KOMPAS.com – Persiapan penyelenggaraan ibadah haji 2026 terus dimatangkan oleh pemerintah Arab Saudi.
Di tengah meningkatnya jumlah jemaah dari berbagai negara, sektor transportasi menjadi salah satu fokus utama yang digarap secara serius.
Tahun ini, Arab Saudi tidak hanya menargetkan kelancaran ibadah, tetapi juga menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih efisien, aman, dan terintegrasi.
Salah satu langkah strategis yang disiapkan adalah penyediaan kapasitas penerbangan dalam jumlah besar.
Baca juga: Daftar Layanan Terbaru Haji 2026 di Arab Saudi, dari Teknologi Canggih hingga Penitipan Anak
Dilansir dari The Islamic Information, melalui Kementerian Transportasi dan Logistik, pemerintah Arab Saudi mengalokasikan lebih dari 3,1 juta kursi penerbangan yang akan dilayani oleh lebih dari 12.000 penerbangan, baik reguler maupun charter.
Langkah ini menjadi respons atas tingginya antusiasme umat Islam dunia untuk menunaikan ibadah haji, yang setiap tahunnya terus menunjukkan tren peningkatan.
Menurut laporan dari Kementerian Transportasi dan Logistik Arab Saudi, penyediaan kapasitas besar ini dirancang untuk mengurangi kepadatan, mempercepat proses kedatangan, serta memastikan distribusi jemaah berjalan merata.
Sebanyak enam bandara utama akan difungsikan sebagai gerbang masuk jemaah, termasuk bandara di Jeddah dan Madinah yang selama ini menjadi titik utama kedatangan.
Tidak hanya itu, lebih dari 22.000 petugas operasional disiagakan untuk mengelola arus jemaah, mulai dari proses imigrasi, bagasi, hingga pengaturan jadwal penerbangan.
Peran maskapai penerbangan nasional menjadi krusial dalam menyukseskan operasional haji 2026.
Saudia Airlines disebut akan menyediakan lebih dari satu juta kursi bagi jemaah dari berbagai negara.
Maskapai ini juga memperkuat layanan berbasis digital, seperti sistem reservasi terintegrasi, check-in otomatis, hingga peningkatan fasilitas di dalam pesawat.
Selain itu, Flynas turut ambil bagian dengan menargetkan pengangkutan ratusan ribu jemaah, termasuk lebih dari 147.000 penumpang dari sekitar 20 rute internasional.
Kehadiran dua maskapai ini menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara permintaan dan kapasitas, terutama pada periode puncak keberangkatan dan kepulangan.
Salah satu inovasi yang mulai diterapkan adalah konsep “baggage-free traveller”, di mana koper jemaah dapat dikirim langsung dari hotel ke bandara tujuan.
Skema ini dinilai mampu mengurangi beban fisik jemaah sekaligus mempercepat alur mobilitas.
Baca juga: Kabar Baik bagi Jemaah Haji! Arab Saudi Hadirkan Layanan Cek Kepadatan Tawaf Secara Real Time
Tidak hanya transportasi udara, mobilitas jemaah di dalam wilayah Arab Saudi juga menjadi perhatian besar.
Pemerintah menyiapkan sistem transportasi darat dan rel yang terintegrasi untuk menghubungkan lokasi-lokasi utama ibadah.
Kereta Mashair diproyeksikan mampu melayani lebih dari dua juta penumpang selama musim haji. Kereta ini menjadi penghubung vital antara Mina, Arafah, dan Muzdalifah.
Sementara itu, Kereta Cepat Haramain menyediakan sekitar 2,2 juta kursi yang menghubungkan Mekah dan Madinah dalam waktu singkat.
Selain jalur rel, pemerintah juga menyiapkan sekitar 33.000 bus dan 5.000 taksi untuk menunjang mobilitas jemaah di berbagai titik.
Perbaikan infrastruktur jalan turut dilakukan secara masif, termasuk pembersihan lebih dari 56 juta meter kubik pasir serta pemasangan ribuan rambu lalu lintas untuk meningkatkan keselamatan dan kelancaran arus kendaraan.
Dalam skala operasional sebesar ini, pengawasan menjadi faktor krusial. Pemerintah Arab Saudi menyiagakan tim pemantau yang bekerja secara real-time untuk memastikan seluruh layanan berjalan sesuai standar.
Selain itu, tim tanggap darurat disebar di berbagai sektor transportasi, baik udara maupun darat, dengan sistem siaga 24 jam.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep manajemen kerumunan (crowd management) modern. Dalam buku Crowd Science: Theory and Practice karya G. Keith Still, dijelaskan bahwa pengelolaan massa dalam jumlah besar membutuhkan koordinasi lintas sektor, termasuk transportasi, keamanan, dan teknologi informasi.
Baca juga: PPIH Arab Saudi Siapkan 6.000 Bus untuk Angkut Jemaah Haji Indonesia 2026
Transformasi layanan haji dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan signifikan. Arab Saudi tidak hanya fokus pada aspek ritual, tetapi juga pada efisiensi sistem dan pengalaman jemaah secara keseluruhan.
Dalam buku Hajj and the Muslim World karya Michael Wolfe, dijelaskan bahwa ibadah haji merupakan salah satu pertemuan manusia terbesar di dunia yang menuntut manajemen logistik tingkat tinggi. Oleh karena itu, inovasi dalam transportasi dan teknologi menjadi keniscayaan.
Langkah penyediaan 12.000 lebih penerbangan ini menjadi bukti bahwa penyelenggaraan haji kini tidak lagi sekadar urusan keagamaan, tetapi juga melibatkan sistem global yang kompleks.
Di balik angka jutaan kursi dan ribuan penerbangan, terdapat satu tujuan utama: memudahkan perjalanan spiritual jutaan umat Islam.
Bagi para jemaah, perjalanan haji bukan sekadar mobilitas fisik, tetapi juga perjalanan batin menuju puncak pengabdian.
Karena itu, setiap kemudahan yang disiapkan menjadi bagian dari upaya menghadirkan ibadah yang lebih khusyuk.
Dengan berbagai persiapan yang terus dimatangkan, musim haji 2026 diproyeksikan menjadi salah satu penyelenggaraan terbesar dan paling terorganisir dalam sejarah modern.
Dan di balik semua itu, tersimpan satu harapan sederhana, agar setiap langkah jemaah menuju Tanah Suci menjadi lebih ringan, aman, dan penuh makna.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang