Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Standar Ketat Haji 2026, Makanan Jemaah Dicek 3 Kali Sehari

Kompas.com, 20 April 2026, 21:30 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Di balik kelancaran ibadah haji, ada satu aspek krusial yang kerap luput dari perhatian, kualitas konsumsi jemaah.

Menjelang kedatangan jemaah Indonesia di Madinah, pengawasan makanan menjadi prioritas utama demi menjaga kesehatan dan stamina selama menjalankan rangkaian ibadah.

Pemerintah Indonesia melalui tim pengawas dari Politeknik Pariwisata NHI Bandung menerapkan sistem pengawasan berlapis yang ketat.

Setiap proses, mulai dari bahan mentah hingga makanan tersaji di tangan jemaah, diperiksa secara menyeluruh tanpa kompromi.

Baca juga: Jelang Haji 2026, Arab Saudi Tangkap 14 Ribu Pelanggar dalam Sepekan

Tiga Tahap Pengawasan, Tanpa Celah

Pengawasan konsumsi jemaah dilakukan dalam tiga tahap utama: pra produksi, proses produksi, dan distribusi.

Setiap tahap memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang harus dipenuhi oleh penyedia katering di Arab Saudi.

Pada tahap pra produksi, tim memastikan bahan makanan dalam kondisi segar dan layak konsumsi. Bahan kering maupun segar diperiksa secara berkala untuk menghindari risiko kerusakan.

Memasuki tahap produksi, pengawasan dilakukan langsung saat proses memasak berlangsung. Bahkan, untuk memastikan kualitas makan pagi, tim sudah mulai bekerja sejak dini hari.

“Pengecekan dilakukan tiga kali sehari mengikuti jadwal makan jemaah,” ujar Nova MH, Perwakilan tim pengawas Poltekpar NHI Bandung di Madinah dilansir dari laman resmi Kemenhaj RI, Senin (20/4/2026).

Sementara pada tahap distribusi, makanan dipastikan tetap dalam kondisi higienis hingga tiba di hotel tempat jemaah menginap.

Dimasak Sejak Tengah Malam

Tak banyak yang tahu, proses penyediaan makanan jemaah haji dimulai jauh sebelum fajar menyingsing. Untuk makan pagi, pengawasan dilakukan sejak pukul 00.00 hingga 04.00 waktu setempat.

Aktivitas ini menunjukkan betapa seriusnya upaya menjaga kualitas konsumsi jemaah. Setiap detail diperhatikan, mulai dari kebersihan dapur, proses pengolahan, hingga penyajian akhir.

Langkah ini menjadi bagian dari sistem besar yang dirancang oleh Kementerian Agama Republik Indonesia dalam memastikan pelayanan terbaik bagi jemaah.

Baca juga: PPIH Pastikan Layanan Haji 2026 Siap, Jemaah Kloter Pertama Tiba 22 April di Madinah

Tantangan Cuaca Ekstrem Arab Saudi

Kondisi cuaca di Arab Saudi menjadi tantangan tersendiri. Suhu tinggi berpotensi mempercepat penurunan kualitas makanan jika tidak ditangani dengan tepat.

Karena itu, suhu makanan saat distribusi menjadi perhatian penting. Makanan harus berada pada kisaran 60–70 derajat Celsius agar tetap aman dikonsumsi dan tidak mudah basi.

Jemaah pun diimbau untuk segera mengonsumsi makanan setelah diterima. Penundaan makan, meskipun dalam kondisi tertutup, dapat memengaruhi kualitas dan keamanan pangan.

Menu Bergizi untuk Jaga Stamina Ibadah

Selain higienitas, kandungan gizi menjadi fokus utama. Menu disusun secara seimbang untuk memenuhi kebutuhan energi jemaah selama menjalani ibadah yang padat.

Sumber protein disediakan dari daging sapi, ayam, ikan, telur, hingga tempe, menu khas Indonesia yang tetap dihadirkan untuk menjaga selera makan.

Karbohidrat berasal dari nasi dengan porsi terukur, sementara vitamin dan serat dipenuhi dari sayur dan buah seperti wortel, kentang, apel, pir, dan pisang.

Tak hanya itu, variasi menu seperti puding juga ditambahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan serat harian.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip gizi seimbang yang dijelaskan dalam buku Ilmu Gizi dalam Daur Kehidupan karya Hardinsyah, yang menekankan pentingnya kombinasi nutrisi untuk menjaga daya tahan tubuh dalam aktivitas fisik intens.

Baca juga: Kebijakan Baru Arab Saudi, Sales Digaji Minimal Rp 23 Juta Per Bulan

Lebih dari Sekadar Makanan

Pengawasan konsumsi jemaah bukan hanya soal logistik, tetapi bagian penting dari keberhasilan ibadah haji secara keseluruhan.

Asupan yang sehat dan aman berkontribusi langsung pada kondisi fisik jemaah, sehingga mereka dapat menjalankan setiap rangkaian ibadah dengan optimal.

Dalam konteks ibadah di Makkah dan Madinah, stamina menjadi faktor kunci. Aktivitas seperti tawaf, sa’i, hingga wukuf membutuhkan energi yang tidak sedikit.

Komitmen Layanan untuk Jemaah Indonesia

Dengan sistem pengawasan berlapis ini, pemerintah berharap jemaah haji Indonesia dapat menjalani ibadah dengan lebih nyaman dan tenang.

Standar ketat yang diterapkan menjadi bukti komitmen dalam memberikan pelayanan terbaik di Tanah Suci.

Di balik setiap hidangan yang tersaji, ada kerja panjang yang dimulai sejak tengah malam, sebuah upaya sunyi demi memastikan jutaan langkah ibadah tetap kuat dan terjaga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kapan Idul Adha 2026? Cek Tanggalnya dan Potensi Libur Panjang 6 Hari
Kapan Idul Adha 2026? Cek Tanggalnya dan Potensi Libur Panjang 6 Hari
Aktual
Hadapi Cuaca Ekstrem, Ini 7 Alat Pelindung Diri Wajib Bagi Jemaah Haji
Hadapi Cuaca Ekstrem, Ini 7 Alat Pelindung Diri Wajib Bagi Jemaah Haji
Aktual
Standar Ketat Haji 2026, Makanan Jemaah Dicek 3 Kali Sehari
Standar Ketat Haji 2026, Makanan Jemaah Dicek 3 Kali Sehari
Aktual
 Embarkasi Jakarta-Pondok Gede Gunakan Fast Track Haji 2026, Jemaah Lebih Cepat Lewati Imigrasi
Embarkasi Jakarta-Pondok Gede Gunakan Fast Track Haji 2026, Jemaah Lebih Cepat Lewati Imigrasi
Aktual
 Satgas Haji Gagalkan 8 WNI Berangkat ke Tanah Suci Pakai Visa Non-Haji, Travel Nakal Diusut
Satgas Haji Gagalkan 8 WNI Berangkat ke Tanah Suci Pakai Visa Non-Haji, Travel Nakal Diusut
Aktual
Arab Saudi Siapkan Transportasi Haji 2026: 3,1 Juta Kursi dan 12.000 Penerbangan untuk Layani Tamu Allah
Arab Saudi Siapkan Transportasi Haji 2026: 3,1 Juta Kursi dan 12.000 Penerbangan untuk Layani Tamu Allah
Aktual
Kartu Nusuk untuk Haji 2026: Fungsi, Cara Pakai, dan Aturan Jika Kartu Hilang
Kartu Nusuk untuk Haji 2026: Fungsi, Cara Pakai, dan Aturan Jika Kartu Hilang
Aktual
Badan Karantina Kawal Distribusi Hewan Kurban via Tol Laut Jelang Idul Adha 2026
Badan Karantina Kawal Distribusi Hewan Kurban via Tol Laut Jelang Idul Adha 2026
Aktual
Bobby Nasution Tepung Tawari Calon Jemaah Haji Sumut, Pesan Jaga Kesehatan dan Titip Doa
Bobby Nasution Tepung Tawari Calon Jemaah Haji Sumut, Pesan Jaga Kesehatan dan Titip Doa
Aktual
Tradisi Tepuk Tepung Tawar Iringi Pelepasan Jemaah Haji, Simbol Syukur dan Doa
Tradisi Tepuk Tepung Tawar Iringi Pelepasan Jemaah Haji, Simbol Syukur dan Doa
Aktual
Kloter Pertama Haji 2026 Tiba di Madinah, PPIH Pastikan Layanan Siap
Kloter Pertama Haji 2026 Tiba di Madinah, PPIH Pastikan Layanan Siap
Aktual
Mei 2026 Banyak Libur! Ini Jadwal Cuti Selain Idul Adha dan Peluang Long Weekend
Mei 2026 Banyak Libur! Ini Jadwal Cuti Selain Idul Adha dan Peluang Long Weekend
Aktual
Ka'bah Berbalut Kain Putih, Tanda Resmi Haji 2026 Dimulai
Ka'bah Berbalut Kain Putih, Tanda Resmi Haji 2026 Dimulai
Aktual
214 Calon Haji Tangerang Batal Berangkat karena Tak Bisa Lunasi Biaya Haji
214 Calon Haji Tangerang Batal Berangkat karena Tak Bisa Lunasi Biaya Haji
Aktual
Jelang Haji 2026, Arab Saudi Tangkap 14 Ribu Pelanggar dalam Sepekan
Jelang Haji 2026, Arab Saudi Tangkap 14 Ribu Pelanggar dalam Sepekan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com