Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hanya Makan Minyak 9 Bulan, Begini Cara Umar bin Khattab Memimpin Umat

Kompas.com, 4 Juni 2026, 19:00 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Dalam sejarah dunia, tidak sedikit pemimpin yang dikenang karena keberhasilannya memperluas wilayah kekuasaan, memenangkan peperangan, atau membangun peradaban besar.

Namun hanya segelintir yang tetap dikenang karena kesediaannya hidup lebih susah daripada rakyat yang dipimpinnya.

Salah satu sosok yang kerap dijadikan teladan dalam hal itu adalah Umar bin Khattab RA. Khalifah kedua dalam sejarah Islam ini memimpin wilayah yang sangat luas, membentang dari Jazirah Arab hingga berbagai kawasan di luar semenanjung. Di bawah kepemimpinannya, negara berkembang pesat dan kekuatan Islam semakin disegani.

Namun di balik besarnya kekuasaan tersebut, Umar justru memilih menjalani kehidupan yang sederhana.

Ia tidak membiarkan jabatan menjadikannya hidup lebih nyaman daripada rakyatnya. Baginya, seorang pemimpin adalah pelayan masyarakat yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT atas setiap urusan yang dipimpinnya.

Berbagai riwayat menggambarkan bagaimana Umar menjalani prinsip itu dalam kehidupan sehari-hari dikutip dari buku 198 Kisah Haji Wali-Wali Allah Oleh Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny.

Mulai dari menahan diri hanya makan minyak selama berbulan-bulan, memikul sendiri karung tepung untuk kaum miskin, hingga membela para pelayan yang diperlakukan berbeda dalam sebuah jamuan makan.

Baca juga: Kisah Haru Penjual Sepatu yang Dapat Gelar Haji Mabrur Tanpa ke Makkah

Saat Umar Memilih Hidup Seperti Rakyatnya

Kepemimpinan Umar berlangsung pada masa yang penuh tantangan. Di tengah perluasan wilayah Islam, ada kalanya masyarakat menghadapi masa sulit dan kekurangan bahan pangan.

Dalam kondisi seperti itu, Umar tidak memilih hidup nyaman di balik tembok istana. Ia justru berusaha merasakan apa yang dirasakan rakyatnya.

Diriwayatkan bahwa Umar pernah bersumpah tidak akan menikmati makanan mewah sampai kondisi kaum Muslimin membaik. Selama berbulan-bulan ia hanya mengonsumsi roti yang dicelupkan ke minyak sebagai lauk sehari-hari.

Riwayat menyebutkan keadaan tersebut berlangsung hingga sembilan bulan.

Bagi sebagian orang, keputusan itu mungkin terlihat tidak masuk akal. Sebagai khalifah, Umar memiliki kesempatan memperoleh makanan terbaik yang tersedia saat itu. Namun ia menolak mengambil hak istimewa yang tidak bisa dinikmati rakyatnya.

Umar memahami bahwa pemimpin tidak cukup hanya mendengar laporan tentang kesulitan masyarakat.

Seorang pemimpin harus memiliki empati yang nyata, bahkan bila perlu ikut merasakan penderitaan mereka.

Sikap inilah yang membuat Umar dihormati bukan hanya karena kekuasaannya, tetapi juga karena ketulusannya dalam memimpin.

Baca juga: Satu-satunya dalam Sejarah, Kisah Pemulangan Jenazah Bung Tomo dari Makkah

Kemarahan Umar di Sebuah Jamuan Makan

Kisah lain yang memperlihatkan karakter Umar terjadi ketika ia menghadiri jamuan makan yang diselenggarakan Sufyan bin Umayyah pada musim haji.

Saat itu dihidangkan sebuah nampan besar berisi makanan yang dibawa oleh beberapa pelayan. Para tamu dipersilakan menikmati hidangan, sementara para pelayan hanya berdiri di sekitar ruangan.

Pemandangan tersebut menarik perhatian Umar. Ia memperhatikan para pelayan yang terus berdiri sambil menyaksikan orang lain makan. Umar kemudian bertanya kepada tuan rumah mengapa mereka tidak ikut menikmati hidangan.

Sufyan menjelaskan bahwa para pelayan akan makan setelah seluruh tamu selesai. Menurutnya, hal itu dilakukan untuk menunjukkan kehormatan dan kebesaran tuan rumah.

Mendengar jawaban tersebut, Umar tidak menyembunyikan ketidaksenangannya.

Ia menilai perlakuan semacam itu bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang mengajarkan persamaan derajat manusia di hadapan Allah SWT.

Umar kemudian berkata bahwa setiap kaum yang merendahkan pelayannya akan direndahkan oleh Allah. Setelah itu ia memerintahkan agar para pelayan dipersilakan duduk dan makan bersama.

Peristiwa tersebut mungkin tampak sederhana, tetapi mengandung pesan yang sangat besar.

Pada masa ketika perbedaan status sosial masih sangat kuat, Umar menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh pekerjaan atau kedudukannya. Seorang pelayan tetap memiliki martabat yang harus dihormati.

Bagi Umar, Islam datang untuk mengangkat derajat manusia, bukan menciptakan sekat-sekat yang membuat sebagian orang merasa lebih tinggi daripada yang lain.

Karung Tepung yang Dipikul Sang Khalifah

Jika ada satu kisah yang paling sering dikutip untuk menggambarkan kepedulian sosial Umar, maka kisah karung tepung adalah salah satunya.

Umar memiliki kebiasaan berkeliling pada malam hari untuk melihat langsung kondisi masyarakat. Ia tidak ingin hanya mengandalkan laporan para pejabat.

Dalam salah satu patroli malamnya, Umar menemukan seorang janda bersama anak-anaknya yang hidup dalam kesulitan.

Anak-anak itu menangis karena lapar, sementara sang ibu tidak memiliki cukup makanan untuk diberikan kepada mereka.

Melihat keadaan tersebut, Umar segera kembali menuju tempat penyimpanan bahan makanan. Ia mengambil sendiri karung tepung beserta kebutuhan pokok lainnya.

Beberapa sahabat yang menemaninya menawarkan bantuan untuk membawakan karung yang berat itu. Namun Umar menolak.

Dengan kalimat yang kemudian menjadi pelajaran sepanjang zaman, ia berkata, “Siapakah yang akan memikul dosaku pada hari kiamat?”

Ucapan tersebut menunjukkan cara Umar memandang jabatan yang diembannya.

Ia tidak melihat dirinya sebagai penguasa yang harus dilayani, tetapi sebagai orang yang bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya.

Karena itu, ketika ada masyarakat yang lapar, Umar merasa dirinya ikut bertanggung jawab di hadapan Allah SWT.

Ia memilih memikul sendiri karung tepung tersebut hingga sampai ke rumah keluarga yang membutuhkan.

Baca juga: Kisah Ummu Mihjan, Marbot Perempuan di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah

Dunia yang Tak Pernah Menguasai Hati Umar

Kesederhanaan Umar bukanlah pencitraan sesaat atau sikap yang muncul karena keadaan tertentu. Semua itu berakar dari cara pandangnya terhadap kehidupan dunia.

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Umar sering mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terlena oleh gemerlap dunia.

Suatu hari ketika melewati tempat pembuangan kotoran, ia berhenti dan berkata, “Inilah duniamu yang engkau rakus dengannya.”

Kalimat itu menggambarkan betapa Umar memahami bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara.

Harta, jabatan, dan kemewahan tidak boleh menjadi tujuan utama kehidupan. Semua itu hanyalah sarana untuk beribadah dan menebar kemaslahatan.

Pandangan inilah yang membuat Umar mampu menjaga integritasnya selama memimpin. Semakin besar kekuasaan yang dimiliki, semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah SWT.

Warisan Kepemimpinan yang Tetap Relevan

Berabad-abad telah berlalu sejak Umar bin Khattab wafat. Namun kisah-kisah tentang dirinya masih terus dibaca dan diceritakan hingga sekarang.

Di tengah dunia yang sering mengukur keberhasilan dengan kekayaan dan kemewahan, Umar menghadirkan definisi kepemimpinan yang berbeda.

Ia menunjukkan bahwa pemimpin sejati bukanlah orang yang hidup paling nyaman, melainkan orang yang paling besar tanggung jawabnya. Bukan yang paling banyak menerima, tetapi yang paling banyak memberi.

Ketika rakyat kesulitan, ia memilih ikut merasakan kesulitan itu. Ketika melihat ada orang yang diperlakukan rendah, ia berdiri membelanya. Ketika menemukan keluarga yang lapar, ia turun tangan langsung membantu mereka.

Karena itu, warisan terbesar Umar bin Khattab bukanlah luasnya wilayah yang pernah dipimpinnya. Warisan terbesarnya adalah teladan tentang keadilan, empati, dan kesederhanaan.

Dari kisah hanya makan minyak selama sembilan bulan, mempersilakan pelayan makan bersama tamu, hingga memikul sendiri karung tepung untuk janda dan anak yatim, Umar menunjukkan satu pelajaran penting, yaitu pemimpin yang baik bukanlah yang hidup di atas penderitaan rakyatnya, melainkan yang bersedia berbagi beban bersama mereka.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Garuda Indonesia Jelaskan Penyebab Delay Penerbangan Haji di Jeddah, Sebut Akibat Kepadatan Bandara
Garuda Indonesia Jelaskan Penyebab Delay Penerbangan Haji di Jeddah, Sebut Akibat Kepadatan Bandara
Aktual
Kunjungi Saudi German Hospital Madinah, Menhaj Evaluasi Layanan Kesehatan Jemaah Haji Indonesia
Kunjungi Saudi German Hospital Madinah, Menhaj Evaluasi Layanan Kesehatan Jemaah Haji Indonesia
Aktual
Khutbah Jumat 5 Juni 2026: Amal Saleh, Investasi Terbaik di Akhirat
Khutbah Jumat 5 Juni 2026: Amal Saleh, Investasi Terbaik di Akhirat
Aktual
Kemenhaj Dorong Komoditas Pangan RI Masuk Rantai Pasok Katering Haji Arab Saudi
Kemenhaj Dorong Komoditas Pangan RI Masuk Rantai Pasok Katering Haji Arab Saudi
Aktual
 MUI Peringatkan Bahaya Tren Childfree dan Tidak Menikah Bagi Keberlangsungan Bangsa
MUI Peringatkan Bahaya Tren Childfree dan Tidak Menikah Bagi Keberlangsungan Bangsa
Aktual
Arab Saudi Diprediksi Alami Suhu di Atas Normal pada Musim Panas 2026
Arab Saudi Diprediksi Alami Suhu di Atas Normal pada Musim Panas 2026
Aktual
Hanya Makan Minyak 9 Bulan, Begini Cara Umar bin Khattab Memimpin Umat
Hanya Makan Minyak 9 Bulan, Begini Cara Umar bin Khattab Memimpin Umat
Aktual
Juni 2026 Jadi Salah Satu Bulan Terpanas di Arab Saudi, Suhu Rata-rata Sentuh 32,2 Derajat Celsius
Juni 2026 Jadi Salah Satu Bulan Terpanas di Arab Saudi, Suhu Rata-rata Sentuh 32,2 Derajat Celsius
Aktual
5 Contoh Mahar Pernikahan dalam Islam yang Dicontohkan Rasulullah
5 Contoh Mahar Pernikahan dalam Islam yang Dicontohkan Rasulullah
Aktual
El Nino Diprediksi Menguat, Arab Saudi Hadapi Suhu Lebih Panas dan Peningkatan Risiko Hujan
El Nino Diprediksi Menguat, Arab Saudi Hadapi Suhu Lebih Panas dan Peningkatan Risiko Hujan
Aktual
6 Peristiwa Besar Bulan Muharram, dari Nabi Adam hingga Tragedi Karbala
6 Peristiwa Besar Bulan Muharram, dari Nabi Adam hingga Tragedi Karbala
Aktual
Rahasia Sukses Bisnis ala Nabi Muhammad SAW yang Relevan di Era Modern
Rahasia Sukses Bisnis ala Nabi Muhammad SAW yang Relevan di Era Modern
Aktual
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas Berusia 1.200 Tahun di Jalur Haji Kuno Arab Saudi
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas Berusia 1.200 Tahun di Jalur Haji Kuno Arab Saudi
Aktual
Doa Setelah Akad Nikah untuk Pengantin Baru, Arab, Latin, dan Artinya
Doa Setelah Akad Nikah untuk Pengantin Baru, Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Munas dan Konbes NU 2026 Digelar 20-21 Juni di Pesantren Al-Falah Ploso
Munas dan Konbes NU 2026 Digelar 20-21 Juni di Pesantren Al-Falah Ploso
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com