Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

4 Keistimewaan Hari Jumat, Dari Nabi Adam hingga Waktu Mustajab

Kompas.com, 24 April 2026, 10:59 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Di tengah ritme kehidupan yang padat, Jumat hadir bukan sekadar pergantian hari dalam kalender mingguan.

Ia membawa nuansa yang berbeda, lebih tenang, lebih sakral, dan lebih dekat dengan nilai-nilai spiritual.

Tak heran jika banyak umat Islam menyebutnya sebagai “Jumat Mubarak” atau hari yang diberkahi.

Sebutan ini bukan sekadar tradisi, tetapi berakar kuat dalam ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad.

Dalam berbagai riwayat, Jumat disebut sebagai hari terbaik di mana matahari terbit. Keistimewaan ini bukan tanpa alasan.

Berikut empat penjelasan utama yang menunjukkan mengapa Jumat memiliki kedudukan istimewa dalam Islam.

Baca juga: Hukum Tidur Saat Khutbah Jumat, Batal Wudhu atau Tetap Sah?

Hari Penciptaan Nabi Adam dan Peristiwa Besar Umat Manusia

Salah satu alasan utama keistimewaan Jumat adalah keterkaitannya dengan peristiwa besar dalam sejarah manusia.

Dalam hadits yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa pada hari Jumat Nabi Adam diciptakan, dimasukkan ke dalam surga, dan kemudian diturunkan ke bumi.

Peristiwa ini menjadikan Jumat bukan hanya hari biasa, melainkan simbol awal perjalanan manusia di dunia.

Bahkan, dalam penjelasan ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fath al-Bari, disebutkan bahwa beberapa peristiwa besar lain, termasuk hari kiamat, juga berkaitan dengan Jumat. Ini menegaskan bahwa Jumat adalah hari yang memiliki dimensi historis sekaligus eskatologis.

Jumat sebagai Sayyidul Ayyam (Pemimpin Segala Hari)

Dalam ajaran Islam, Jumat dikenal sebagai sayyidul ayyam atau pemimpin seluruh hari. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah yang menyebutkan bahwa Jumat adalah hari paling agung di sisi Allah, bahkan lebih utama dibandingkan Idul Fitri dan Idul Adha.

Pandangan ini diperkuat oleh pemikiran Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, yang menyebut Jumat sebagai momentum spiritual mingguan.

Ia ibarat “hari raya kecil” yang datang setiap pekan, memberikan kesempatan bagi manusia untuk memperbarui iman, memperbanyak ibadah, dan memperbaiki hubungan dengan Allah serta sesama manusia.

Baca juga: 3 Kali Tinggalkan Shalat Jumat, Benarkah Jadi Kafir? Ini Peringatan Rasulullah

Adanya Waktu Mustajab untuk Berdoa

Keistimewaan lain dari hari Jumat adalah adanya satu waktu mustajab, yaitu waktu di mana doa memiliki peluang besar untuk dikabulkan.

Dalam hadits disebutkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu saat di mana tidak ada seorang Muslim berdoa kecuali Allah akan mengabulkannya, selama tidak meminta hal yang haram.

Para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai waktu tersebut. Namun menurut An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar, waktu mustajab yang paling kuat adalah setelah shalat Ashar hingga menjelang Maghrib.

Perbedaan ini justru menjadi hikmah agar umat Islam memperbanyak doa sepanjang hari Jumat.

Dengan demikian, Jumat bukan hanya hari ibadah wajib, tetapi juga hari penuh harapan—di mana doa-doa yang selama ini dipanjatkan memiliki peluang lebih besar untuk dikabulkan.

Malam Jumat yang Penuh Keberkahan

Keutamaan Jumat tidak hanya terbatas pada siang hari, tetapi juga dimulai sejak malamnya. Malam Jumat, yang dimulai sejak Kamis malam, memiliki nilai spiritual tersendiri dalam tradisi Islam.

Dalam kitab Al-Furu’, Ibnu Muflih menjelaskan bahwa sebagian ulama memandang malam Jumat memiliki keutamaan karena ia datang secara rutin dan menjadi bagian dari hari terbaik dalam Islam.

Walaupun tidak melebihi Lailatul Qadar, malam Jumat tetap dianggap sebagai waktu yang baik untuk memperbanyak ibadah seperti membaca Al-Qur’an dan bershalawat.

Baca juga: 7 Sunnah Sebelum Shalat Jumat yang Sering Terlewat, Ini Dalilnya

Jumat sebagai Momentum Memperbaiki Diri

Dengan berbagai keistimewaan tersebut, jelas bahwa Jumat bukan sekadar hari biasa. Ia adalah momentum spiritual yang berulang setiap pekan, mengajak manusia untuk berhenti sejenak dari urusan dunia dan kembali mengingat tujuan hidup yang sesungguhnya.

Memuliakan Jumat tidak cukup hanya dengan ucapan “Jumat Berkah”, tetapi perlu diwujudkan melalui amal nyata, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan memperbanyak doa.

Di tengah kehidupan yang terus bergerak cepat, Jumat adalah kesempatan yang selalu datang kembali. Pertanyaannya, sudahkah kita benar-benar memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Abdullah bin Umar, Periwayat 2.630 Hadits yang Sangat Hati-Hati
Abdullah bin Umar, Periwayat 2.630 Hadits yang Sangat Hati-Hati
Aktual
MUI Minta Jemaah Haji Doakan RI di Tanah Suci, Ini Pesannya
MUI Minta Jemaah Haji Doakan RI di Tanah Suci, Ini Pesannya
Aktual
Perintah Sudah Turun, Tapi Nabi Menunda Haji 4 Tahun, Kenapa?
Perintah Sudah Turun, Tapi Nabi Menunda Haji 4 Tahun, Kenapa?
Aktual
4 Keistimewaan Hari Jumat, Dari Nabi Adam hingga Waktu Mustajab
4 Keistimewaan Hari Jumat, Dari Nabi Adam hingga Waktu Mustajab
Aktual
Bolehkah Setelah Mandi Junub Langsung Shalat Tanpa Wudhu? Ini Penjelasan Sesuai Syariat
Bolehkah Setelah Mandi Junub Langsung Shalat Tanpa Wudhu? Ini Penjelasan Sesuai Syariat
Aktual
Hukum Tidur Saat Khutbah Jumat, Batal Wudhu atau Tetap Sah?
Hukum Tidur Saat Khutbah Jumat, Batal Wudhu atau Tetap Sah?
Aktual
Khutbah Jumat Singkat 24 April 2026: Memaknai Bulan Dzulqa’dah sebagai Momentum Damai dan Introspeksi
Khutbah Jumat Singkat 24 April 2026: Memaknai Bulan Dzulqa’dah sebagai Momentum Damai dan Introspeksi
Aktual
Khutbah Jumat 24 April 2026: Menyiapkan Bekal Akhirat Sebelum Datang Kematian
Khutbah Jumat 24 April 2026: Menyiapkan Bekal Akhirat Sebelum Datang Kematian
Aktual
Kisah Mak Emen: 60 Tahun Nabung dari Jual Ikan Asin, Akhirnya Tiba di Tanah Suci
Kisah Mak Emen: 60 Tahun Nabung dari Jual Ikan Asin, Akhirnya Tiba di Tanah Suci
Aktual
Tagihan Listrik Masjidil Haram Tembus Rp 64 Miliar per Bulan, Ini Penyebabnya
Tagihan Listrik Masjidil Haram Tembus Rp 64 Miliar per Bulan, Ini Penyebabnya
Aktual
Polisi Makkah Tangkap Sindikat Penipuan Haji, Iklan Palsu Beredar di Media Sosial
Polisi Makkah Tangkap Sindikat Penipuan Haji, Iklan Palsu Beredar di Media Sosial
Aktual
Khutbah Jumat 24 April 2026: Bahaya Takabur dan Pentingnya Menjaga Hati dari Kesombongan
Khutbah Jumat 24 April 2026: Bahaya Takabur dan Pentingnya Menjaga Hati dari Kesombongan
Aktual
The Great Silence of Piety: Risiko di Balik Kesabaran Jamaah Haji dari Desa
The Great Silence of Piety: Risiko di Balik Kesabaran Jamaah Haji dari Desa
Aktual
Hukum Daging Ham, Haram atau Halal? Berikut Penjelasan Komisi Fatwa MUI
Hukum Daging Ham, Haram atau Halal? Berikut Penjelasan Komisi Fatwa MUI
Aktual
Link Download Qur’an Kemenag Add-ins untuk PowerPoint, Permudah Sisipkan Ayat dan Terjemahan ke Presentasi
Link Download Qur’an Kemenag Add-ins untuk PowerPoint, Permudah Sisipkan Ayat dan Terjemahan ke Presentasi
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com