Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KH. Imam Jazuli, Lc. MA
Akademisi dan Pengasuh Ponpes Bina Insan Mulia Cirebon

Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Nahnu NU: Dari Ego Sektoral Menuju Harmoni Kolektif

Kompas.com, 7 Juni 2026, 05:25 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DALAM dinamika organisasi sebesar Nahdlatul Ulama (NU), jebakan mentalitas ana wal akhar (aku dan yang lain/mereka) sering kali menjadi celah yang melemahkan potensi besar organisasi. Sikap ini memunculkan fragmentasi, di mana kader terjebak dalam sekat-sekat kelompok, faksi, atau kepentingan personal.

Realitas ini menuntut kita untuk melihat realitas bahwa tantangan zaman di abad kedua NU tidak bisa diselesaikan oleh satu figur atau satu kelompok saja. Menghadapi disrupsi teknologi, tantangan ekonomi umat, dan pergeseran nilai sosial, kita harus menyadari bahwa kekuatan NU terletak pada keragaman potensi yang dimilikinya.

Sudah saatnya orientasi berpikir diubah secara radikal menjadi nahnu (kita). Ini bukan sekadar perubahan leksikal, melainkan transformasi filosofis yang mendalam. Nahnu adalah manifestasi dari semangat ukhuwah nahdliyah (persaudaraan sesama warga NU) yang diterjemahkan ke dalam bahasa profesionalisme modern.

Baca juga: PBNU Tolak Tuduhan Zionisme, Gus Yahya: NU Konsisten Bela Kemerdekaan Palestina

Dalam konsep nahnu, tidak ada lagi istilah kader yang berjalan sendiri-sendiri atau saling meniadakan. Setiap kader—baik dari kalangan intelektual, profesional, birokrat, kiai, hingga aktivis akar rumput—memiliki peran yang saling melengkapi. Kita harus bertransformasi menjadi sebuah super tim yang kompak, di mana kelemahan satu kader ditutupi oleh kelebihan kader lainnya.

Memasuki abad kedua, NU diberkahi dengan limpahan Sumber Daya Manusia (SDM) yang luar biasa. Ulama dan cendekiawan muda NU hari ini tersebar di berbagai sektor strategis, baik di tingkat nasional maupun global. Potensi besar ini tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri atau saling berkompetisi secara tidak sehat.

Agar kebangkitan NU benar-benar terwujud secara nyata, diperlukan langkah strategis yang berjalan beriringan. Langkah pertama diawali dengan Konsolidasi Talenta untuk memetakan dan mengumpulkan para ahli di berbagai bidang seperti teknologi, pendidikan, ekonomi, dan sains ke dalam simpul-simpul strategis NU.

Upaya ini kemudian diperkuat melalui kolaborasi lintas generasi yang menjembatani bentangan pengalaman para kiai senior dengan inovasi serta energi segar dari kaum muda NU, termasuk Gen Z dan Milenial. Seluruh proses tersebut akhirnya bermuara pada Pembangunan Ekosistem yang kondusif, yaitu menciptakan ruang kerja kolaboratif agar SDM hebat dapat bergandengan tangan, bersinergi, dan saling menguatkan.

Transformasi menuju nahnu tidak boleh berhenti sebagai jargon moral atau retorika struktural semata, melainkan harus diinstitusionalkan ke dalam sistem tata kelola organisasi yang modern. Kekuatan jam'iyah (organisasi) harus diletakkan jauh di atas kekuatan figuritas individu, sehingga keberlanjutan perjuangan NU tidak lagi bergantung pada pasang surut kepemimpinan personal, melainkan pada keandalan sistem yang berjalan.

Di era disrupsi informasi ini, manifestasi "kita" juga memerlukan dukungan infrastruktur data yang tunggal dan terintegrasi. Tanpa adanya digitalisasi potensi kader, ego sektoral akan terus subur karena ketidaktahuan antar-lembaga; sebaliknya, keterbukaan data akan memotong birokrasi yang kaku dan mempercepat akselerasi program kerja secara real-time.

Dari aspek materi, harmoni kolektif ini harus bermuara pada kemandirian ekonomi berbasis jamaah. Jika ego sektoral runtuh, jaringan bisnis pesantren, modal warga, dan kepakaran profesional NU dapat dikonsolidasikan menjadi kekuatan korporasi syariah raksasa yang mampu membiayai agenda besar dakwah tanpa harus mendiktekan diri pada kepentingan politik pragmatis luar.

Meruntuhkan ego "ana wal akhar" berarti menumbuhkan kultur tabayyun dan keterbukaan terhadap kritik di internal jam'iyyah NU. Oleh karena itu, perbedaan pandangan di abad kedua ini tidak boleh lagi dibaca sebagai benih perpecahan atau ancaman, melainkan harus dikelola sebagai khazanah intelektual yang memperkaya opsi-opsi strategis organisasi dalam pengambilan keputusan.

Secara teologis, penguatan spirit nahnu ini merupakan upaya menjemput janji Allah SWT bahwa pertolongan-Nya menyertai kebersamaan (yadullah ma'al jama'ah). Ketika jutaan hati dan pikiran kader bergetar dalam frekuensi yang sama, energi spiritual yang tercipta akan melipatgandakan dampak dan keberkahan dari setiap khidmah yang didedikasikan untuk umat.

Baca juga: 3 Tokoh Muda NU Kumpul di Cirebon, Sinyal Regenerasi Kepemimpinan PBNU Menguat

Walhasil, abad kedua NU harus menjadi pembuktian nyata bahwa lompatan peradaban hanya bisa dipimpin oleh mereka yang selesai dengan ego dirinya sendiri. Dengan membumikan filosofi nahnu, NU tidak sekadar bertahan menghadapi arus zaman, melainkan menjelma menjadi kompas moral dan lokomotif kemajuan yang membawa kemaslahatan hakiki bagi dunia internasional.

Kesuksesan abad kedua NU tidak ditentukan oleh satu atau dua tokoh sentral, melainkan oleh orkestrasi jutaan kader yang bergerak dalam satu irama nahnu. Dengan bersatu, meruntuhkan ego ana wal akhar, dan memaksimalkan potensi kolektif, NU akan menjadi lokomotif peradaban yang membawa kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan dunia. Wallahu'alam bissowab.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Arab Saudi Kirim Timeline Haji 2027, Menhaj Irfan: Indonesia Kekurangan Ratusan Dokter dan Perawat
Arab Saudi Kirim Timeline Haji 2027, Menhaj Irfan: Indonesia Kekurangan Ratusan Dokter dan Perawat
Aktual
Wamenhaj Ungkap Dugaan Penipuan Rp 1,4 Miliar Modus Dam dan Badal Haji
Wamenhaj Ungkap Dugaan Penipuan Rp 1,4 Miliar Modus Dam dan Badal Haji
Aktual
Peringatan Rasulullah tentang Bahaya Ketamakan, Satu Lembah Emas Tak Pernah Cukup
Peringatan Rasulullah tentang Bahaya Ketamakan, Satu Lembah Emas Tak Pernah Cukup
Doa dan Niat
Dunia Hanya Senda Gurau, Ini Makna Surah Al-Ankabut Ayat 64
Dunia Hanya Senda Gurau, Ini Makna Surah Al-Ankabut Ayat 64
Doa dan Niat
Haji Masih Dianggap Urusan Nanti, Ini Alasan Jamaah Usia 60 Tahun Lebih Dominan
Haji Masih Dianggap Urusan Nanti, Ini Alasan Jamaah Usia 60 Tahun Lebih Dominan
Aktual
Belanja Oleh-oleh Haji di Al Balad, Jemaah Bisa Tawar-menawar Pakai Bahasa Indonesia
Belanja Oleh-oleh Haji di Al Balad, Jemaah Bisa Tawar-menawar Pakai Bahasa Indonesia
Aktual
Muslim Pro Gandeng Maybank Syariah Hadirkan Ekosistem Haji Digital
Muslim Pro Gandeng Maybank Syariah Hadirkan Ekosistem Haji Digital
Aktual
Menhaj: 47.012 Jemaah Haji Telah Kembali ke Tanah Air
Menhaj: 47.012 Jemaah Haji Telah Kembali ke Tanah Air
Aktual
3 Pesan bagi Jemaah Indonesia yang Bergeser dari Makkah ke Madinah, Termasuk soal City Tour
3 Pesan bagi Jemaah Indonesia yang Bergeser dari Makkah ke Madinah, Termasuk soal City Tour
Aktual
Menengok Semangat Teman Tuli Banyuwangi Mengeja Ayat Suci Lewat Gerak Tangan
Menengok Semangat Teman Tuli Banyuwangi Mengeja Ayat Suci Lewat Gerak Tangan
Aktual
Rahasia Mbah Painah Kuat Jalani Haji: Jalan Kaki Lintasi 5 Desa Jualan Daun Pisang
Rahasia Mbah Painah Kuat Jalani Haji: Jalan Kaki Lintasi 5 Desa Jualan Daun Pisang
Aktual
'Selamat Jalan Jemaah Haji Indonesia, Rinduku Membersamai Mabrurmu..'
"Selamat Jalan Jemaah Haji Indonesia, Rinduku Membersamai Mabrurmu.."
Aktual
Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026, Ini Tata Cara Shalat Gerhana dan Doa yang Dianjurkan
Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026, Ini Tata Cara Shalat Gerhana dan Doa yang Dianjurkan
Doa dan Niat
Jemaah Haji Gelombang Kedua ke Madinah, Kemenhaj Siapkan Layanan Kepulangan
Jemaah Haji Gelombang Kedua ke Madinah, Kemenhaj Siapkan Layanan Kepulangan
Aktual
180.000 Karpet Masjid Nabawi Dicuci Setiap Tahun, Begini Prosesnya
180.000 Karpet Masjid Nabawi Dicuci Setiap Tahun, Begini Prosesnya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com