan ini sudah menjadi simpul peradaban yang dinamis.
Dalam aspek keagamaan, masyarakat Persia banyak menganut ajaran Zoroastrianisme, sebuah kepercayaan kuno yang menekankan dualisme antara kebaikan dan kejahatan.
Hal ini turut membentuk karakter spiritual masyarakat Persia sebelum transformasi besar yang datang kemudian.
Baca juga: Bertemu Dubes Iran, MUI Ungkap Iran Akan Permudah Kapal RI Lewati Selat Hormuz
Perubahan besar dalam sejarah Iran terjadi pada abad ke-7 M, ketika pasukan Muslim Arab mulai melakukan ekspansi ke wilayah Persia.
Puncaknya terjadi dalam Perang Nahavand sekitar tahun 642 M. Dalam buku Sejarah Penaklukan-Penaklukan Muslim yang Mengubah Wajah Dunia karya Yulian Harsono, dijelaskan bahwa pertempuran ini menjadi titik penentu runtuhnya Kekaisaran Sassanid.
Pasukan Muslim yang dipimpin oleh Nu'man bin Muqarrin menghadapi pasukan Persia yang dipimpin oleh Firuzan.
Meski jumlah pasukan Persia jauh lebih besar, strategi militer yang cermat berhasil membalikkan keadaan.
Taktik mundur semu yang digunakan pasukan Muslim memancing pasukan Persia keluar dari pertahanan mereka, sebelum akhirnya disergap di medan yang tidak menguntungkan.
Pertempuran ini berakhir dengan kekalahan telak Persia. Bahkan, peristiwa ini dijuluki sebagai “Kemenangan di Atas Kemenangan” karena dampaknya yang sangat besar.
Setelah kekalahan di Nahavand, kekuasaan Kekaisaran Sassanid praktis runtuh. Kaisar terakhir, Yazdegerd III, melarikan diri ke wilayah timur sebelum akhirnya terbunuh.
Runtuhnya kekaisaran ini membuka jalan bagi proses islamisasi di wilayah Persia. Namun proses ini tidak terjadi secara instan.
Dalam banyak kajian sejarah, islamisasi berlangsung secara bertahap melalui interaksi sosial, perdagangan, dan dakwah.
Dalam buku The Venture of Islam karya Marshall G.S. Hodgson, dijelaskan bahwa Persia justru memainkan peran penting dalam perkembangan peradaban Islam, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan, sastra, dan administrasi.
Baca juga: Asal Usul Hormuz hingga Duel Khalid bin Walid yang Mengubah Sejarah
Masuknya Islam tidak menghapus identitas Persia, tetapi justru berbaur dan melahirkan peradaban baru yang unik. Bahasa Persia tetap berkembang, bahkan menjadi salah satu bahasa penting dalam dunia Islam.
Tokoh-tokoh besar seperti Al-Ghazali dan Omar Khayyam lahir dari tradisi intelektual yang kuat di wilayah ini.
Transformasi dari Persia kuno menjadi Iran modern menunjukkan bahwa sejarah bukan sekadar pergantian kekuasaan, tetapi juga proses panjang pembentukan identitas.
Hari ini, Iran dikenal sebagai negara dengan warisan sejarah yang sangat kaya. Dari reruntuhan kota kuno hingga tradisi budaya yang masih hidup, jejak Persia tetap terasa kuat.
Namun di balik itu semua, terdapat satu pelajaran penting: bahwa peradaban besar tidak pernah berdiri diam. Ia terus bergerak, berubah, dan beradaptasi dengan zaman.
Dari suku Arya yang bermigrasi, kejayaan kekaisaran, hingga masuknya Islam, sejarah bangsa Iran adalah kisah panjang tentang identitas, kekuasaan, dan transformasi.
Dan dari medan Perang Nahavand, dunia menyaksikan bagaimana satu peradaban berakhir, sekaligus membuka babak baru dalam sejarah umat manusia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang