MADINAH, KOMPAS.com- Menginjakkan kaki di Kota Suci Madinah tentu memantik kerinduan mendalam kepada sosok agung Nabi Muhammad SAW.
Di Kota Nabi ini, jemaah haji maupun umrah bisa semakin mengenal kehidupan Rasulullah melalui Museum Biografi Nabi Muhammad dan Peradaban Islam.
Bak lorong waktu, pengunjung akan dibawa melintasi zaman kembali ke abad ke-7 Masehi. Tepat di pelataran Masjid Nabawi, tak jauh dari Gerbang 307, pengunjung akan menemukan Pameran dan Museum Internasional Biografi Nabi dan Peradaban Islam (The International Fair and Museum of the Prophet's Biography and Islamic Civilization).
Baca juga: Saat Lettu Azis Bantu Jemaah Haji Lansia Aljazair di Madinah, Kemanusiaan Tak Kenal Batas
Tak ada museum dengan etalase kaca yang kaku. Atas kerja sama Liga Muslim Dunia, tempat ini menawarkan pendekatan yang jauh lebih futuristik. Ruang pamer edukatif ini menyulap riwayat agung kenabian menjadi pengalaman yang menggugah batin.
“Museum ini khusus membahas kehidupan Nabi Muhammad SAW. Pengunjung akan dipandu untuk belajar tentang kehidupan Rasulullah dan juga tentang Madinah pada masa beliau,” ungkap Muhammad Adz Dzahabie, salah satu pemandu.
Secara garis besar, tur di museum ini terbagi ke dalam dua fase. Yang pertama menyoroti dimensi personal sang utusan Allah, mulai dari silsilah keluarga, ciri fisik, busana, perabotan rumah, hingga racikan pengobatan alami yang kerap beliau gunakan. Pada fase kedua, pengunjung diajak menyusuri tata ruang tata Kota Madinah di era kenabian.
Pengalaman kian memukau ketika teknologi seperti magic box dan virtual reality (VR) mengambil alih visualisasi. Peziarah seakan berdiri langsung di dalam bilik Rasulullah.
Berbagai detail tersaji secara presisi, mulai dari tinggi atap, bentuk pintu, letak tempayan air, hingga tata letak makam yang kini berdampingan harmonis dengan peristirahatan sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.
“Di sini ada berbagai layar interaktif untuk memperkenalkan sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW dengan berbagai tema. Ada juga bagian yang menggambarkan Madinah di masa Rasul, Masjid Nabawi, dan kamar Rasulullah SAW,” kata Adz Dzahabie menjelaskan kecanggihan fasilitas tersebut.
Baca juga: Cuaca Ekstrem di Madinah, Suhu Tembus 40°C, Ini Tips Agar Tidak Tumbang
Keakuratan narasi sejarah yang ditampilkan bukanlah hasil kerja semalam. Selama kurang lebih dua dekade, para cendekiawan memeras keringat mengkaji literatur yang bersumber mutlak pada Al-Qur'an dan hadis untuk merangkai visualisasi yang paripurna.
“Tujuan didirikannya museum ini adalah mengenalkan kembali kehidupan Nabi Muhammad SAW, yang menjadi teladan bagi umat Islam dan seluruh umat manusia,” tutur Adz Dzahabie.
Kabar baik bagi jemaah Tanah Air, tersedia layanan pemandu dari berbagai latar belakang bahasa, mulai dari Arab, Inggris, Rusia, Prancis, Turki, Urdu, termasuk bahasa Indonesia. Khusus tur berbahasa Indonesia, ada jadwal tertentu yang harus dipastikan oleh pengunjung.
Proyek edukasi ini pun tidak hanya di Madinah, melainkan dapat ditemukan di Makkah, Maroko, hingga Senegal. Dengan demikian, diharapkan umat Islam bisa lebih mudah meneladani sang manusia paling sempurna.
“Sebagai umat muslim, kita perlu mempelajari kehidupan Rasulullah SAW agar bisa meniru jejak beliau dan menjadi pribadi yang lebih baik,” ucapnya.
Baca juga: Jemaah Haji Khusus Indonesia Mulai Tiba di Madinah, Masa Tinggal Lebih Singkat
Bagi jemaah yang ingin merasakan pengalaman spiritual visual ini, tiket masuknya dibanderol seharga 40 riyal atau sekitar Rp 180.000 untuk akses satu lantai. Bagi yang ingin menjelajah dengan paket lengkap akan dibanderol 70 riyal atau sekitar Rp 315.000.
Pemesanan tiketnya pun sangat praktis, bisa diakses secara daring melalui situs resmi maupun dibeli langsung di lokasi. Jadi, jangan lupa mampir ke museum ini ketika di Tanah Suci.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang