Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pesan Penting Kiai Nuh: Kolaborasi, Bukan Kompetisi di Muktamar NU

Kompas.com, 10 Agustus 2026, 07:39 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof KH Mohammad Nuh menyerukan pentingnya sikap kolaboratif dibandingkan kompetitif dalam pemilihan Ketua Umum PBNU pada Muktamar NU ke-35.

Muktamar ini menandai akhir abad pertama NU sekaligus pembuka abad kedua.

Seruan tersebut disampaikan Kiai Nuh saat memberikan sambutan dalam pembukaan pra-Muktamar NU ke-35 di Pesantren Cendekia Amanah, Depok, pada Sabtu (8/8/2026).

Kiai Nuh menyebut Muktamar ke-35 sebagai momentum penyambung segala kebaikan yang diwariskan para masyayikh kepada generasi penerus NU di abad kedua.

Baca juga: Dokter NU Usul Kesehatan Jadi Agenda Strategis Muktamar NU, Soroti AI hingga Kesehatan Mental

Ia mengingatkan agar warga NU tetap menjadi penghubung yang senang di tengah nuansa kontestasi.

“Mukmatar ini adalah muktamar pertama di abad kedua, dari situlah kita ingin Muktamar ini semuanya senang gembira, meskipun ada tanda petik suasana kompetisi, ayo sama-sama ini 100 tahun NU harus gembira senang, jangan sampai kita terjebak dalam urusan pilih memilih tetapi ini semua adalah keluarga besar Nahdlatul Ulama, maka harus senang, sejuk, berkualitas, dan bermartabat. Kita kolaborasi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (10/8/2026).

Makna dan Transisi Abad

Kiai Nuh mengajak muktamirin dan warga NU untuk merenungkan tiga makna penting dari Muktamar ke-35.

Ia menekankan pentingnya menyalurkan nilai-nilai yang telah ditanam oleh para masyayikh NU di abad pertama menuju abad kedua.

“Jangan sampai abad pertama energi positifnya itu tidak bisa disalurkan gara-gara apa? Pilihan yang berbeda, sehingga kita sekali lagi berada di generasi penyambung antara abad pertama dengan abad kedua. Kita ini akhir di abad pertama dan awal di abad kedua," katanya.

Energi positif yang dimaksud meliputi keikhlasan, keilmuan dan keagamaan, ketangguhan dalam perjuangan, serta kemaslahatan dalam berkhidmat.

Energi ini diharapkan dapat tersambung ke abad kedua.

Ujian dan Muhasabah Organisasi

Kiai Nuh juga mengingatkan akan adanya ujian dalam setiap dinamika perkembangan NU sebagai organisasi besar.

Masa peralihan dari abad pertama ke abad kedua harus dijadikan bahan muhasabah agar NU dapat terus berkembang selama 100 tahun ke depan.

“Kalau anak SD dan SMP saja ada ujiannya, SMP ke SMA ada ujiannya, MI ke MA ada ujiannya masa dari abad kesatu ke abad kedua enggak ada ujiannya? Pasti ada ujiannya. Oleh karena itu kita renungkan dengan baik, apa ujian yang pernah kita alami dari abad pertama menuju abad kedua? Mohon izin, mari kita renungkan, yang paling mahal ujiannya itu adalah ujian tentang keadaban, tentang akhlak, itu ujian yang paling mahal. Apakah kita sudah lulus dari akhlak kita selama di abad pertama menuju ke abad kedua? Lalu kejujuran dan tanggung jawab, kebersamaan dalam perkhidmatan, ini materi-materi ujiannya. Kalau kita lulus, kita boleh mengikuti abad kedua, kalau belum lulus kita ujian ulang lagi,” jelasnya.

Investasi Masa Depan NU

Kiai Nuh menekankan perlunya gagasan dan aksi konkret yang matang agar NU tidak hanya mempertahankan eksistensinya, tetapi juga berkembang menjadi organisasi yang luar biasa.

Ia menegaskan, investasi besar-besaran diperlukan pada tiga sektor dalam NU, yaitu human capital atau sumber daya manusia yang mumpuni, tata kelola, dan sektor riil.

Ia memperingatkan bahwa jika NU tidak berani memasuki sektor riil, organisasi tersebut berisiko stagnan dan menurun.

Sebaliknya, investasi di sektor riil akan menjadikan NU organisasi besar yang semakin luar biasa.

Baca juga: 30 Hari Jelang Muktamar NU, Survei Insantara: KH Imam Jazuli Teratas

“Pertanyaannya kalau kita masuk ke sektor riil maka kita harus berani mengevaluasi diri, muhasabah, selama 100 tahun ini apa penemuan NU yang paling top, baik di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi. Kalau kita enggak berani menjawab, berarti kita sedang escaping, sedang melarikan diri dari kenyataan dari kehidupan. Kita khawatir kalau kita enggak kuat sektor riil, maka sektor riil dikuasai orang lain, itu kita terjebak di kebesaran yang sifatnya semu. Oleh karena itu mau enggak mau ke depan kita harus perkuat ke sektor riil. Mudah-mudahan kita semua bagian dari mujaddid yang pernah digaungkan Nabi,” paparnya.

Dalam konteks ini, Kiai Nuh mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Daud, “Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini pada setiap pengujung seratus tahun seseorang yang membarui agamanya.”

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Pramuktamar NU Bahas Kripto hingga Pajak, Kiai Cholil Nafis: Belum Ada Keputusan, Baru Matangkan Materi
Pramuktamar NU Bahas Kripto hingga Pajak, Kiai Cholil Nafis: Belum Ada Keputusan, Baru Matangkan Materi
Aktual
Tak Sekadar Tempat Shalat, Ini Fungsi Masjid Zaman Rasulullah
Tak Sekadar Tempat Shalat, Ini Fungsi Masjid Zaman Rasulullah
Aktual
Cerita 97 Keluarga Nelayan Manggarai Barat Bangun Kemandirian dari Dana Zakat
Cerita 97 Keluarga Nelayan Manggarai Barat Bangun Kemandirian dari Dana Zakat
Aktual
MUI Ungkap Alasan Fatwa di Indonesia Tak Bisa Diseragamkan
MUI Ungkap Alasan Fatwa di Indonesia Tak Bisa Diseragamkan
Aktual
Pesan Penting Kiai Nuh: Kolaborasi, Bukan Kompetisi di Muktamar NU
Pesan Penting Kiai Nuh: Kolaborasi, Bukan Kompetisi di Muktamar NU
Aktual
Kelakar Cholil Nafis soal Ketum PBNU: Saya Tak Berani Mencalonkan Diri, Merasa Tidak Kompeten
Kelakar Cholil Nafis soal Ketum PBNU: Saya Tak Berani Mencalonkan Diri, Merasa Tidak Kompeten
Aktual
Tayamum: Tata Cara, Niat, Syarat, dan Hal-Hal yang Perlu Diketahui
Tayamum: Tata Cara, Niat, Syarat, dan Hal-Hal yang Perlu Diketahui
Doa dan Niat
Dua Hafidz Muda Kaltim Wakili Indonesia di MTQ Internasional Maroko
Dua Hafidz Muda Kaltim Wakili Indonesia di MTQ Internasional Maroko
Aktual
Doa Tahajud Farrah, Santri Medan yang Lolos Beasiswa S1-S2 dan Al-Azhar Kairo
Doa Tahajud Farrah, Santri Medan yang Lolos Beasiswa S1-S2 dan Al-Azhar Kairo
Aktual
Tak Hanya Tenda dan Tali-temali, Pramuka Santri Diajak Belajar Merawat Bumi
Tak Hanya Tenda dan Tali-temali, Pramuka Santri Diajak Belajar Merawat Bumi
Aktual
Assalamualaikum Artinya Apa? Ini Tulisan, Jawaban, dan Adabnya dalam Islam
Assalamualaikum Artinya Apa? Ini Tulisan, Jawaban, dan Adabnya dalam Islam
Doa dan Niat
Mengenal Ecotheopedagogy, Cara Pendidikan Islam Menjaga Alam
Mengenal Ecotheopedagogy, Cara Pendidikan Islam Menjaga Alam
Aktual
Tahajud, PBB, hingga Api Unggun: Cara MAN 2 Bandung Bentuk Karakter Murid Baru
Tahajud, PBB, hingga Api Unggun: Cara MAN 2 Bandung Bentuk Karakter Murid Baru
Aktual
Astaghfirullah Artinya Apa? Ketahui Makna, Keutamaan, dan Tulisan Arabnya
Astaghfirullah Artinya Apa? Ketahui Makna, Keutamaan, dan Tulisan Arabnya
Doa dan Niat
Vegetarian Makin Populer di Arab Saudi, Pola Makan Warga Mulai Bergeser
Vegetarian Makin Populer di Arab Saudi, Pola Makan Warga Mulai Bergeser
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar