Penulis
KOMPAS.com – Ungkapan "Hubbul wathan minal iman" (حب الوطن من الإيمان) sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Kalimat ini kerap disampaikan dalam ceramah, pidato kebangsaan, hingga peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Secara bahasa, hubbul wathan minal iman berarti "mencintai tanah air adalah bagian dari iman."
Ungkapan tersebut menjadi salah satu semboyan yang sering digunakan untuk menegaskan bahwa seorang Muslim dapat mencintai negaranya tanpa mengurangi ketaatan kepada Allah SWT.
Namun, muncul pertanyaan yang cukup sering diajukan: benarkah kalimat tersebut merupakan hadis Nabi Muhammad SAW?
Baca juga: Sambut Kemerdekaan RI, Kemenag Gelar Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas
Para ulama ahli hadis menjelaskan bahwa ungkapan "hubbul wathan minal iman" tidak ditemukan memiliki sanad yang sahih dari Rasulullah SAW.
Beberapa ulama, seperti Imam As-Sakhawi dalam Al-Maqashid Al-Hasanah dan Mulla Ali Al-Qari dalam Al-Asrar Al-Marfu'ah, menyebutkan bahwa kalimat tersebut masyhur di tengah masyarakat, tetapi tidak memiliki dasar sebagai hadis Nabi yang dapat dipertanggungjawabkan sanadnya.
Karena itu, kalimat tersebut tidak tepat dinisbatkan sebagai sabda Rasulullah SAW.
Meski demikian, para ulama juga menjelaskan bahwa makna ungkapan tersebut dapat dibenarkan selama dipahami sesuai prinsip-prinsip syariat Islam, yaitu mencintai negeri sebagai tempat menegakkan agama, menjaga keamanan, dan mewujudkan kemaslahatan bersama.
Walaupun ungkapan tersebut bukan hadis sahih, terdapat sejumlah dalil yang menunjukkan kecintaan Rasulullah SAW terhadap tanah kelahirannya.
Saat harus berhijrah ke Madinah, Rasulullah SAW memandang Kota Makkah seraya bersabda:
"Demi Allah, engkau adalah negeri Allah yang paling baik dan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaummu tidak mengusirku, niscaya aku tidak akan meninggalkanmu."
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan dinilai hasan sahih oleh sejumlah ulama.
Riwayat tersebut menunjukkan bahwa mencintai tempat kelahiran merupakan fitrah manusia dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Setelah hijrah, Rasulullah SAW juga memanjatkan doa agar Allah menumbuhkan rasa cinta kepada Kota Madinah.
Beliau berdoa:
"Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Makkah, atau bahkan lebih dari itu."
Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.
Doa tersebut menjadi bukti bahwa Islam mengajarkan kecintaan terhadap negeri tempat seseorang hidup dan beribadah.
Dalam perspektif Islam, mencintai tanah air bukan hanya diwujudkan melalui ucapan.
Rasa cinta kepada bangsa dan negara tercermin dalam berbagai bentuk amal saleh, seperti:
Nilai-nilai tersebut sejalan dengan tujuan syariat (maqashid syariah) yang berorientasi pada terjaganya agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan.
Di Indonesia, ungkapan hubbul wathan minal iman telah lama menjadi bagian dari narasi keislaman dan kebangsaan.
Organisasi-organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU) sering menggunakan ungkapan tersebut sebagai pengingat bahwa menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan bagian dari ikhtiar mewujudkan kemaslahatan bersama.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menegaskan bahwa mencintai tanah air, menjaga persatuan, dan mempertahankan keutuhan bangsa merupakan kewajiban warga negara yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.
Karena itu, meskipun ungkapan hubbul wathan minal iman bukan hadis Nabi, substansi yang dikandungnya tetap memiliki landasan dalam ajaran Islam selama dipahami secara proporsional dan tidak disandarkan sebagai sabda Rasulullah SAW.
Ungkapan hubbul wathan minal iman mengajarkan dua hal penting.
Pertama, umat Islam harus berhati-hati ketika mengutip hadis agar tidak menisbatkan perkataan kepada Rasulullah SAW tanpa dasar yang kuat.
Baca juga: Doa Para Pahlawan untuk Mengenang Jasa Pejuang Kemerdekaan Indonesia
Kedua, kecintaan kepada tanah air dapat diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti menjaga persatuan, menghormati hukum, menolong sesama, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Dengan demikian, cinta tanah air bukan sekadar semboyan, melainkan bagian dari akhlak seorang Muslim yang ingin menghadirkan manfaat bagi masyarakat dan negaranya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang