KOMPAS.com – Perjalanan menuju Tanah Suci bukan sekadar perpindahan jarak, melainkan awal dari rangkaian ibadah yang sarat makna.
Di fase ini, pesawat menjadi “ruang transisi” yang mempertemukan kesiapan fisik dan kematangan spiritual jemaah haji.
Durasi penerbangan yang bisa mencapai 9 hingga 11 jam menuntut pemahaman yang tepat tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama di dalam pesawat.
Tanpa pemahaman ini, perjalanan panjang berpotensi menjadi melelahkan, bahkan mengganggu kekhusyukan ibadah yang seharusnya mulai dibangun sejak keberangkatan.
Lantas, apa saja yang sebaiknya dilakukan dan dihindari jemaah haji selama di pesawat?
Baca juga: 118 Hotel Disiapkan di Madinah, Siap Tampung 103 Ribu Jemaah Haji Indonesia 2026
Dalam perspektif ibadah, perjalanan menuju haji sudah termasuk bagian dari proses spiritual. Dalam buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah terbitan Kementerian Haji dan Umrah RI dijelaskan bahwa sejak meninggalkan tanah air, jemaah dianjurkan menjaga adab, niat, serta amalan sebagai bentuk kesiapan menuju ibadah yang lebih besar.
Hal ini sejalan dengan pandangan ulama klasik seperti Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, yang menekankan bahwa setiap perjalanan ibadah harus dimulai dengan kesadaran batin, bukan sekadar aktivitas fisik.
Baca juga: Tata Cara Shalat di Pesawat untuk Jemaah Haji, Lengkap dengan Tayamum
Selama berada di dalam pesawat, jemaah tidak hanya diperbolehkan beraktivitas, tetapi juga dianjurkan melakukan hal-hal yang mendukung kesiapan ibadah.
Waktu panjang di udara menjadi kesempatan berharga untuk memperbanyak dzikir dan doa. Aktivitas ini membantu menenangkan hati sekaligus memperkuat niat.
Dalam buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq, dzikir dalam perjalanan disebut sebagai bentuk perlindungan spiritual sekaligus penguat hubungan seorang hamba dengan Allah.
Ketika waktu shalat tiba, jemaah tetap wajib menunaikannya meski berada di pesawat. Shalat dapat dilakukan dengan cara duduk, serta memanfaatkan keringanan berupa jamak dan qashar.
Ini sesuai dengan prinsip rukhsah dalam Islam yang memberikan kemudahan tanpa menghilangkan kewajiban.
Dalam kondisi keterbatasan air, tayamum menjadi solusi yang sah. Dalam Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd dijelaskan bahwa tayamum diperbolehkan ketika penggunaan air sulit atau berisiko.
Langkah ini memastikan ibadah tetap berjalan tanpa memberatkan.
Banyak maskapai menyediakan ceramah atau video manasik selama penerbangan. Ini menjadi kesempatan untuk memperdalam pemahaman ibadah.
Menurut Manajemen Penyelenggaraan Ibadah Haji karya M. Arifin, edukasi selama perjalanan sangat efektif meningkatkan kesiapan jemaah.
Istirahat cukup sangat penting untuk menjaga stamina. Perjalanan panjang tanpa istirahat dapat memengaruhi kondisi fisik saat tiba di Tanah Suci.
Duduk terlalu lama berisiko mengganggu peredaran darah. Oleh karena itu, jemaah dianjurkan melakukan peregangan ringan setiap beberapa jam.
Menjaga hidrasi tubuh sangat penting. Air putih lebih dianjurkan dibanding minuman berkafein yang dapat menyebabkan dehidrasi.
Kebersihan merupakan bagian dari iman. Menjaga area tempat duduk tetap rapi dan bersih mencerminkan adab seorang muslim dalam perjalanan.
Baca juga: Kumpulan Doa Berangkat Haji Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya
Selain memahami apa yang boleh dilakukan, jemaah juga perlu mengetahui larangan agar perjalanan tetap aman dan nyaman.
Berbicara keras, berjalan tanpa keperluan, atau bercanda berlebihan dapat mengganggu penumpang lain dan kru pesawat.
Merokok, termasuk vape, dilarang keras karena berisiko terhadap keselamatan penerbangan.
Instruksi keselamatan bukan formalitas. Mengabaikannya dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Perangkat elektronik harus dalam mode pesawat. Hal ini penting untuk menjaga sistem navigasi tetap aman.
Meski berjamaah dianjurkan, kondisi pesawat tidak memungkinkan. Lorong harus tetap steril sebagai jalur evakuasi.
Penggunaan air yang berlebihan dapat membahayakan keselamatan. Oleh karena itu, penggunaan air harus sangat bijak.
Barang berbahaya, cairan berlebih atau koper besar tidak diperbolehkan di kabin karena dapat mengganggu keselamatan.
Candaan yang menyinggung keamanan, seperti ancaman bom, bukan hal sepele. Ini dapat berujung pada tindakan hukum serius.
Baca juga: Apa Saja Rukun Haji? Ini 6 Rukun Penentu Sah Ibadah Haji
Perjalanan haji bukan hanya tentang tujuan akhir, tetapi juga proses menuju ke sana. Dalam The Hajj: Pilgrimage in Islam karya F.E. Peters, disebutkan bahwa perjalanan menuju haji sejak dahulu merupakan bagian integral dari pengalaman spiritual umat Islam.
Artinya, sikap selama perjalanan mencerminkan kualitas ibadah seseorang.
Menjaga ketertiban, menghormati sesama penumpang, serta menaati aturan bukan hanya soal disiplin, tetapi juga bagian dari akhlak dalam Islam.
Pesawat bukan sekadar alat transportasi, melainkan ruang latihan kesabaran, keikhlasan, dan kedisiplinan.
Di tengah keterbatasan ruang, waktu, dan kondisi, jemaah diuji untuk tetap menjaga ibadah dan adab. Justru dalam situasi seperti inilah nilai spiritual semakin terasa.
Perjalanan panjang menuju Tanah Suci pada akhirnya bukan hanya soal jarak yang ditempuh, tetapi tentang bagaimana seorang muslim mempersiapkan dirinya, lahir dan batin untuk menjadi tamu Allah yang sesungguhnya.
Dengan memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama di pesawat, jemaah tidak hanya memastikan perjalanan yang aman dan nyaman, tetapi juga membuka jalan menuju ibadah haji yang lebih khusyuk dan bermakna.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang