Penulis
KOMPAS.com – Sabtu, 1 Agustus 2026 bertepatan dengan 16 Safar 1448 Hijriah berdasarkan kalender Hijriah yang umum digunakan di Indonesia. Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam penanggalan Islam setelah Muharram.
Dalam tradisi masyarakat Muslim, bulan Safar kerap dikaitkan dengan berbagai mitos dan kepercayaan. Padahal, Islam telah memberikan penjelasan yang tegas mengenai kedudukan bulan ini.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ
"Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada kesialan karena burung, tidak ada keyakinan tentang burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR Al-Bukhari No. 5757 dan Muslim No. 2220)
Hadis tersebut menjadi landasan bahwa bulan Safar bukanlah bulan sial sebagaimana keyakinan sebagian masyarakat Arab pada masa jahiliah.
Baca juga: Khutbah Jumat 31 Juli 2026: Mengatasi Kecemasan karena Mitos di Bulan Safar
Berbeda dengan bulan Ramadan, Zulhijah, atau Muharram yang memiliki sejumlah ibadah khusus, tidak terdapat dalil sahih yang menetapkan amalan tertentu pada tanggal 16 Safar maupun 1 Agustus 2026.
Karena itu, umat Islam tidak dianjurkan mengkhususkan ibadah tertentu dengan keyakinan bahwa hari tersebut memiliki keutamaan khusus apabila tidak didukung dalil yang sahih.
Para ulama menjelaskan bahwa seluruh hari dalam Islam merupakan kesempatan untuk memperbanyak amal saleh.
Meskipun tidak ada ibadah khusus pada 16 Safar, seorang Muslim tetap dianjurkan memperbanyak zikir dan doa setiap hari.
Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya." (QS. Al-Ahzab: 41)
Membaca, mentadabburi, dan mengamalkan Al-Qur'an merupakan ibadah yang tidak dibatasi oleh waktu tertentu.
Setiap huruf yang dibaca bernilai pahala sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadis Nabi Muhammad SAW.
Sedekah juga menjadi amalan yang dianjurkan kapan saja.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sedekah tidak akan mengurangi harta." (HR. Muslim No. 2588)
Amalan ini tidak hanya membawa manfaat bagi penerimanya, tetapi juga menjadi sarana membersihkan harta dan hati pemberinya.
Islam juga mendorong umatnya untuk terus mempererat hubungan persaudaraan.
Menjaga silaturahmi termasuk amal yang dicintai Allah dan menjadi sebab bertambahnya keberkahan hidup.
Di sejumlah daerah masih berkembang anggapan bahwa bulan Safar identik dengan kesialan sehingga sebagian orang menghindari bepergian, menikah, atau memulai usaha pada bulan tersebut.
Keyakinan seperti ini tidak memiliki dasar dalam syariat Islam.
Dilansir dari situs MUI, para ulama menjelaskan bahwa segala bentuk keberuntungan maupun musibah terjadi atas kehendak Allah SWT, bukan karena nama atau waktu suatu bulan.
Oleh sebab itu, seorang Muslim hendaknya menggantungkan harapan dan tawakal hanya kepada Allah, bukan kepada mitos yang berkembang di masyarakat.
Tanggal 1 Agustus 2026 atau 16 Safar 1448 H memang tidak memiliki keutamaan khusus sebagaimana hari-hari besar Islam.
Namun, bukan berarti hari tersebut kehilangan nilai ibadah.
Baca juga: Benarkah Bulan Safar Membawa Malapetaka? Ini Penjelasan Islam dan Dalil Haditsnya
Justru Islam mengajarkan agar setiap hari dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui salat tepat waktu, membaca Al-Qur'an, berzikir, bersedekah, membantu sesama, dan memperbaiki akhlak.
Dengan demikian, yang menentukan kemuliaan seorang hamba bukanlah tanggal yang dijalani, melainkan amal saleh yang dilakukan pada setiap kesempatan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang