Editor
KOMPAS.com — Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung mendorong pengusulan KH Subuki sebagai Pahlawan Nasional.
Tokoh asal Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, tersebut dikenal melalui perannya dalam gerakan bambu runcing pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Rektor INISNU Temanggung Hamidulloh Ibda menegaskan, pengusulan harus ditopang penelitian yang serius, bukti sejarah, dan kerja berkelanjutan.
“Pengusulan Pahlawan Nasional bukan semata-mata tentang memberikan gelar kepada seorang tokoh. Lebih dari itu, ini merupakan ikhtiar akademik untuk menghadirkan keadilan sejarah, menguji bukti perjuangan secara objektif, dan memastikan kontribusi para ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia memperoleh perhatian yang semestinya,” ujar Hamidulloh dikutip dari NU Online, Sabtu (17/10/2026.
Baca juga: Doa Para Pahlawan untuk Mengenang Jasa Pejuang Kemerdekaan Indonesia
Dorongan tersebut dibahas dalam Seminar Nasional Pengusulan KH Subuki sebagai Pahlawan Nasional di Hall Babussalam NU Temanggung, Kamis (15/10/2026).
Forum itu mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah, Nahdlatul Ulama, keluarga tokoh, dan sejarawan untuk memperkuat kajian serta menghimpun bukti perjuangan KH Subuki.
Menghimpun arsip dan menguji kesaksian
Hamidulloh mengatakan, perguruan tinggi berperan menghubungkan ingatan kolektif masyarakat dengan pembuktian sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Cerita perjuangan yang diwariskan secara turun-temurun perlu ditelusuri melalui arsip, dokumen, kesaksian, dan sumber tertulis.
“Kita perlu memastikan bahwa semangat menghormati KH Subuki diterjemahkan menjadi kerja nyata. Arsip harus dicari, kesaksian harus diuji, kronologi harus diperjelas, dan naskah akademik harus disusun secara cermat,” katanya.
Baca juga: 6 Pahlawan Muslimah Indonesia dan Perannya dalam Sejarah Kemerdekaan
Ketua Badan Penyelenggara Pelaksana INISNU Temanggung H Nur Makhsun juga mendorong kampus mengambil peran dalam penelitian dan penyusunan dokumen pengusulan.
Menurutnya, kontribusi KH Subuki perlu dikaji lebih mendalam, termasuk keterkaitannya dengan perjuangan kemerdekaan di berbagai daerah.
Sejarawan sekaligus dosen UIN Walisongo Semarang KH Anasom menjelaskan, Parakan memiliki posisi penting sebagai salah satu pusat penguatan spiritual dan mobilisasi pejuang bambu runcing.
Merujuk buku Guruku Orang-orang dari Pesantren karya KH Saifuddin Zuhri, Anasom menyebut Parakan didatangi para pejuang untuk memperoleh doa dan penguatan semangat sebelum menghadapi pertempuran.
Sementara itu, sejarawan Temanggung KH Adhilin Basri memaparkan pengaruh gerakan bambu runcing Parakan dalam perjuangan di sejumlah daerah, antara lain Magelang, Semarang, Surabaya, dan Ambarawa.
Paparan tersebut menjadi bahan penelitian lanjutan untuk menguji sumber, memperjelas kronologi, serta menelaah kontribusi KH Subuki dalam perjuangan nasional.
Anggota Komisi VIII DPR RI Wibowo Prasetyo menyatakan siap mengawal proses pengusulan melalui fungsi pengawasan dan koordinasi dengan Kementerian Sosial.
Ia mendorong pembentukan tim terpadu yang melibatkan INISNU, PCNU, keluarga KH Subuki, sejarawan, dan pemerintah daerah untuk melengkapi bukti sejarah serta memperkuat naskah akademik.
Wibowo menegaskan, DPR tidak berwenang menetapkan gelar Pahlawan Nasional karena keputusan tersebut merupakan kewenangan Presiden.
Direktur Pemberdayaan Potensi dan Sumber Daya Sosial Kementerian Sosial Salahuddin Yahya menjelaskan, pengusulan harus memenuhi persyaratan substantif dan administratif.
Menurutnya, penghormatan masyarakat kepada seorang tokoh perlu didukung bukti sejarah yang kredibel. Dokumen yang dibutuhkan mencakup biografi perjuangan, naskah akademik, hasil penelitian, dokumentasi sejarah, dan rekomendasi pemerintah daerah.
Bupati Temanggung Agus Setyawan turut menyampaikan dukungan terhadap pengusulan tersebut.
Seusai seminar, upaya pengusulan diarahkan pada pengumpulan arsip, verifikasi kesaksian, penyusunan biografi berbasis sumber, dan pengembangan naskah akademik.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.