Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketika Dakwah di Singkut Dimulai dengan Menemani Anak Belajar Membaca

Kompas.com, 13 September 2026, 13:25 WIB
Reni Susanti

Editor

Sumber NU Online

KOMPAS.com — Pertanyaan yang diajukan Putri Milenia Gusdian kepada seorang santri kelas VII di Singkut, Jambi, sebenarnya sederhana. Ia meminta santri tersebut membaca arti salah satu hadis dalam buku 101 Hadits Budi Luhur.

Namun, santri itu mengaku belum dapat membaca dengan baik meski telah memasuki jenjang sekolah menengah pertama (SMP).

“Waktu SD enggak terlalu diperhatikan, Mbak,” kata santri tersebut kepada Putri.

Baca juga: Wamenag Puji Gus Miftah: Dakwah Kasih Sayang Perkuat Persatuan Umat

Jawaban itu membuat Putri terdiam. Sebagai Dai Penggerak 3T yang ditugaskan di Singkut, ia awalnya datang dengan sejumlah rencana untuk mengajar, mendampingi santri, dan mengisi berbagai kegiatan dakwah.

Namun, perjumpaan dengan santri tersebut membuatnya menyadari bahwa dakwah tidak selalu dimulai dengan menyampaikan materi yang telah dipersiapkan.

“Kadang, dakwah justru dimulai dari kesediaan untuk melihat lebih dekat apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh orang-orang yang kita temui,” ujar Putri dikutip dari NU Online, Minggu (13/9/2026).

Menemukan anak yang belum lancar membaca

Putri menjalankan penugasan bersama Rif’atus Syamsiyah di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Singkut, sejak akhir Agustus 2026.

Keduanya datang dengan bekal keilmuan dan pengalaman serta sejumlah rencana kegiatan yang akan dilaksanakan selama penugasan.

Namun, setelah berinteraksi dengan para santri dan masyarakat sekitar, mereka menemukan kebutuhan yang tidak seluruhnya tercakup dalam program yang telah disiapkan.

Selain santri kelas VII, Putri juga bertemu dengan seorang siswa kelas III sekolah dasar yang belum dapat membaca dengan baik.

Baca juga: Ziarah ke Taif, Menelusuri Jejak Dakwah Rasulullah di Masjid Abdullah bin Abbas

Putri dan Rif’atus kemudian mencoba mendampingi anak tersebut belajar membaca. Pendampingan dilakukan tanpa menggunakan metode yang rumit.

Mereka duduk bersama anak itu, membantunya mengenali bacaan, serta memberikan perhatian selama proses belajar.

“Dalam pendidikan, kehadiran seseorang untuk membersamai proses belajar bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti,” kata Putri.

Pendampingan serupa sulit diberikan kepada santri kelas VII karena keterbatasan waktu belajar yang dapat mereka temukan. Sementara itu, siswa kelas III tersebut lebih memungkinkan untuk didampingi secara langsung karena tinggal bersama mereka.

Persoalan pendidikan juga ditemukan di wilayah barat

Pengalaman selama bertugas di Singkut membuat Putri melihat persoalan pendidikan dari sudut pandang berbeda.

Menurut dia, pembicaraan mengenai keterbatasan pendidikan sering kali diarahkan pada daerah yang secara geografis jauh dari pusat pendidikan, termasuk kawasan Indonesia timur.

Namun, keterbatasan serupa juga dapat dijumpai di wilayah Indonesia bagian barat.

Temuan itu menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak selalu ditentukan oleh pembagian geografis. Kondisi keluarga, lingkungan, akses pendampingan, dan perhatian terhadap proses belajar juga dapat memengaruhi kemampuan anak.

Putri mengatakan, kebutuhan setiap anak juga tidak selalu sama. Sebagian di antara mereka mungkin tidak langsung membutuhkan metode pembelajaran yang kompleks, tetapi perhatian dan seseorang yang bersedia mendampingi.

“Ada anak yang mungkin hanya membutuhkan seseorang untuk duduk di sampingnya dan membantunya membaca,” ujarnya.

Mengajar tidak harus menunggu menjadi ahli

Putri juga mengingat pesan seorang pengasuh yang mereka sapa dengan panggilan Abah sebelum menjalankan kegiatan di pesantren.

Saat itu, Putri dan Rif’atus menyampaikan sejumlah mata pelajaran yang dapat mereka ajarkan. Keduanya sempat berpikir bahwa seseorang seharusnya hanya mengajar bidang yang benar-benar menjadi keahliannya.

Namun, pengasuh tersebut mengingatkan agar ilmu yang dimiliki tetap disampaikan kepada orang yang membutuhkan.

“Tidak terlalu penting keahliannya. Apa pun ilmu yang kita punya, maka sampaikan,” demikian pesan pengasuh tersebut.

Bagi Putri, pesan itu semakin bermakna setelah ia melihat langsung kebutuhan para santri.

Kehadiran pengajar tidak selalu harus dimulai dengan penguasaan bidang yang rumit, tetapi dapat diwujudkan melalui kesediaan membantu anak mempelajari kemampuan dasar.

Menghargai buku sebagai jalan menuju ilmu

Selama berada di pesantren, Putri dan Rif’atus juga memperhatikan kebiasaan sebagian santri meletakkan buku tulis, buku pelajaran, dan kitab tanpa tertata.

Menurut Putri, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut kerapian. Buku dan kitab merupakan sarana yang menghubungkan santri dengan ilmu yang sedang dipelajari.

Karena itu, membiasakan santri menjaga buku dan kitab juga menjadi bagian dari pendampingan yang dilakukan keduanya.

Pengalaman tersebut membuat Putri memaknai kembali bentuk dakwah. Menurut dia, dakwah tidak harus selalu diawali dengan kegiatan besar atau penyampaian materi di hadapan banyak orang.

Dakwah dapat dimulai dari percakapan, mendengarkan persoalan masyarakat, menemani anak belajar membaca, dan mengajarkan cara menghargai sarana belajar.

“Ilmu tidak hanya membutuhkan orang yang menyampaikannya. Ilmu juga membutuhkan seseorang yang bersedia hadir dan membersamai orang lain untuk menemukannya,” kata Putri.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Google Maps dan Ikhtiar Warga Fakfak Memperluas Pasar
Google Maps dan Ikhtiar Warga Fakfak Memperluas Pasar
Aktual
Ketika Dakwah di Singkut Dimulai dengan Menemani Anak Belajar Membaca
Ketika Dakwah di Singkut Dimulai dengan Menemani Anak Belajar Membaca
Aktual
Polemik Buku “Islam ala Prabowo”, Bagaimana Hukum Mencantumkan Nama Tokoh Tanpa Izin?
Polemik Buku “Islam ala Prabowo”, Bagaimana Hukum Mencantumkan Nama Tokoh Tanpa Izin?
Aktual
Bolehkah Petugas Damkar Menjamak dan Mengqashar Sholat Saat Bertugas?
Bolehkah Petugas Damkar Menjamak dan Mengqashar Sholat Saat Bertugas?
Aktual
Muhammadiyah: Tafsir Al-Ma'un Menolak Korupsi yang Dirancang Sistem
Muhammadiyah: Tafsir Al-Ma'un Menolak Korupsi yang Dirancang Sistem
Aktual
Mulai 2027, MTQ Nasional Digelar Setiap Tahun, STQ Ditiadakan
Mulai 2027, MTQ Nasional Digelar Setiap Tahun, STQ Ditiadakan
Aktual
3 Filosofi Daun Kelor dalam Logo Milad Ke-114 Muhammadiyah
3 Filosofi Daun Kelor dalam Logo Milad Ke-114 Muhammadiyah
Aktual
Potensi Karya Santri Besar, Bagaimana Menjangkau Pembaca Lebih Luas?
Potensi Karya Santri Besar, Bagaimana Menjangkau Pembaca Lebih Luas?
Aktual
Sejarah MTQ di Indonesia, Bermula dari Majelis Qari di Masjid Sunan Ampel
Sejarah MTQ di Indonesia, Bermula dari Majelis Qari di Masjid Sunan Ampel
Aktual
Saudi dan 7 Negara Muslim Sambut Larangan Inggris Impor Produk dari Permukiman Israel
Saudi dan 7 Negara Muslim Sambut Larangan Inggris Impor Produk dari Permukiman Israel
Aktual
Rabiul Akhir dalam Kalender Hijriah: Sejarah dan Peristiwa Pentingnya
Rabiul Akhir dalam Kalender Hijriah: Sejarah dan Peristiwa Pentingnya
Aktual
Berdoa dengan Bahasa Arab, Apakah Benar Lebih Utama? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Berdoa dengan Bahasa Arab, Apakah Benar Lebih Utama? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Aktual
Bolehkah Memegang Al-Qur’an Tanpa Wudhu? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Bolehkah Memegang Al-Qur’an Tanpa Wudhu? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Aktual
Malam Ini, 198.000 Warga Akan Nyanyikan Mars MTQ untuk Pecahkan Rekor MURI
Malam Ini, 198.000 Warga Akan Nyanyikan Mars MTQ untuk Pecahkan Rekor MURI
Aktual
Muhammadiyah Gelar Tanwir dan Milad ke-114 di Palu, Usung Tema Bersama Satukan Bangsa
Muhammadiyah Gelar Tanwir dan Milad ke-114 di Palu, Usung Tema Bersama Satukan Bangsa
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar