Editor
KOMPAS.com - Tahun Baru Islam 1 Muharram menjadi momen yang dinantikan umat Muslim untuk memperbanyak ibadah dan melakukan refleksi diri.
Pergantian tahun Hijriah tidak hanya dimaknai sebagai perubahan kalender, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat keimanan serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Di Indonesia, peringatan Tahun Baru Islam tidak hanya berisi kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan masyarakat.
Baca juga: Siap-siap Long Weekend, Ini Jadwal Libur Tahun Baru Islam 1448 H
Tradisi menyambut Tahun Baru Islam di Indonesia berkembang menjadi tradisi yang berpadu dengan nilai-nilai budaya lokal.
Berbagai daerah memiliki cara khas dalam menyambut datangnya 1 Muharram yang terus dijaga dan dilestarikan hingga kini.
Baca juga: Sejarah 1 Muharram Jadi Tahun Baru Islam, Ternyata Bukan Ditetapkan pada Masa Nabi
Dilansir dari Antara, berikut sejumlah tradisi yang masih dijalankan di berbagai daerah.
Salah satu tradisi yang kerap dilakukan umat Islam dalam menyambut Tahun Baru Hijriah adalah mabit di masjid.
Kegiatan ini biasanya diisi dengan istighosah, pembacaan doa akhir tahun, dan dilanjutkan dengan doa awal tahun.
Di sejumlah daerah, mabit juga diisi dengan pengajian, ceramah agama, hingga menginap semalam di masjid.
Banyak jamaah memanfaatkan momen tersebut untuk memperbanyak ibadah dan bermunajat kepada Allah SWT, memohon ampunan serta petunjuk di tahun yang baru.
Tradisi ini bertujuan memperkuat keimanan dan meningkatkan ketakwaan umat Islam menjelang datangnya 1 Muharram.
Pawai obor menjadi salah satu tradisi yang paling meriah dan banyak dinantikan, terutama oleh anak-anak dan remaja.
Tradisi ini dilakukan dengan berjalan mengelilingi kampung atau desa sambil membawa obor dan melantunkan shalawat sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.
Selain menyemarakkan pergantian tahun Hijriah, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat kebersamaan serta menumbuhkan semangat keislaman di tengah masyarakat.
Di sejumlah wilayah Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah, Tahun Baru Islam identik dengan tradisi membuat bubur suro.
Masyarakat biasanya bergotong royong menyiapkan dua jenis bubur, yaitu bubur merah dan bubur putih, yang dimasak secara terpisah.
Setelah pengajian dan doa bersama di masjid, bubur tersebut disajikan dan disantap bersama-sama. Tradisi ini menjadi bentuk rasa syukur sekaligus sarana mempererat silaturahmi antarwarga.
Di Kota Solo, Tahun Baru Islam atau yang dikenal dengan malam 1 Suro diperingati melalui kirab budaya yang sarat nilai tradisi.
Salah satu ciri khasnya adalah kirab kebo bule, yakni arak-arakan kerbau albino milik Keraton Surakarta yang dianggap sebagai hewan keramat peninggalan Kyai Slamet.
Kirab tersebut biasanya disertai pengawalan pusaka keraton dan menjadi bagian penting dari rangkaian upacara budaya yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat Solo.
Tradisi Tabuik menjadi salah satu perayaan Tahun Baru Islam yang paling dikenal di Pariaman, Sumatera Barat.
Masyarakat setempat membuat replika buraq yang disebut tabuik sebagai bentuk penghormatan kepada cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Husain, yang gugur dalam peristiwa Karbala.
Tabuik umumnya digelar menjelang atau pada 10 Muharram. Puncak acaranya berupa arak-arakan tabuik yang diiringi musik dan tarian tradisional, kemudian dilarung ke laut sebagai simbol kembalinya arwah Imam Husain ke sisi Allah SWT.
Beragam tradisi menyambut Tahun Baru Islam di Indonesia menunjukkan bagaimana nilai-nilai keagamaan berpadu dengan budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Mulai dari mabit di masjid, pawai obor, bubur suro, kirab kebo bule, hingga Tabuik, seluruhnya menjadi bagian dari kekayaan tradisi yang memperkuat semangat kebersamaan sekaligus mengingatkan umat Islam akan makna hijrah, refleksi diri, dan peningkatan kualitas ibadah di awal tahun Hijriah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang