Editor
KOMPAS.com — Pertanyaan yang diajukan Putri Milenia Gusdian kepada seorang santri kelas VII di Singkut, Jambi, sebenarnya sederhana. Ia meminta santri tersebut membaca arti salah satu hadis dalam buku 101 Hadits Budi Luhur.
Namun, santri itu mengaku belum dapat membaca dengan baik meski telah memasuki jenjang sekolah menengah pertama (SMP).
“Waktu SD enggak terlalu diperhatikan, Mbak,” kata santri tersebut kepada Putri.
Baca juga: Wamenag Puji Gus Miftah: Dakwah Kasih Sayang Perkuat Persatuan Umat
Jawaban itu membuat Putri terdiam. Sebagai Dai Penggerak 3T yang ditugaskan di Singkut, ia awalnya datang dengan sejumlah rencana untuk mengajar, mendampingi santri, dan mengisi berbagai kegiatan dakwah.
Namun, perjumpaan dengan santri tersebut membuatnya menyadari bahwa dakwah tidak selalu dimulai dengan menyampaikan materi yang telah dipersiapkan.
“Kadang, dakwah justru dimulai dari kesediaan untuk melihat lebih dekat apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh orang-orang yang kita temui,” ujar Putri dikutip dari NU Online, Minggu (13/9/2026).
Putri menjalankan penugasan bersama Rif’atus Syamsiyah di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Singkut, sejak akhir Agustus 2026.
Keduanya datang dengan bekal keilmuan dan pengalaman serta sejumlah rencana kegiatan yang akan dilaksanakan selama penugasan.
Namun, setelah berinteraksi dengan para santri dan masyarakat sekitar, mereka menemukan kebutuhan yang tidak seluruhnya tercakup dalam program yang telah disiapkan.
Selain santri kelas VII, Putri juga bertemu dengan seorang siswa kelas III sekolah dasar yang belum dapat membaca dengan baik.
Baca juga: Ziarah ke Taif, Menelusuri Jejak Dakwah Rasulullah di Masjid Abdullah bin Abbas
Putri dan Rif’atus kemudian mencoba mendampingi anak tersebut belajar membaca. Pendampingan dilakukan tanpa menggunakan metode yang rumit.
Mereka duduk bersama anak itu, membantunya mengenali bacaan, serta memberikan perhatian selama proses belajar.
“Dalam pendidikan, kehadiran seseorang untuk membersamai proses belajar bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti,” kata Putri.
Pendampingan serupa sulit diberikan kepada santri kelas VII karena keterbatasan waktu belajar yang dapat mereka temukan. Sementara itu, siswa kelas III tersebut lebih memungkinkan untuk didampingi secara langsung karena tinggal bersama mereka.
Pengalaman selama bertugas di Singkut membuat Putri melihat persoalan pendidikan dari sudut pandang berbeda.
Menurut dia, pembicaraan mengenai keterbatasan pendidikan sering kali diarahkan pada daerah yang secara geografis jauh dari pusat pendidikan, termasuk kawasan Indonesia timur.
Namun, keterbatasan serupa juga dapat dijumpai di wilayah Indonesia bagian barat.
Temuan itu menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak selalu ditentukan oleh pembagian geografis. Kondisi keluarga, lingkungan, akses pendampingan, dan perhatian terhadap proses belajar juga dapat memengaruhi kemampuan anak.
Putri mengatakan, kebutuhan setiap anak juga tidak selalu sama. Sebagian di antara mereka mungkin tidak langsung membutuhkan metode pembelajaran yang kompleks, tetapi perhatian dan seseorang yang bersedia mendampingi.
“Ada anak yang mungkin hanya membutuhkan seseorang untuk duduk di sampingnya dan membantunya membaca,” ujarnya.
Putri juga mengingat pesan seorang pengasuh yang mereka sapa dengan panggilan Abah sebelum menjalankan kegiatan di pesantren.
Saat itu, Putri dan Rif’atus menyampaikan sejumlah mata pelajaran yang dapat mereka ajarkan. Keduanya sempat berpikir bahwa seseorang seharusnya hanya mengajar bidang yang benar-benar menjadi keahliannya.
Namun, pengasuh tersebut mengingatkan agar ilmu yang dimiliki tetap disampaikan kepada orang yang membutuhkan.
“Tidak terlalu penting keahliannya. Apa pun ilmu yang kita punya, maka sampaikan,” demikian pesan pengasuh tersebut.
Bagi Putri, pesan itu semakin bermakna setelah ia melihat langsung kebutuhan para santri.
Kehadiran pengajar tidak selalu harus dimulai dengan penguasaan bidang yang rumit, tetapi dapat diwujudkan melalui kesediaan membantu anak mempelajari kemampuan dasar.
Selama berada di pesantren, Putri dan Rif’atus juga memperhatikan kebiasaan sebagian santri meletakkan buku tulis, buku pelajaran, dan kitab tanpa tertata.
Menurut Putri, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut kerapian. Buku dan kitab merupakan sarana yang menghubungkan santri dengan ilmu yang sedang dipelajari.
Karena itu, membiasakan santri menjaga buku dan kitab juga menjadi bagian dari pendampingan yang dilakukan keduanya.
Pengalaman tersebut membuat Putri memaknai kembali bentuk dakwah. Menurut dia, dakwah tidak harus selalu diawali dengan kegiatan besar atau penyampaian materi di hadapan banyak orang.
Dakwah dapat dimulai dari percakapan, mendengarkan persoalan masyarakat, menemani anak belajar membaca, dan mengajarkan cara menghargai sarana belajar.
“Ilmu tidak hanya membutuhkan orang yang menyampaikannya. Ilmu juga membutuhkan seseorang yang bersedia hadir dan membersamai orang lain untuk menemukannya,” kata Putri.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.