Editor
KOMPAS.com-Khutbah Jumat kali ini disampaikan oleh KH Nur Rohmad, Ketua Komisi Dakwah MUI Kabupaten Mojokerto, dengan mengangkat tema tentang pentingnya menjaga hati dari sifat takabur.
Melalui khutbah yang ditulis di laman MUI ini, jamaah diajak untuk memahami bahwa kesombongan merupakan penyakit hati yang berbahaya dan dapat merusak amal ibadah.
Khutbah ini juga mengingatkan bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan, sehingga penting untuk senantiasa menjaga sikap rendah hati dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Ibadah Haji, Ora Mung Lunga, Nanging Ngganti Diri
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُوْلَى وَالْآخِرَةِ، أَحْمَدُهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، هَدَى بِإِذْنِ رَبِّهِ الْقُلُوْبَ الْحَائِرَةَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ نُجُوْمِ الدُّجَى وَالْبُدُوْرِ السَّافِرَةِ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ (وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولٗا. وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّكَ لَن تَخۡرِقَ ٱلۡأَرۡضَ وَلَن تَبۡلُغَ ٱلۡجِبَالَ طُولٗا. كُلُّ ذَٰلِكَ كَانَ سَيِّئُهُۥ عِندَ رَبِّكَ مَكۡرُوهٗا)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Tiada kata yang pantas menghiasi bibir kita di hari yang mulia ini selain lantunan pujian kepada Allah SWT, teriring dengan shalawat dan salam kepada Baginda Rasulullah SAW.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Pada ayat-ayat yang telah saya baca, ditegaskan bahwa seseorang akan dihisab (dimintai pertanggungjawaban) atas pendengaran, penglihatan dan hatinya sebagaimana ia akan dihisab atas seluruh anggota badannya. Karena hati adalah pemimpin anggota badan, maka perbuatan-perbuatan anggota badan mencerminkan apa yang ada di hati.
Jika hati baik, maka anggota badan menjadi baik, dan jika hati rusak, maka rusak pula seluruh anggota badan. Hati tidak akan menjadi baik kecuali ketika bersih dari penyakit-penyakit dan disembuhkan dari penyakit-penyakit tersebut.
Di antara penyakit hati yang dilarang, sebagaimana terdapat dalam ayat 37 surat Al-Isra’, adalah bersikap takabur terhadap hamba-hamba Allah.
Jangan sampai kita berjalan dengan gaya jalan penuh dengan kesombongan, karena kita tidak akan menembus bumi dengan injakan dan kuatnya pijakan kaki kita. Kita juga tidak akan mencapai ketinggian gunung dengan kesombongan kita dan tidak akan menyamai kekuatan dan kekokohan gunung tersebut.
Baca juga: Bacaan Doa Khutbah Jumat Lengkap: Pembuka, Penutup, dan Tata Caranya
Hadirin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,
Adapun pengertian takabur adalah seperti yang ditegaskan oleh Nabi SAW. Beliau bersabda:
الكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Artinya: “Takabur adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR Muslim)
Berdasarkan hadis ini, dipahami bahwa orang yang takabur ada dua macam:
Pertama, seseorang yang menolak kebenaran yang disampaikan orang lain, padahal ia tahu bahwa kebenaran ada pada orang tersebut.
Ia menolaknya karena orang yang menyampaikan kebenaran itu lebih muda darinya atau lebih rendah kedudukannya, sehingga ia merasa berat untuk mengikuti kebenaran itu. Padahal, ketahuilah, bahwa Fir’aun tidaklah binasa kecuali karena sifat takaburnya.
Fir’aun telah melihat sekian banyak mukjizat Nabi Musa ‘alaihissalam, namun ia tidak beriman kepada Nabi Musa. Bahkan Haman, perdana menteri Fir’aun, ketika itu berkata kepada Fir’aun: “Jika engkau beriman kepada Musa, maka engkau akan kembali menjadi hamba yang menyembah, padahal selama ini engkau sudah menjadi tuhan yang disembah.”
Demikian pula Bani Israel, yang mana diutus kepada mereka Nabi Isa ‘alaihissalam. Setelah mereka melihat mukjizat Nabi Isa, tidak ada yang membuat mereka tidak beriman kecuali sifat takabur. Mereka selalu mengatakan bahwa jika mereka beriman, maka akan lenyaplah kehormatan dan kekuasaan mereka.
Demikian pula Abu Lahab dan tokoh-tokoh kafir Quraisy. Setelah mereka melihat mukjizat Alquran dan mengakui bahwa Alquran tidak seperti puisi dan prosa yang mereka kenal, tidak ada yang membinasakan mereka dan membuat mereka tidak beriman kecuali sifat takabur.
Kedua, jenis orang takabur yang menganggap dirinya memiliki keistimewaan yang melebihi orang lain. Ia melihat dirinya dengan pandangan kesempurnaan dan penuh kebaikan. Ia lupa bahwa itu semua sejatinya adalah pemberian Allah kepadanya.
Dengan kelebihan itu, ia lalu bersikap congkak kepada sesama hamba Allah dan merendahkan mereka, karena menurutnya, ia jauh lebih tinggi martabatnya, lebih banyak hartanya atau lebih tampan daripada mereka, yang jelas merasa lebih baik daripada yang lainnya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Merendahkan orang lain tidak hanya bisa dilakukan oleh orang kaya dan penguasa saja. Sebaliknya, bisa juga dilakukan oleh siapa pun.
Seorang suami bisa saja menganggap istrinya tidak memahami suatu persoalan, sehingga dia merendahkan istrinya dalam hatinya dan berperilaku sombong kepadanya tanpa ia sadari.
Seorang ayah bisa saja menganggap anaknya lebih rendah darinya dalam pengetahuan dan pengalaman, sehingga ia merendahkan anaknya dalam hatinya tanpa ia sadari.
Seorang guru bisa saja menganggap murid-muridnya berada di bawahnya dalam hal ilmu dan pemahaman, sehingga ia merendahkan mereka dalam hatinya tanpa ia sadari.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Allah telah melarang sifat takabur terhadap sesama hamba. Saat mengisahkan nasihat Lukman kepada anaknya, Allah SWT berfirman:
وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُور
Artinya: “Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)
Makna ayat ini bisa diperluas: janganlah kita berpaling dari orang-orang di sekitar kita dengan bersikap sombong. Menghadaplah kepada mereka dengan muka seutuhnya. Jangan hadapkan kepada mereka separuh bagian muka dan pipi layaknya yang dilakukan oleh orang-orang congkak dan sombong. Jangan berjalan dengan gaya jalan yang penuh kesombongan, kecongkakan dan rasa bangga diri. Sebab yang demikian ini benar-benar dimurkai Allah.
Baca juga: Khutbah Jumat Hari Ini: Keutamaan Berbakti Kepada Ibu dalam Islam
Hadirin yang Berbahagia,
Virus takabur ini jangan sampai menyerang hati kita. Virus takabur ini jangan sampai merusak hati kita. Marilah kita berintrospeksi, kita teliti hati kita masing-masing.
Jika telah muncul sedikit saja virus menyombongkan harta pada hati kita, hendaklah kita mengingat Qarun. Sosok hartawan yang mana kunci gudang-gudang tempat penyimpanan hartanya, baru bisa diangkat oleh sejumlah orang yang berbadan kuat. Tapi bukankah ia dan seluruh hartanya dibenamkan ke dalam bumi? Kesombongannya tidak dapat menyelamatkannya.
Jika dalam hati kita telah muncul sedikit saja virus membanggakan kekuasaan dan jabatan yang kita miliki, hendaklah kita renungkan kisah Fir’aun. Soso yang pada akhir hayatnya tenggelam dan binasa di dalam air dan tidak bermanfaat baginya kerajaan dan pasukan-pasukannya.
Begitu juga, apakah pantas kita membanggakan kekuatan? Tentu jawabannya adalah tidak. Karena sakit gigi saja akan membuat kita terbaring tidak berdaya di tempat tidur.
Apakah pantas kita membanggakan ilmu yang kita kuasai? Tidak. Sungguh ilmu yang kita miliki bukanlah berasal dari diri kita pribadi, melainkan anugerah dari Allah SWT dan tidak bisa terlepas juga dari hasil jerih payah para ulama sebelum kita.
Hadirin, kita sama sekali tidak pantas menyombongkan dan membanggakan diri kita, karena pada hakikatnya permulaan diri kita adalah air mani yang menjijikkan dan akhir diri kita adalah seonggok bangkai.
Sekuat apa pun, sehebat apa pun, sekaya apa pun, sekuasa apa pun, setinggi apa pun jabatan seseorang, suatu saat nanti pasti ia akan dikalahkan oleh kematian.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Seseorang yang selalu memantau dan mengawasi hatinya serta terus-menerus berusaha untuk menghindarkannya dari virus takabur, maka ia akan meyakini bahwa kecerdasan, ilmu, harta dan jabatannya, sejatinya tidak berasal dari dirinya. Semua ini tidak lain adalah karunia yang Allah anugerahkan kepada dirinya. Karenanya, hendaklah ia bersyukur kepada Allah, tetap berlaku mengasihi orang yang di bawahnya dan hendaknya bersikap tawadhu’ (rendah hati), karena tawadhu’ termasuk di antara jenis ibadah yang paling utama.
Dalam kitab Al-Amali al-Muthlaqah, Ibnu Hajar al-Asqolani menyertakan satu riwayat hadis dari Sayyidah ‘Aisyah, yang menyebutkan bahwa Nabi SAW bersabda:
إِنَّكُمْ لَتَغْفُلُوْنَ عَنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَةِ التَّوَاضُع
Artinya: “Sungguh kalian telah melalaikan salah satu bentuk ibadah yang paling utama, yaitu tawadhu’ (bersikap rendah hati).”
Nabi mengatakan demikian, tiada lain karena banyaknya orang yang terserang virus takabur. Seandainya semua orang bersikap rendah hati, niscaya akan sirna dari tengah-tengah mereka sekian banyak kebencian dan permusuhan, akan hilang rasa iri dan dengki. Mereka akan terhindar dari lelahnya persaingan, upaya bermegah-megahan dan saling membanggakan diri, dan mereka akan menikmati apa yang telah Allah karuniakan untuk mereka.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Demikian khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga hati kita dibersihkan dan dijauhkan oleh Allah SWT dari virus takabur. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang