Editor
KOMPAS.com - Ikhlas merupakan salah satu amalan hati yang memiliki peran penting dalam setiap ibadah seorang muslim.
Nilai suatu ibadah tidak hanya ditentukan oleh tindakan yang dilakukan secara lahiriah, tetapi juga bergantung pada ketulusan niat yang ada di dalam hati.
Karena itu, ikhlas menjadi fondasi yang menentukan kualitas amal di sisi Allah SWT.
Baca juga: Syekh Nawawi al-Bantani, Ulama Banten yang Mendunia
Dilansir dari laman Kemenag, dalam kajian tasawuf dan akhlak, Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa ikhlas memiliki beberapa tingkatan yang menunjukkan perbedaan tujuan seseorang dalam beribadah dan beramal saleh.
Ikhlas adalah kondisi ketika seseorang melakukan ibadah dan amal saleh semata-mata karena Allah SWT.
Baca juga: 4 Cara Menghilangkan Sifat Riya Menurut Imam Al-Ghazali agar Ibadah Tetap Ikhlas
Semakin murni tujuan seseorang dalam beribadah, semakin tinggi pula tingkat keikhlasan yang dimilikinya.
Dalam kitab Nurudh Dholam (Syekh Nawawi Al-Bantani, Nurudh Dholam, [Kediri: PPA, tt], halaman 44), Syekh Nawawi membagi ikhlas ke dalam tiga tingkatan.
Pembagian ini menunjukkan bahwa tidak semua bentuk ikhlas berada pada level yang sama.
Ada tingkatan yang paling tinggi, menengah, hingga yang paling rendah berdasarkan tujuan yang ingin dicapai oleh seorang mukmin saat beribadah.
Tingkatan pertama adalah ikhlas karena Allah SWT.
Menurut Syekh Nawawi, ini merupakan tingkatan ikhlas yang paling utama dan paling tinggi.
Pada tingkatan ini, seorang mukmin beribadah dan melakukan amal saleh semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT.
Ia tidak mengharapkan balasan apa pun selain keridaan-Nya.
Bahkan, seseorang yang berada pada tingkatan ini tidak beribadah karena menginginkan pahala surga maupun karena takut terhadap siksa neraka.
Seluruh amal yang dilakukan benar-benar ditujukan untuk Allah SWT tanpa disertai kepentingan lain.
Tingkatan kedua adalah ikhlas karena akhirat.
Pada level ini, seseorang tetap beribadah dan beramal saleh karena Allah SWT, tetapi disertai harapan memperoleh pahala dan kenikmatan surga.
Selain itu, ia juga menjalankan ibadah karena ingin terhindar dari siksa neraka.
Menurut Syekh Nawawi, bentuk ikhlas seperti ini berada pada tingkatan menengah.
Meski masih mengandung harapan terhadap balasan dan keselamatan di akhirat, tujuan tersebut tetap berkaitan dengan janji Allah SWT kepada hamba-Nya yang taat.
Tingkatan terakhir adalah ikhlas karena dunia.
Pada tingkatan ini, seseorang menjalankan ibadah dengan harapan memperoleh keuntungan atau balasan yang bersifat duniawi.
Contohnya adalah membaca Surat Al-Waqi‘ah dengan harapan mendapatkan kekayaan, atau bersedekah dengan tujuan memperoleh rezeki yang berlipat ganda.
Menurut Syekh Nawawi, bentuk ikhlas seperti ini berada pada tingkatan paling rendah.
Hal itu karena tujuan utama ibadah lebih banyak diarahkan untuk memperoleh manfaat dunia daripada semata-mata mencari ridha Allah SWT.
Penjelasan Syekh Nawawi Al-Bantani menunjukkan bahwa keikhlasan memiliki tingkatan yang berbeda-beda sesuai dengan tujuan seseorang dalam beribadah.
Semakin murni niat seorang mukmin untuk mengharap ridha Allah SWT tanpa memikirkan balasan apa pun, semakin tinggi pula tingkat ikhlas yang dimilikinya.
Karena itu, ikhlas tidak hanya menjadi syarat diterimanya amal, tetapi juga menjadi ukuran kualitas ibadah seorang hamba di hadapan Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang