Editor
KOMPAS.com - Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) memberikan apresiasi terhadap langkah Kementerian Agama (Kemenag) dalam menghadirkan transformasi pendidikan melalui Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi.
Kedua program tersebut dinilai mampu menerjemahkan nilai-nilai keagamaan menjadi pendekatan pendidikan yang konkret serta berdampak positif bagi guru maupun peserta didik.
Apresiasi tersebut disampaikan Perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Maniza Zaman, saat bertemu Menteri Agama Nasaruddin Umar di Kantor Pusat Kementerian Agama, Jakarta.
Pertemuan itu membahas penguatan kerja sama di bidang pendidikan keagamaan, perlindungan anak, dan pembangunan pendidikan yang inklusif serta berkelanjutan.
Baca juga: Kemenag Tekankan Kurikulum Cinta di Penutupan Olimpiade PAI 2025
Maniza Zaman menyatakan bahwa praktik-praktik baik yang telah dikembangkan Kementerian Agama layak didokumentasikan dan diperluas agar dapat menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan.
"Berbagai praktik baik tersebut perlu didokumentasikan, diukur, dan dipromosikan agar dapat menjadi pembelajaran yang lebih luas," ujar Maniza di Jakarta, Senin (20/7/2026).
UNICEF juga mengapresiasi kemitraan yang terjalin dengan Kementerian Agama melalui Nota Kesepahaman (MoU) 2024–2028 bersama Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam.
Kerja sama tersebut telah melahirkan berbagai inisiatif untuk meningkatkan kesejahteraan anak di Indonesia.
Ke depan, UNICEF mengusulkan sejumlah langkah lanjutan, antara lain memperluas implementasi Pesantren Ramah Anak dan Madrasah Ramah Anak, mengembangkan keterampilan peserta didik yang responsif gender dan inklusif, memperkuat implementasi Ekoteologi dalam aksi iklim, hingga menjajaki pemanfaatan pembiayaan sosial syariah untuk mendukung kesejahteraan anak.
Dalam kesempatan itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa perubahan karakter bangsa tidak mungkin tercapai tanpa pembaruan sistem pendidikan secara menyeluruh.
"Jika kita ingin melakukan perubahan nyata dalam karakter anak bangsa, kita harus berani mengubah sistem pendidikannya," kata Menag.
Menurut Nasaruddin, transformasi pendidikan harus dibangun di atas tiga fondasi utama, yaitu Tauhid sebagai landasan spiritual, Logos sebagai kemampuan berpikir rasional, dan Ethics sebagai pedoman moral.
Ketiga unsur tersebut kemudian diwujudkan dalam Ethos, yakni perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menilai tantangan pendidikan saat ini tidak cukup dijawab dengan perubahan materi pelajaran semata.
Yang lebih penting adalah membangun budaya belajar, keteladanan guru, serta lingkungan pendidikan yang mampu membentuk karakter peserta didik.
Menag menjelaskan, Kurikulum Berbasis Cinta dirancang untuk menumbuhkan kecintaan kepada Allah, diri sendiri, sesama manusia, dan lingkungan.
Pendekatan tersebut tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu, tetapi juga pengalaman nyata dalam menghidupkan nilai kasih sayang dalam proses belajar mengajar.
"Kita ingin pendidikan melahirkan manusia yang mencintai sesama, menghargai perbedaan, dan menjaga alam sebagai bagian dari tanggung jawab kepada Tuhan," ujarnya.
Menurut Menag, implementasi kurikulum yang telah berjalan selama dua tahun mulai menunjukkan perubahan positif di kalangan pendidik.
Guru yang sebelumnya masih menggunakan pendekatan hukuman fisik kini mulai mengedepankan dialog, kasih sayang, dan pembinaan yang lebih humanis.
Selain Kurikulum Berbasis Cinta, Kementerian Agama juga terus mengembangkan konsep Ekoteologi sebagai pendekatan yang menghubungkan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam dalam satu kesatuan.
Nasaruddin menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar tanggung jawab sosial, tetapi juga bagian dari pengamalan ajaran agama.
Menurutnya, berbagai persoalan lingkungan seperti perubahan iklim dan kerusakan ekosistem harus dijawab melalui pendidikan yang menanamkan kesadaran ekologis sejak dini.
"Kesadaran spiritual ini penting karena dengan menjaga harmoni bersama alam, kita sedang menyelamatkan lingkungan hidup dan memperpanjang keberlangsungan kehidupan," katanya.
Sebagai tindak lanjut, Kementerian Agama telah menyusun buku panduan resmi Ekoteologi dan tengah menyiapkan studi komprehensif untuk mengukur efektivitas implementasinya dalam membentuk perilaku peserta didik.
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Agama juga menyoroti pentingnya penguatan tata kelola pesantren seiring meningkatnya perhatian terhadap perlindungan anak.
Ia menegaskan bahwa maraknya kasus kekerasan terhadap anak serta munculnya lembaga yang mengatasnamakan pesantren tanpa memenuhi ketentuan menjadi perhatian serius pemerintah.
Baca juga: Menag Perkenalkan Kurikulum Berbasis Cinta untuk Moderasi Beragama dan Perlindungan Minoritas
Karena itu, Kementerian Agama terus memperkuat pemenuhan standar kelembagaan pesantren, perlindungan santri, peningkatan kualitas pengasuhan, hingga penegakan hukum agar pesantren tetap menjadi lembaga pendidikan Islam yang aman, tepercaya, dan membawa keberkahan.
Menutup pertemuan, Nasaruddin menegaskan bahwa keberhasilan transformasi pendidikan membutuhkan kolaborasi semua pihak, mulai dari pemerintah, satuan pendidikan, guru, orang tua, hingga mitra pembangunan internasional seperti UNICEF.
Sinergi tersebut diharapkan mampu memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi sehingga melahirkan generasi yang unggul secara akademik, berakhlak mulia, menghargai keberagaman, peduli terhadap sesama, serta memiliki kesadaran menjaga bumi sebagai amanah bagi generasi mendatang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang