KOMPAS.com - Menjelang puncak ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi, pemerintah terus mematangkan berbagai persiapan layanan bagi jemaah Indonesia di Armuzna, yaitu Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Salah satu fokus utama tahun ini adalah kesiapan tenda di Arafah yang menjadi lokasi wukuf, rukun paling penting dalam ibadah haji. Pemerintah menyebut progres kesiapan tenda jemaah Indonesia kini telah mencapai 90 persen.
Selain akomodasi, kesiapan tersebut juga mencakup sistem transportasi bus masyair, skema mitigasi kepadatan, layanan kesehatan, hingga penguatan edukasi bagi jemaah menghadapi cuaca ekstrem di Arab Saudi.
Baca juga: Mendadak Pusing dan Lemas di Udara, Calon Jemaah Haji Sumenep Diinfus di Pesawat
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI, Maria Assegaf, mengatakan bahwa pemerintah terus melakukan pengecekan langsung terhadap kesiapan layanan menjelang fase Armuzna yang dikenal sebagai puncak paling padat dalam rangkaian ibadah haji.
“Saat ini kesiapan tenda di Arafah sudah mencapai 90 persen termasuk layanan transportasi puncak haji yaitu bus masyair yang juga sudah dilakukan peninjauan guna mengatur pergerakan transportasi,” ujar Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI, Maria Assegaf dalam konferensi pers penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M yang disiarkan di YouTube resmi Kemenhaj RI, Kamis (14/5/2026).
Wukuf di Arafah merupakan inti dari ibadah haji. Dalam hadis riwayat Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:
“Al-hajju Arafah” atau “Haji itu adalah Arafah.”
Oleh karena itu, kesiapan tenda dan layanan di kawasan tersebut menjadi perhatian utama pemerintah Indonesia maupun otoritas Arab Saudi setiap musim haji berlangsung.
Arafah akan menjadi tempat berkumpul jutaan jemaah dari berbagai negara pada 9 Zulhijah sebelum bergerak menuju Muzdalifah dan Mina.
Pergerakan besar manusia dalam waktu hampir bersamaan membuat fase Armuzna menjadi salah satu operasi mobilitas terbesar di dunia.
Dalam buku Manajemen Penyelenggaraan Ibadah Haji karya M. Quraish Shihab dijelaskan bahwa pengaturan logistik dan mobilitas jemaah di Armuzna menjadi tantangan paling kompleks dalam penyelenggaraan haji modern karena melibatkan jutaan manusia dalam ruang dan waktu yang terbatas.
Baca juga: Persiapan Puncak Haji di Arafah, Ini Dzikir dan Doa yang Dianjurkan untuk Jamaah
Selain tenda, pemerintah juga mematangkan kesiapan transportasi bus masyair yang akan mengangkut jemaah dari Arafah menuju Muzdalifah dan Mina.
Maria mengatakan satuan operasi Armuzna telah menyiapkan sejumlah skenario mitigasi guna mengantisipasi kepadatan lalu lintas selama puncak haji berlangsung.
“Terutama dari Arafah ke Muzdalifah maupun juga dari Muzdalifah menuju ke Mina,” katanya.
Kemacetan dan keterlambatan pergerakan jemaah memang menjadi tantangan yang hampir selalu muncul saat fase Armuzna.
Oleh karena itu, koordinasi transportasi dilakukan secara ketat antara pemerintah Indonesia dan otoritas Saudi.
Dalam buku Crowd Management and Crowd Safety karya Still Keith dijelaskan bahwa pengelolaan massa dalam kegiatan keagamaan berskala besar membutuhkan sistem transportasi yang presisi agar tidak memicu penumpukan manusia di titik tertentu.
Arab Saudi sendiri tahun ini diketahui memperkuat sistem pengawasan berbasis AI dan navigasi digital untuk membantu pengaturan arus jutaan jemaah di kawasan suci.
Kementerian Haji dan Umrah RI juga meminta jemaah mulai membiasakan berjalan kaki sesuai kemampuan fisik masing-masing.
Imbauan ini bukan tanpa alasan. Saat fase Armuzna berlangsung, sebagian jemaah kemungkinan harus berjalan cukup jauh akibat pengaturan arus manusia dan kepadatan kendaraan.
Pemerintah menilai kesiapan fisik menjadi faktor penting agar jemaah dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan aman dan lancar.
“Haji bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga membutuhkan kesiapan fisik yang baik,” tutur Maria.
Dalam buku Fiqih Haji dan Umrah karya Wahbah Az-Zuhaili dijelaskan bahwa ibadah haji termasuk ibadah yang memerlukan kemampuan fisik, mental, dan finansial sekaligus karena panjangnya perjalanan serta padatnya aktivitas ritual di Tanah Suci.
Baca juga: Hukum Puasa Arafah bagi yang Tidak Berhaji, Lengkap Niat dan Keutamaannya
Selain kepadatan manusia, suhu ekstrem di Arab Saudi juga menjadi perhatian serius menjelang puncak haji.
Pemerintah mengimbau jemaah membatasi aktivitas yang tidak mendesak, terutama pada siang hari ketika suhu udara di Makkah dan sekitarnya bisa mencapai lebih dari 40 derajat Celsius.
“Kami mengimbau agar jemaah membatasi aktivitas yang tidak mendesak terutama di siang hari saat suhu udara sangat tinggi,” ungkap Maria.
Jemaah diminta lebih mengutamakan ibadah wajib dan memperbanyak istirahat guna menjaga stamina menghadapi Armuzna.
Selain itu, konsumsi makanan teratur dan menjaga cairan tubuh juga menjadi perhatian penting.
Pemerintah menyarankan jemaah meminum air putih minimal empat teguk setiap 10 menit sekali agar tubuh tidak mengalami dehidrasi.
Dalam buku Crowd Medicine and Mass Gathering Health karya Ziad Memish dijelaskan bahwa dehidrasi dan kelelahan panas menjadi dua gangguan kesehatan paling sering dialami jemaah haji akibat suhu tinggi dan aktivitas fisik berlebihan.
Pemerintah juga memberikan perhatian khusus kepada jemaah lanjut usia, penyandang disabilitas, dan kelompok risiko tinggi atau risti.
Mereka diminta aktif berkoordinasi dengan petugas kesehatan, ketua rombongan, serta petugas sektor apabila mengalami keluhan kesehatan sekecil apa pun.
“Jangan menunggu kondisi memburuk apabila mengalami keluhan kesehatan seperti misalnya merasakan lemas, pusing, maupun sesak nafas, demam ataupun dehidrasi langsung komunikasikan hal ini kepada petugas setempat,” kata Maria.
Dalam beberapa musim haji terakhir, layanan kesehatan bagi jemaah Indonesia memang terus diperkuat, terutama untuk kelompok lansia yang jumlahnya cukup besar.
Kementerian Agama RI sebelumnya juga telah menyiapkan berbagai program safari wukuf, pendampingan lansia, hingga layanan kesehatan bergerak guna membantu jemaah yang memiliki keterbatasan fisik.
Baca juga: Madinah Siapkan Pusat Cuci Darah 24 Jam untuk Jemaah Haji 2026
Kemenhaj RI turut mengingatkan jemaah agar selalu menggunakan alat pelindung diri sederhana saat berada di luar hotel maupun kawasan tenda.
Beberapa perlengkapan yang dianjurkan antara lain:
Langkah sederhana tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko kelelahan dan gangguan kesehatan akibat cuaca panas ekstrem di Arab Saudi.
Dalam buku Ensiklopedi Haji dan Umrah karya Ahmad Sarwat dijelaskan bahwa menjaga kesehatan selama haji termasuk bagian penting dari ikhtiar agar ibadah dapat dijalankan secara sempurna dan aman.
Fase Armuzna selalu menjadi momen paling berat sekaligus paling sakral dalam pelaksanaan ibadah haji.
Di tengah suhu panas, kepadatan jutaan manusia, serta perjalanan panjang, jemaah dituntut menjaga kesabaran, kedisiplinan, dan kondisi fisik agar dapat menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah dengan baik.
Oleh karena itu, kesiapan tenda, transportasi, layanan kesehatan, dan pengaturan mobilitas menjadi faktor penting demi menjaga keselamatan jemaah selama puncak haji berlangsung.
Dengan progres kesiapan tenda Arafah yang telah mencapai 90 persen, pemerintah berharap jemaah Indonesia dapat menjalani puncak ibadah haji tahun ini dengan lebih aman, nyaman, dan khusyuk.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang