Editor
KOMPAS.com - Di tengah tantangan krisis iklim global yang semakin nyata, mimbar-mimbar Jumat hari ini menyuarakan pesan penting mengenai tanggung jawab spiritual umat Muslim terhadap alam semesta
Khutbah yang disampaikan hari ini menekankan bahwa memelihara lingkungan bukanlah sekadar isu aktivisme, melainkan bagian integral dari keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Islam memandang alam bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta (ayat) yang harus dijaga keseimbangannya
Baca juga: Hari Santri 2025, Menag Dinobatkan sebagai “Bapak Eko-Teologi Indonesia”
Melalui khutbah Jumat kali ini, umat diingatkan kembali akan perannya sebagai khalifah di muka bumi yang memikul amanah besar untuk memakmurkan, bukan merusak dunia
Berikut adalah naskah lengkap Khutbah Jumat tersebut:
الْحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, salah satunya dengan menjaga amanah sebagai khalifah (pemimpin/wakil) di muka bumi. Allah menciptakan alam semesta ini dalam keadaan seimbang dan sempurna tanpa cacat, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Mulk ayat 3:
الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍ
Artinya: "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang...".
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Tugas manusia adalah menjaga Mizan (keseimbangan) tersebut. Namun sayangnya, keserakahan manusia sering kali merusak harmoni alam. Allah telah memperingatkan dalam Surah Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبِرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)".
Islam melarang keras segala bentuk perusakan lingkungan hidup setelah Allah memperbaikinya. Hal ini ditegaskan dalam Surah Al-A'raf ayat 56:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya...".
Jamaah yang berbahagia,
Rasulullah SAW memberikan teladan nyata bahwa menjaga alam adalah bagian dari sedekah dan amal jariyah. Beliau bersabda dalam sebuah hadis riwayat Al-Bukhari:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
Artinya: "Tak seorang pun muslim yang menanam pohon atau menabur benih tanaman, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan lainnya, kecuali akan menjadi sedekah baginya".
Sebaliknya, tindakan merusak pohon tanpa alasan yang benar diancam dengan hukuman yang berat. Dalam hadis riwayat Ahmad disebutkan:
مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً صَوَّبَ اللَّهُ رَأْسَهُ فِى النَّارِ
Artinya: "Barangsiapa yang menebang pohon sidrah (pohon rindang tempat berteduh), maka Allah akan mengarahkan kepalanya ke neraka".
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ.
الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
Hadirin sekalian,
Di akhir khutbah ini, mari kita berkomitmen untuk menerapkan etika lingkungan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mulailah dari hal kecil seperti menghemat air wudhu meskipun air berlimpah, tidak melakukan pemborosan (israf), serta menyayangi seluruh makhluk hidup di bumi. Rasulullah SAW berpesan:
ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
Artinya: "Sayangilah setiap makhluk di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh Dzat yang di langit" (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
Baca juga: Kemenag Perkenalkan Ekoteologi di Kairo: Agama Solusi Krisis Lingkungan
Mari kita jadikan masjid-masjid kita sebagai Eco-Masjid, pusat gerakan ramah lingkungan yang menjaga kelestarian air, energi, dan kebersihan tanah.
Mari kita berdoa,
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَحْفَظُ هَذِهِ الْأَرْضَ وَلَا يُفْسِدُ فِيهَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang