KOMPAS.com – Dalam setiap peringatan Idul Adha, umat Islam kerap mengingat kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan ketaatan Nabi Ismail.
Namun, di balik peristiwa agung tersebut, ada satu sosok yang sering luput dari sorotan, yaitu Siti Hajar, seorang perempuan yang keteguhan imannya menjadi fondasi penting dalam sejarah ibadah haji.
Kisahnya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan refleksi mendalam tentang keteguhan, kesabaran, dan peran perempuan dalam membangun peradaban spiritual.
Baca juga: Makna Idul Adha Menurut Al-Qur’an: Jejak Ketakwaan, Pengorbanan, dan Kepedulian Sosial
Perjalanan dimulai ketika Nabi Ibrahim membawa Siti Hajar dan putranya, Nabi Ismail, ke sebuah lembah tandus yang kelak dikenal sebagai Mekkah. Tanpa sumber air dan kehidupan, tempat itu tampak mustahil untuk ditinggali.
Dalam berbagai riwayat, momen ketika Siti Hajar ditinggalkan menjadi titik penting. Ia tidak memberontak, tetapi bertanya dengan keyakinan: “Apakah ini perintah Allah?” Ketika jawabannya “ya”, ia pun menerima dengan penuh tawakal.
Dari sinilah dimulai pelajaran besar: iman bukan sekadar keyakinan, tetapi keberanian untuk percaya di tengah ketidakpastian.
Baca juga: 9 Tokoh Perempuan Muslim Indonesia yang Menginspirasi hingga Dunia
Ketika persediaan air habis dan tangisan Nabi Ismail semakin lirih, Siti Hajar berlari antara Bukit Safa dan Bukit Marwah sebanyak tujuh kali.
Gerakan ini bukan sekadar usaha fisik, tetapi simbol keteguhan seorang ibu yang tidak menyerah pada keadaan.
Hingga akhirnya, atas izin Allah, muncullah Air Zamzam, sumber kehidupan yang terus mengalir hingga hari ini.
Peristiwa ini kemudian diabadikan dalam rukun haji, yaitu sa’i. Artinya, perjuangan seorang perempuan diabadikan menjadi bagian inti ibadah umat Islam sepanjang masa.
Ketika Nabi Ismail beranjak remaja, ujian berikutnya datang. Nabi Ibrahim menerima perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya.
Dalam Al-Qur’an (QS. Ash-Shaffat: 102), Nabi Ismail dengan penuh ketaatan berkata: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”
Namun menariknya, Al-Qur’an tidak secara eksplisit mengisahkan reaksi Siti Hajar. Di sinilah perspektif reflektif menjadi penting.
Sebagai seorang ibu yang sebelumnya telah melalui ujian berat di padang tandus, dapat dipahami bahwa keimanan Siti Hajar telah mencapai tingkat keteguhan luar biasa.
Ia telah belajar bahwa setiap perintah Allah selalu mengandung hikmah, meski melampaui logika manusia.
Dalam perspektif keimanan, diamnya Siti Hajar bukan berarti pasif, melainkan bentuk penerimaan tertinggi terhadap kehendak Ilahi.
Baca juga: Kartini Bukan Sekadar Simbol, Ini Peran Nyatanya bagi Muslimah Kini
Peristiwa penyembelihan yang akhirnya digantikan oleh hewan kurban menjadi dasar perayaan Idul Adha.
Namun, jika ditarik lebih dalam, Idul Adha bukan hanya tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Ia juga tentang Siti Hajar, tentang bagaimana seorang perempuan mampu menanggung beban ujian dengan iman yang kokoh.
Dalam konteks ini, pengorbanan tidak hanya berbentuk tindakan, tetapi juga kesabaran, keteguhan hati, dan keikhlasan menerima takdir.
Jika ditarik ke konteks kehidupan yang lebih luas, kisah Siti Hajar menghadirkan gambaran utuh tentang perjuangan seorang ibu yang tidak hanya berperan dalam ranah domestik, tetapi juga menjadi penopang lahirnya peradaban.
Dalam sunyi dan keterbatasan, ia menunjukkan bahwa kekuatan perempuan tidak selalu tampak dalam sorotan, melainkan hadir dalam keteguhan, kesabaran, dan keyakinan yang tidak tergoyahkan.
Seorang ibu, dalam banyak peradaban, adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ia menanamkan nilai, membentuk karakter, sekaligus menjaga arah kehidupan keluarga.
Apa yang dilakukan Siti Hajar di lembah tandus bukan sekadar upaya bertahan hidup, tetapi juga fondasi bagi perjalanan spiritual yang kelak menjadi bagian inti ibadah umat Islam.
Dalam konteks modern, semangat ini menemukan relevansinya. Perempuan hari ini tidak lagi hanya dihadapkan pada keterbatasan fisik, tetapi juga tantangan intelektual dan sosial.
Di titik inilah, lahir gagasan tentang pentingnya perempuan untuk berpikir, belajar, dan mengambil peran aktif dalam masyarakat, sebuah semangat yang kemudian diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini.
Meski hidup dalam ruang dan waktu yang berbeda, keduanya memiliki benang merah yang sama: perempuan bukan sekadar pelengkap, melainkan penggerak perubahan.
Jika gagasan emansipasi berbicara tentang “terang” dalam dimensi ilmu dan sosial, maka kisah Siti Hajar menghadirkan “terang” dalam bentuk ketauhidan, kesabaran, dan keteguhan iman.
Dari sinilah dapat dipahami bahwa perjuangan seorang ibu bukan hanya tentang pengorbanan, tetapi juga tentang membangun generasi, menjaga nilai, dan menghadirkan cahaya di tengah berbagai keterbatasan.
Baca juga: Jarang Dibahas, Saat Muslimah Pimpin Ilmu Dunia di Era Keemasan Islam
Kisah Siti Hajar mengajarkan bahwa perempuan memiliki peran sentral, baik dalam keluarga maupun dalam membangun peradaban.
Ia adalah simbol ketahanan, keberanian, dan keyakinan. Dari lembah tandus di Mekkah, ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menghadirkan perubahan besar.
Di era modern, tantangan perempuan mungkin berbeda—bukan lagi soal bertahan di gurun, tetapi menghadapi arus informasi, tekanan sosial, dan kompleksitas kehidupan.
Namun prinsipnya tetap sama, iman, ilmu, dan keteguhan adalah kunci.
Kisah ini pada akhirnya bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah cermin bagi masa kini.
Bahwa di balik setiap ibadah besar dalam Islam, terdapat jejak perjuangan manusia, termasuk perempuan yang sering kali tersembunyi, tetapi memiliki makna yang sangat dalam.
Dan mungkin, di situlah letak pelajaran terpentingnya bahwa keteguhan iman seorang perempuan bisa menjadi fondasi bagi lahirnya peradaban yang besar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang