KOMPAS.com - Dalam kehidupan sehari-hari, umat Islam sering mendengar anjuran untuk mendahulukan sisi kanan ketika memakai pakaian, makan, berjabat tangan, hingga memasuki masjid.
Kebiasaan ini bukan sekadar etika sosial, melainkan sunnah yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW.
Dalam fikih, para ulama menjelaskan adanya kaidah bahwa sisi kanan didahulukan untuk perkara yang mulia (takrim), sedangkan sisi kiri didahulukan untuk perkara yang berkaitan dengan menghilangkan kotoran, seperti masuk kamar mandi atau istinja.
Kaidah tersebut lahir dari berbagai hadis sahih yang menunjukkan kebiasaan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Dalil utama mengenai adab ini berasal dari hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA.
Beliau menceritakan bahwa Rasulullah SAW memiliki kebiasaan mengutamakan sebelah kanan dalam berbagai urusannya.
Baca juga: Hidup Serba Cepat, Mengapa Ibadah Tidak Boleh Tergesa-gesa?
Diriwayatkan oleh Aisyah RA:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي شَأْنِهِ كُلِّهِ، فِي طُهُورِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَتَنَعُّلِهِ
Kānan Nabiyyu ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama yu‘jibuhut-tayammunu fī sya’nihi kullihi, fī ṭuhūrihi wa tarajjulihi wa tana‘‘ulih.
Artinya: “Rasulullah SAW menyukai mendahulukan yang kanan dalam seluruh urusannya; ketika bersuci, menyisir rambut, dan memakai sandal.” (HR Sahih al-Bukhari No. 168 dan Sahih Muslim No. 268).
Hadis ini menjadi landasan para ulama bahwa mendahulukan kanan merupakan sunnah dalam perkara yang baik, terhormat, dan membawa kemuliaan.
Baca juga: Tips Hafal 30 Juz Al-Qur’an Sejak Usia Dini dari Peserta MTQ Nasional 2026 Asal Sumbar
Konsep kanan sebagai simbol kemuliaan juga tampak dalam Al-Qur'an. Allah SWT menyebut orang-orang beriman sebagai ashabul yamin atau golongan kanan, yaitu kelompok yang memperoleh kenikmatan di akhirat.
Allah berfirman dalam QS Al-Waqi'ah Ayat 27:
وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِينِ
Wa aṣḥābul-yamīni mā aṣḥābul-yamīn.
Artinya: “Dan golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu.”
Ayat ini tidak berbicara langsung tentang penggunaan tangan kanan, tetapi menunjukkan bahwa sisi kanan dalam Al-Qur'an sering menjadi simbol kemuliaan, keberkahan, dan keselamatan.
Baca juga: Apakah Istinja Cukup dengan Mengguyurkan Air? Ini Penjelasan Fikih
Berdasarkan sunnah Rasulullah SAW, ada beberapa amalan yang dianjurkan dimulai dengan sisi kanan.
Pertama, makan dan minum menggunakan tangan kanan.
Kedua, memakai pakaian, sepatu, atau sandal dengan mendahulukan anggota tubuh sebelah kanan.
Ketiga, masuk masjid dengan kaki kanan sambil membaca doa.
Keempat, bersalaman dan menerima sesuatu dengan tangan kanan sebagai bentuk penghormatan.
Sebaliknya, perkara yang berkaitan dengan membersihkan najis atau menghilangkan kotoran dianjurkan menggunakan sisi kiri, seperti masuk kamar mandi, istinja, dan melepas sandal.
Baca juga: Memudahkan Urusan Orang Lain, Jalan Menuju Ridha Allah
Sebagian orang menganggap mendahulukan kanan hanyalah tradisi.
Padahal, dalam Islam, kebiasaan yang dicontohkan Rasulullah SAW memiliki nilai ibadah ketika dilakukan dengan niat mengikuti sunnah.
Mendahulukan kanan mengajarkan seorang Muslim untuk membangun kesadaran dalam hal-hal kecil.
Aktivitas sederhana seperti memakai baju atau menyisir rambut menjadi kesempatan meneladani Rasulullah SAW, sehingga kehidupan sehari-hari dipenuhi dengan nilai ibadah.
Para ulama merumuskan kaidah fikih berdasarkan hadis-hadis Rasulullah SAW: kanan untuk takrim, kiri untuk izalatul adza.
Takrim berarti memuliakan, sedangkan izalatul adza berarti menghilangkan kotoran atau gangguan.
Baca juga: Gaji Suami Bukan Tolok Ukur Ketaatan Istri, Ini Penjelasan Muhammadiyah
Karena itu, masuk masjid didahulukan kaki kanan, sedangkan masuk kamar mandi didahulukan kaki kiri. Memakai sandal dimulai dari kanan, sementara melepasnya dimulai dari kiri.
Kaidah ini bukan bertujuan membedakan nilai anggota tubuh, melainkan membedakan fungsi dan adab sesuai tempat serta aktivitas.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kemuliaan akhlak sering kali tampak melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana.
Mendahulukan sisi kanan bukanlah kewajiban yang memberatkan, tetapi sunnah yang melatih disiplin, kesadaran, dan kecintaan kepada tuntunan Nabi.
Di tengah kehidupan yang serba praktis, menghidupkan sunnah-sunnah kecil menjadi cara sederhana untuk memperbanyak pahala.
Setiap kali seorang Muslim mendahulukan sisi kanan dalam perkara yang mulia, ia sedang meneladani kebiasaan Rasulullah SAW sekaligus menghadirkan nilai ibadah dalam aktivitas sehari-hari.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.