Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Haji Mabrur Tak Hanya Soal Ritual, Prof Niam Sebut Tandanya Terlihat dalam Kehidupan Sosial

Kompas.com, 3 Juni 2026, 18:23 WIB
Add on Google
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber MUI

KOMPAS.com - Ibadah haji merupakan puncak perjalanan spiritual seorang Muslim yang sarat dengan nilai penghambaan kepada Allah SWT.

Namun, keberhasilan haji tidak hanya diukur dari tuntasnya pelaksanaan rangkaian ibadah di Tanah Suci.

Musyrif Diny Prof KH Asrorun Niam Sholeh menegaskan, kemabruran haji justru tercermin dari perubahan perilaku dan kualitas hubungan sosial seseorang setelah kembali ke Tanah Air.

Baca juga: Musyrif Diny: Mina Jadi Madrasah Kesabaran dan Dzikir bagi Jamaah Haji di Hari Tasyrik

Perubahan tersebut menjadi indikator yang dapat dirasakan langsung oleh lingkungan sekitar dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tanda-tanda haji mabrur tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga tampak dalam sikap dan tindakan sosial.

Kemabruran Haji Terlihat dari Perubahan Perilaku

Hal itu disampaikan Musyrif Diny, Prof KH Asrorun Niam Sholeh, dalam keterangannya kepada MUI Digital, Rabu (3/6/2026).

Baca juga: Musyrif Diny Imbau Jemaah Haji Tak Paksakan Lempar Jumrah Saat Waktu Afdal

Ketua MUI Bidang Fatwa ini menjelaskan bahwa ibadah haji yang mabrur merupakan ibadah yang jaminan balasannya adalah surga.

Meskipun ganjaran tersebut bersifat kualitatif dan menjadi rahasia Allah, tanda-tandanya tetap dapat diukur dan dilihat secara kasat mata melalui perubahan perilaku sebelum dan sesudah menunaikan ibadah haji.

“Yang lihat siapa? Ya yang lihat orang lain seiring dengan perubahan pra dengan pascanya,” kata Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah, Depok, Jawa Barat.

Ia mencontohkan, salah satu tanda yang paling mudah dikenali adalah konsistensi dalam beribadah.

Seseorang yang sebelum berangkat haji cenderung malas beribadah, lalu berubah menjadi lebih rajin dan mampu menjaga kebiasaan tersebut secara konstan dan berkelanjutan, menunjukkan sinyal kuat adanya kemabruran.

Dua Aspek Utama Haji Mabrur

Lebih lanjut, Guru Besar Ilmu Fikih UIN Jakarta ini menjelaskan bahwa terdapat dua aspek utama yang menjadi indikator kemabruran haji.

Pertama, komitmen meninggalkan keburukan.

Jamaah yang memperoleh kemabruran memiliki tekad kuat untuk menghentikan kebiasaan buruk yang dilakukan sebelum berhaji dan menggantinya dengan tradisi kebaikan.

Kedua, dawamul ihsan atau konsistensi dalam berbuat baik.

Prof Niam menjelaskan bahwa kata mabrur berasal dari kata al-birr yang esensinya adalah husnul khuluk atau moralitas serta akhlak yang baik.

Sementara itu, dawamul ihsan berarti komitmen untuk terus-menerus menghasilkan kebaikan dan manfaat bagi lingkungan sekitar.

"Haji itu hal yang bersifat personal dan spiritual, tetapi dia bisa menjelma ditandai dengan apa kemabruran dan keterterimaan itu dengan aktivitas kepribadian dia di dalam relasi sosial," tegasnya.

Haji Mabrur Bermuara pada Kesalehan Sosial

Prof Niam mengingatkan bahwa prinsip tersebut tidak hanya berlaku pada ibadah haji.

Seluruh arsitektur ibadah dalam Islam, mulai dari salat, puasa, hingga zakat, memiliki pola yang sama, yakni dilaksanakan secara personal dengan aturan yang baku, tetapi bertujuan membentuk kesalehan sosial.

Ia mencontohkan ibadah puasa yang dianggap berhasil apabila mampu menumbuhkan semangat berbagi dan memperkuat kesetiakawanan sosial di tengah masyarakat.

"Nah, haji juga demikian, akan kelihatan mabrur pada tingkah polah kesehariannya," kata Ketua Umum Majelis Alumni IPNU.

Menurut Prof Niam, perubahan spiritual dan sosial yang menjadi buah dari ibadah haji merupakan proses jangka panjang yang harus terus dirawat.

Kemabruran tidak hadir secara instan, melainkan membutuhkan komitmen berkelanjutan agar nilai-nilai kebaikan yang diperoleh selama berhaji tetap terjaga dalam kehidupan sehari-hari.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Wamenkes Sebut Skrining Ketat dan Active Case Finding Kunci Jaga Kesehatan Jamaah Haji
Wamenkes Sebut Skrining Ketat dan Active Case Finding Kunci Jaga Kesehatan Jamaah Haji
Aktual
Wamenhaj Tegur Garuda Indonesia Usai Pesawat Jamaah Haji Delay Berjam-jam di Jeddah
Wamenhaj Tegur Garuda Indonesia Usai Pesawat Jamaah Haji Delay Berjam-jam di Jeddah
Aktual
Kemenhaj: Penerapan Istithaah Kesehatan Berhasil Tekan Angka Kematian Jemaah Haji
Kemenhaj: Penerapan Istithaah Kesehatan Berhasil Tekan Angka Kematian Jemaah Haji
Aktual
Haji Mabrur Tak Hanya Soal Ritual, Prof Niam Sebut Tandanya Terlihat dalam Kehidupan Sosial
Haji Mabrur Tak Hanya Soal Ritual, Prof Niam Sebut Tandanya Terlihat dalam Kehidupan Sosial
Aktual
Keajaiban Hidup Rabiah Al-Adawiyah, Wanita yang Bikin Malaikat Iri
Keajaiban Hidup Rabiah Al-Adawiyah, Wanita yang Bikin Malaikat Iri
Aktual
Kapan Batas Waktu untuk Meminta Doa Orang yang Baru Pulang Haji? Ini Penjelasan Ulama
Kapan Batas Waktu untuk Meminta Doa Orang yang Baru Pulang Haji? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
8 Adab Minum Air Zamzam yang Dianjurkan Ulama, dari Menghadap Kiblat hingga Membaca Hamdalah
8 Adab Minum Air Zamzam yang Dianjurkan Ulama, dari Menghadap Kiblat hingga Membaca Hamdalah
Aktual
Gus Yahya: Digdaya Bukan Proyek Pribadi, Ini Program Transformasi NU
Gus Yahya: Digdaya Bukan Proyek Pribadi, Ini Program Transformasi NU
Aktual
Persiapan Musim Haji 2027: Petugas Wajib Ikut Diklat Barak, Kemenhaj Bentuk Daker Khusus Armuzna
Persiapan Musim Haji 2027: Petugas Wajib Ikut Diklat Barak, Kemenhaj Bentuk Daker Khusus Armuzna
Aktual
Dua Jemaah Haji Asal Jember Wafat di Mekkah, Diduga Kelelahan Saat Menjalani Ibadah
Dua Jemaah Haji Asal Jember Wafat di Mekkah, Diduga Kelelahan Saat Menjalani Ibadah
Aktual
Imigrasi Soekarno-Hatta Percepat Kepulangan Jamaah Haji dengan Teknologi SCG
Imigrasi Soekarno-Hatta Percepat Kepulangan Jamaah Haji dengan Teknologi SCG
Aktual
Imam Besar Masjid Al-Aqsa Tolak RUU Israel Batasi Pengeras Suara Azan
Imam Besar Masjid Al-Aqsa Tolak RUU Israel Batasi Pengeras Suara Azan
Aktual
PBNU Bantah Tuduhan Penyimpangan Rekening, Siap Audit Terbuka
PBNU Bantah Tuduhan Penyimpangan Rekening, Siap Audit Terbuka
Aktual
Doa Menyambut Kepulangan Jemaah Haji agar Meraih Haji Mabrur
Doa Menyambut Kepulangan Jemaah Haji agar Meraih Haji Mabrur
Doa dan Niat
Gus Yahya Bantah Tambang NU untuk Kepentingan Pribadi: Ini Amanah Jam'iyah
Gus Yahya Bantah Tambang NU untuk Kepentingan Pribadi: Ini Amanah Jam'iyah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com