KOMPAS.com – Di tengah lautan manusia yang thawaf mengelilingi Ka'bah, ada satu pemandangan yang kerap mencuri perhatian, kawanan merpati yang terbang rendah, berputar dengan tenang di pelataran Masjidil Haram.
Bagi sebagian jemaah, kehadiran burung-burung ini bukan sekadar pelengkap suasana. Ia terasa seperti bagian dari ketenangan spiritual yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Namun di balik itu, merpati “Al-Haram” menyimpan kisah panjang dari sejarah, keunikan biologis, hingga nilai keagamaan yang membuatnya begitu dihormati.
Lantas, dari mana sebenarnya asal-usul merpati di Tanah Suci dan benarkah mereka tidak pernah mengotori area Ka'bah?
Keberadaan merpati di sekitar Makkah bukan fenomena baru. Dalam berbagai catatan sejarah dan tradisi lisan, burung ini telah hidup berdampingan dengan manusia sejak ratusan tahun lalu.
Sejumlah literatur klasik menyebutkan bahwa kawasan haram (tanah suci) memang memiliki aturan khusus terhadap makhluk hidup di dalamnya.
Dalam kitab Fiqh As-Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa wilayah haram memiliki kehormatan tersendiri, termasuk larangan memburu hewan atau merusak habitatnya.
Hal ini membuat merpati di sekitar Masjidil Haram tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang relatif aman dari gangguan manusia.
Tak hanya itu, sebagian riwayat populer di kalangan umat Islam mengaitkan merpati dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad, ketika burung disebut-sebut membantu menyamarkan keberadaan beliau di Gua Tsur.
Meski kisah ini lebih bersifat simbolik dalam tradisi populer, ia memperkuat posisi merpati sebagai makhluk yang dihormati.
Jika diperhatikan lebih dekat, merpati di Masjidil Haram memiliki karakteristik yang cukup khas.
Warna bulunya cenderung didominasi abu-abu kebiruan, dengan gradasi yang halus di bagian leher yang tampak berkilau saat terkena cahaya.
Garis hitam pada sayap dan ekor menjadi penanda visual yang membedakannya dari merpati kota pada umumnya. Posturnya juga terlihat lebih tegap, dengan gerakan yang cenderung tenang.
Namun yang paling mencolok bukan hanya fisiknya, melainkan perilakunya.
Baca juga: 3 Fakta Penting di Masjid Nabawi yang Wajib Diketahui Jemaah Haji, Nomor 1 Sering Disalahpahami!
Berbeda dengan burung liar di banyak tempat, merpati di sekitar Ka'bah tampak sangat terbiasa dengan kehadiran manusia. Mereka tidak mudah terbang menjauh saat didekati, bahkan sering berjalan di antara jemaah.
Fenomena ini tidak terjadi secara instan. Lingkungan yang aman, larangan berburu, serta interaksi positif selama bertahun-tahun membentuk perilaku adaptif tersebut.
Dalam perspektif sosiologi lingkungan, hubungan semacam ini menunjukkan bagaimana makhluk hidup dapat membangun pola interaksi harmonis ketika tidak ada ancaman.
Salah satu klaim paling populer tentang merpati Al-Haram adalah bahwa mereka tidak mengotori area sekitar Ka'bah.
Secara ilmiah, klaim ini sulit dibuktikan secara absolut. Namun secara empiris, banyak jemaah dan petugas kebersihan Masjidil Haram mengakui bahwa sangat jarang ditemukan kotoran burung di area thawaf.
Ada beberapa kemungkinan penjelasan:
Pertama, pola terbang dan kebiasaan merpati yang cenderung menjauh saat hendak buang kotoran.
Kedua, sistem kebersihan Masjidil Haram yang sangat ketat dan terus menerus.
Ketiga, pengelolaan habitat burung yang terkontrol.
Terlepas dari penjelasan ilmiah, banyak jemaah memaknainya sebagai bagian dari keistimewaan Tanah Suci, sebuah simbol bahwa tempat tersebut dijaga dalam berbagai cara.
Baca juga: Apa Itu Mandi Ihram? Ini Hukum, Niat, dan Tata Caranya Sebelum Haji dan Umrah
Pemerintah Arab Saudi tidak membiarkan populasi merpati berkembang tanpa pengelolaan. Di sekitar Masjidil Haram, dibangun menara dan tempat khusus sebagai habitat burung.
Langkah ini bertujuan menjaga keseimbangan antara keberadaan satwa dan kenyamanan jemaah.
Selain itu, terdapat pula sistem pemberian pakan yang teratur, bahkan dalam beberapa kasus didukung oleh dana wakaf.
Dalam buku Manajemen Haji Modern karya Ahmad Sarwat, dijelaskan bahwa pengelolaan lingkungan di kawasan haji mencakup berbagai aspek, termasuk fauna, demi menjaga kenyamanan jutaan jemaah.
Dalam Islam, kawasan haram memiliki hukum khusus. Tidak hanya manusia yang dihormati, tetapi juga makhluk hidup di dalamnya.
Larangan membunuh hewan, merusak tanaman, hingga mengganggu ekosistem menjadi bagian dari aturan yang telah ada sejak masa awal Islam.
Dalam konteks ini, merpati bukan hanya burung biasa, melainkan bagian dari ekosistem suci yang harus dijaga.
Bahkan dalam beberapa literatur fikih disebutkan adanya konsekuensi (denda) bagi pelanggaran terhadap makhluk hidup di wilayah haram.
Di tengah jutaan manusia yang datang dari berbagai penjuru dunia, merpati Masjidil Haram menghadirkan kontras yang menenangkan.
Gerakannya yang lembut, suaranya yang pelan, dan keberaniannya mendekati manusia menciptakan suasana damai yang sulit ditemukan di tempat lain.
Bagi banyak jemaah, melihat merpati beterbangan di sekitar Ka'bah bukan sekadar pengalaman visual, tetapi juga pengalaman batin.
Pada akhirnya, merpati Al-Haram bukan hanya soal keunikan biologis atau cerita sejarah. Ia menjadi bagian dari pengalaman spiritual yang utuh saat berada di Tanah Suci.
Dari jejak sejarah hingga perlindungan agama, dari perilaku unik hingga makna simbolik, semua berpadu membentuk satu kesan: bahwa bahkan makhluk kecil sekalipun memiliki tempat dalam harmoni besar di sekitar Ka'bah.
Dan mungkin, di situlah letak keistimewaannya, bukan karena ia berbeda, tetapi karena ia menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang