Editor
KOMPAS.com - Muadzin memiliki peran penting dalam syiar Islam sebagai orang yang mengumandangkan adzan dan mengajak umat menunaikan shalat berjamaah.
Tugas tersebut tidak hanya bersifat fungsional, tetapi juga memiliki nilai ibadah dan keutamaan yang besar di sisi Allah SWT.
Sejumlah hadits shahih menjelaskan berbagai keistimewaan yang dijanjikan bagi orang yang menjadi muadzin.
Baca juga: Kisah Bilal bin Rabah: Dari Budak Sahaya Hingga Menjadi Muadzin Pertama
Dilansir dari Antara, berikut delapan keutamaan muadzin dalam Islam berdasarkan hadits shahih.
Baca juga: Kisah Bilal bin Rabah: Sang Muadzin Rasulullah SAW
Setiap makhluk yang mendengar suara adzan, baik manusia, jin, maupun benda-benda di sekitarnya, akan menjadi saksi bagi muadzin pada Hari Kiamat. Hal ini menunjukkan luasnya pengaruh adzan sebagai syiar Islam sekaligus besarnya pahala yang diterima muadzin.
Muadzin memperoleh ampunan dari Allah SWT sejauh suara adzannya terdengar. Selain itu, seluruh makhluk yang mendengar adzan turut memohonkan ampunan untuknya.
Muadzin juga mendapatkan pahala yang setara dengan pahala orang-orang yang datang memenuhi panggilan adzan dan melaksanakan shalat. Keutamaan ini menunjukkan besarnya ganjaran bagi mereka yang mengajak umat menunaikan ibadah.
Rasulullah SAW mendoakan agar para muadzin memperoleh petunjuk dari Allah SWT. Doa tersebut menjadi salah satu bentuk penghormatan atas peran penting muadzin dalam menjaga syiar Islam.
Dalam hadits disebutkan bahwa muadzin akan memiliki leher yang panjang pada Hari Kiamat. Hal itu dipahami sebagai simbol kemuliaan dan kedudukan yang tinggi di hadapan Allah SWT.
Allah SWT membanggakan para muadzin di hadapan para malaikat karena keikhlasan mereka dalam menyerukan adzan dan mengajak manusia menunaikan shalat.
Muadzin yang mengumandangkan adzan dengan penuh keikhlasan serta mendirikan shalat karena takut kepada Allah SWT dijanjikan surga sebagai balasan atas amal ibadahnya.
Muadzin juga memiliki keutamaan berupa doa yang tidak ditolak oleh Allah SWT. Keistimewaan ini menjadi salah satu bentuk kemuliaan yang diberikan kepada orang yang menghidupkan syiar adzan.
Dalam sejarah Islam, Bilal bin Rabah dikenal sebagai muadzin pertama yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah SAW.
Ia dikenang karena suara adzannya yang menggugah hati serta keteguhannya mempertahankan keimanan saat mengalami penyiksaan ketika masih menjadi budak di Makkah.
Bilal bin Rabah dipercaya Rasulullah SAW untuk mengumandangkan adzan pertama dalam Islam.
Karena itu, di sejumlah daerah, istilah bilal juga digunakan untuk menyebut orang yang bertugas mengumandangkan adzan.
Dilansir dari laman Baznas, salah satu kisah yang paling dikenang adalah saat Bilal kembali ke Madinah setelah lama menetap di Syam. Atas permintaan cucu Rasulullah SAW, ia kembali mengumandangkan adzan.
Ketika Bilal sampai pada lafaz "Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah", seluruh penduduk Madinah menangis karena teringat kepada Rasulullah SAW.
Momen tersebut dikenang sebagai salah satu peristiwa paling mengharukan dalam sejarah Islam dan sering dikaitkan dengan azan terakhir Bilal bin Rabah sebelum wafat.
Azan tersebut menjadi simbol kerinduan mendalam kepada Rasulullah SAW sekaligus menjadi kenangan yang terus hidup dalam sejarah perjalanan Islam.
Berbagai keutamaan tersebut menunjukkan bahwa tugas muadzin bukan hanya mengumandangkan adzan sebagai penanda waktu shalat.
Muadzin juga menjalankan peran dakwah dengan mengingatkan umat Islam agar menunaikan kewajiban shalat tepat waktu.
Karena itu, ganjaran yang besar dijanjikan bagi mereka yang menjalankan tugas tersebut dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang