Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KH. Imam Jazuli, Lc. MA
Akademisi dan Pengasuh Ponpes Bina Insan Mulia Cirebon

Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Ansor: Antara Batang Tubuh NU dan "Mobil Penggerak" NKRI

Kompas.com, 25 April 2026, 09:09 WIB
Add on Google
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

ULANG tahun Ansor bukanlah sekadar seremoni tukar kado atau rapat akbar. Saat melihat ribuan seragam loreng Banser berbaris rapi dalam Harlah, saya melihat sebuah entitas yang "lebih NU daripada NU itu sendiri" dalam hal kecepatan bertindak. Jika Nahdlatul Ulama adalah kapal besar, Ansor adalah mesin dieselnya. Tangguh, berisik kalau perlu, tapi pasti melaju.

Sejarah mencatat, Ansor ini lahir dari rahim kekhawatiran kiai-kiai sepuh terhadap masa depan kaderisasi. Pada 24 April 1934 di Banyuwangi, lewat tangan dingin KH Abdul Wahab Hasbullah, cikal bakal Ansor disepakati.

Nama Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO) itu suci, mengambil semangat kaum Anshar Madinah: penolong, pelopor, dan pembela. Membaca sejarah Ansor adalah membaca kisah tak pernah lelah.

Baca juga: GP Ansor Ajak Bangsa Perkuat Persatuan Hadapi Dampak Perang AS–Israel vs Iran

Dari ikut angkat senjata mempertahankan kemerdekaan, membumihanguskan pemberontakan PKI, hingga menjadi benteng terakhir Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang ramah (moderat) di tengah gempuran ideologi ekstrem. Ansor bukan pemuda "manja" yang menunggu instruksi, tapi pemuda "lapangan" yang menjemput bola.

Peran Besar dan Estafet Kepemimpinan

Ansor beruntung memiliki tradisi estafet kepemimpinan yang cair. Bukan sekadar siapa yang paling senior, tapi siapa yang paling "nekat" (dalam artian positif) memimpin perubahan.

Gus Ipul

Gus Ipul (Saifullah Yusuf): Di masanya, Gus Ipul berhasil mengubah citra Ansor dari organisasi kultural menjadi organisasi yang lincah dan berani berinteraksi dengan dunia luar. Dia membawa Ansor lebih populer, lebih politis dalam artian positif, dan memperkuat posisi Banser sebagai "satpam" NKRI yang disegani.

Gus Ipul, merupakan sosok fenomenal yang berhasil meletakkan fondasi modernisasi dan penguatan ideologi kebangsaan di Gerakan Pemuda Ansor saat menjabat sebagai Ketua Umum PP GP Ansor selama dua periode (2000-2010).

Keberhasilan besarnya ditandai dengan kemampuannya menjembatani kepentingan organisasi dengan dinamika politik pasca-reformasi, sekaligus memperkuat peran Banser sebagai garda terdepan penjaga ulama dan NKRI. Di bawah kepemimpinannya, Ansor bertransformasi menjadi organisasi kepemudaan yang lebih dinamis, nyentrik, dan disegani, serta konsisten menghadirkan ilmunya para ulama di tengah kehidupan masyarakat.

Nusron Wahid

Nusron Wahid: Saya ingat betul era ini. Nusron adalah tipe "petarung". Di bawah kendalinya, Ansor menjadi jauh lebih berani secara ideologis. Nusron berani tampil beda, melawan arus radikalisme secara telanjang, dan menjadikan Ansor sebagai pemain kunci dalam peta politik nasional. Ansor jadi "mobil kencang" yang lari di jalur cepat.

Nusron Wahid juga membawa perubahan paradigmatik yang signifikan selama memimpin PP GP Ansor (2010-2015), terutama dalam merombak sistem kaderisasi menjadi lebih inklusif dan profesional. Keunggulan utamanya terletak pada pendekatan merangkul kader-kader NU dari berbagai latar belakang keahlian, profesi, serta akademisi, yang menjadikan Ansor lebih beragam dan tidak lagi terbatas pada kaum muda agamawan semata.

Melalui tiga visi besarnya—revitalisasi nilai, pengkaderan, dan pemberdayaan—Nusron sukses menjadikan Ansor organisasi yang mandiri secara ekonomi, modern, dan solid, serta berhasil mengombinasikan kekuatan tradisional pesantren dengan kemampuan manajerial modern.

Gus Yaqut

Gus Yaqut (Yaqut Cholil Qoumas): Yaqut membawa Ansor ke level "pengamanan total". Ia tak hanya memimpin, tapi menanamkan kebanggaan. Di era Gus Yaqut, Banser bertransformasi menjadi satuan yang modern, tertata, dan responsif terhadap isu-isu kebangsaan. Yaqut berhasil mengukuhkan Ansor sebagai benteng ideologi yang tak bisa ditawar.

Addin Jauharudin

Addin Jauharudin: Kini, estafet ada di tangan Mas Addin. Addin membawa napas baru, kombinasi kaderisasi yang metodologis dan penguatan ekonomi kader. Di era digital ini, Addin dituntut menjadikan Ansor tidak hanya kuat di lapangan, tapi juga kuat di narasi digital dan kemandirian organisasi.

Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di tubuh Ansor saat ini patut disyukuri sebagai sebuah keberhasilan transformasi kaderisasi yang luar biasa. Pencapaian akademik hingga tingkat doktor dan profesor, serta tersebarnya kader di posisi strategis—seperti menteri, KPU, Bawaslu, dan partai politik—menunjukkan bahwa Ansor mampu mencetak pemimpin publik yang mumpuni.

Hal tersebut menegaskan bahwa kader Ansor kini tidak hanya kuat dalam basis kultural, tetapi juga mampu menguasai struktural kebangsaan dan birokrasi, yang memberikan dampak signifikan dalam pengambilan kebijakan strategis negara.

Namun, pencapaian gemilang di ranah akademik dan birokrasi ini menyisakan refleksi mendalam mengenai minimnya jumlah kader yang terjun di dunia teknologi dan digital. Di era disrupsi informasi saat ini, penguasaan technopreneurship, kecerdasan buatan, dan keahlian siber merupakan medan juang baru yang krusial.

Baca juga: Dari Jakarta ke Board of Peace, Diplomasi Prabowo Dinilai GP Ansor Jadi Jembatan Perdamaian Dunia

Keberhasilan penguasaan ruang publik nyata harus segera diimbangi dengan dominasi di ruang digital, agar Ansor tidak hanya menjadi penggerak struktur, tetapi juga menjadi penentu arah teknologi demi kemaslahatan umat dan bangsa.

Menjadi Ansor hari ini berat. Tantangannya bukan lagi penjajah bersenjata, tapi penjajah digital: hoaks, intoleransi, dan polarisasi.

Ansor harus tetap menjadi "mobil penggerak" yang tidak boleh mogok. Tidak boleh alergi pada kemajuan, tapi harus tetap memegang teguh dawuh kiai.

Selamat Harlah GP Ansor. Teruslah "Tangan di Atas" untuk NU dan NKRI. Karena jika Ansor goyah, saya yakin NU akan merasakan dampaknya. Dan jika NU goyah, Indonesia sedang dalam bahaya. Jayalah Ansor, Jayalah Banser! Wallahu'alam bissowab.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Ansor: Antara Batang Tubuh NU dan 'Mobil Penggerak' NKRI
Ansor: Antara Batang Tubuh NU dan "Mobil Penggerak" NKRI
Aktual
Apa yang Harus Dilakukan Saat Wukuf di Arafah? Ini Amalan Utamanya
Apa yang Harus Dilakukan Saat Wukuf di Arafah? Ini Amalan Utamanya
Aktual
20 Menit di Paviliun Haji Madinah: Ada AC, Mushala hingga Klinik Medis untuk Jemaah
20 Menit di Paviliun Haji Madinah: Ada AC, Mushala hingga Klinik Medis untuk Jemaah
Aktual
PPIH Arab Saudi Matangkan Layanan Haji di Makkah, Hotel hingga Bus Shalawat Disiapkan
PPIH Arab Saudi Matangkan Layanan Haji di Makkah, Hotel hingga Bus Shalawat Disiapkan
Aktual
5 Rukun Islam dan Maknanya, Fondasi Utama Kehidupan Setiap Muslim
5 Rukun Islam dan Maknanya, Fondasi Utama Kehidupan Setiap Muslim
Doa dan Niat
Bacaan Syahadat Lengkap: Arab, Latin, Arti dan Maknanya
Bacaan Syahadat Lengkap: Arab, Latin, Arti dan Maknanya
Doa dan Niat
Tertipu Modus Percepatan Haji, Pasutri Lansia di Lumajang Kehilangan Rp 81 Juta
Tertipu Modus Percepatan Haji, Pasutri Lansia di Lumajang Kehilangan Rp 81 Juta
Aktual
Bandara Syamsudin Noor Beroperasi 24 Jam untuk Layani Penerbangan Haji 2026
Bandara Syamsudin Noor Beroperasi 24 Jam untuk Layani Penerbangan Haji 2026
Aktual
PPIH Arab Saudi Siagakan Tim Kesehatan di Bandara Madinah, Jamaah Haji Sakit Langsung Diperiksa
PPIH Arab Saudi Siagakan Tim Kesehatan di Bandara Madinah, Jamaah Haji Sakit Langsung Diperiksa
Aktual
Dedikasi PPIH Arab Saudi, Cek Makanan Tiga Kali Sehari demi Jaga Kesehatan Jemaah Haji
Dedikasi PPIH Arab Saudi, Cek Makanan Tiga Kali Sehari demi Jaga Kesehatan Jemaah Haji
Aktual
Terjebak Hujan Disertai Petir? Ini Doa Rasulullah Agar Terhindar Bahaya
Terjebak Hujan Disertai Petir? Ini Doa Rasulullah Agar Terhindar Bahaya
Doa dan Niat
Petugas Keamanan Mulai Lakukan Random Checking Jamaah Haji di Makkah, Kartu Nusuk Jadi Sasaran
Petugas Keamanan Mulai Lakukan Random Checking Jamaah Haji di Makkah, Kartu Nusuk Jadi Sasaran
Aktual
Suhu Uni Emirat Arab Tembus 44 Derajat di Bulan April, Ini Penyebabnya
Suhu Uni Emirat Arab Tembus 44 Derajat di Bulan April, Ini Penyebabnya
Aktual
Sistem Rombongan Jadi Kunci Penataan Jamaah Haji Indonesia Sejak Tiba di Madinah
Sistem Rombongan Jadi Kunci Penataan Jamaah Haji Indonesia Sejak Tiba di Madinah
Aktual
Bolehkah Satu Kambing untuk Kurban dan Akikah Sekaligus? Ini Hukum dan Pendapat Ulama
Bolehkah Satu Kambing untuk Kurban dan Akikah Sekaligus? Ini Hukum dan Pendapat Ulama
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com