KOMPAS.com - Anak yang mulai mempertanyakan ajaran agama terkadang membuat orang tua merasa khawatir. Pertanyaan seperti mengapa harus beribadah, bagaimana keberadaan Allah, atau mengapa ada aturan tertentu dalam agama bisa muncul ketika anak mulai mengembangkan rasa ingin tahu dan berusaha memahami hal-hal di sekitarnya.
Dalam situasi tersebut, orang tua sebaiknya tidak langsung memarahi, menghakimi, atau menganggap anak sedang menentang keyakinan keluarga. Sebaliknya, pertanyaan itu dapat menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi, memberikan pemahaman secara bertahap, dan mendampingi anak mengenal agamanya dengan lebih baik.
Rasa ingin tahu merupakan bagian dari proses anak mengenali lingkungan dan memahami berbagai hal yang belum diketahuinya. Ketika pertanyaan menyentuh persoalan agama, orang tua perlu memahami bahwa anak mungkin sedang mencari penjelasan yang lebih masuk akal baginya, bukan sengaja meragukan keyakinan.
Baca juga: Pesan Surah Al-Araf Ayat 31 agar Tidak Berlebihan dalam Segala Hal
Pertanyaan anak bisa muncul dari pengalaman di sekolah, percakapan dengan teman, tayangan digital, maupun pengamatan terhadap perilaku orang dewasa. Misalnya, anak mempertanyakan mengapa orang harus salat lima waktu atau mengapa ada perbedaan cara beribadah.
Orang tua dapat memulai dengan menanyakan alasan di balik pertanyaan tersebut. Cara ini membantu memahami hal yang sebenarnya ingin diketahui anak sehingga jawaban tidak melenceng dari persoalan yang sedang dipikirkannya.
Baca juga: Menag Sebut Kampus di Italia dan Vatikan Ingin Belajar Keberagaman Indonesia
Al-Qur'an memberikan gambaran tentang pendidikan agama dalam keluarga melalui nasihat Luqman kepada anaknya. Allah berfirman dalam Surah Luqman ayat 13:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Wa iż qāla luqmānu libnihī wa huwa ya‘iẓuhū yā bunayya lā tusyrik billāh, innasy-syirka laẓulmun ‘aẓīm.
Artinya: “(Ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, ‘Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.’” (QS Luqman: 13).
Baca juga: Dari Katering hingga Laundry, Usaha Pesantren Didorong Jadi Penopang Pendidikan
Ayat tersebut memperlihatkan Luqman menyampaikan nasihat kepada anaknya dengan panggilan penuh kasih, yakni yā bunayya atau wahai anakku. Nasihat tentang tauhid disampaikan dalam hubungan yang dekat antara orang tua dan anak.
Kisah ini dapat menjadi teladan bahwa pendidikan agama tidak hanya berisi perintah, tetapi juga membutuhkan komunikasi dan pendampingan. Orang tua perlu menyampaikan ajaran dengan bahasa yang dapat dipahami anak, tanpa menghilangkan substansi nilai yang diajarkan.
Rasulullah SAW juga menjelaskan keadaan dasar setiap anak ketika dilahirkan. Abu Hurairah RA meriwayatkan sabda Nabi dalam Sahih al-Bukhari 1358:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ
Baca juga: SKB 3 Menteri Tetapkan 17 Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2027, Ini Daftarnya
Mā min maulūdin illā yūladu ‘alal-fiṭrah, fa abawāhu yuhawwidānihi au yunashṣirānihi au yumajjisānihi, kamā tunta jul-bahīmatu bahīmatan jam‘ā’a, hal tuḥissūna fīhā min jad‘ā’a.
Artinya: “Tidak ada seorang anak pun yang dilahirkan kecuali dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi, sebagaimana hewan melahirkan anaknya dalam keadaan sempurna. Apakah kalian melihat ada bagian tubuhnya yang terpotong?” (HR Bukhari 1358).
Hadis ini menjelaskan pentingnya peran lingkungan keluarga dalam pendidikan dan perkembangan keagamaan anak. Orang tua memiliki tanggung jawab mengenalkan nilai-nilai agama melalui pengajaran, kebiasaan, dan keteladanan. Karena itu, pendampingan tidak cukup dilakukan dengan meminta anak mengikuti aturan tanpa memberikan pemahaman.
Baca juga: Teks Khutbah Jumat Singkat: Jangan Jadikan Aib Orang Lain sebagai Hiburan
Ketika anak bertanya, orang tua sebaiknya memberikan kesempatan untuk menyampaikan pikirannya sampai selesai. Hindari memotong pembicaraan, mempermalukan, atau langsung memberikan label negatif. Sikap tersebut membantu menjaga ruang komunikasi agar anak tidak merasa takut menyampaikan kebingungannya.
Jawaban juga perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan memahami anak. Pertanyaan sederhana dapat dijawab menggunakan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, persoalan yang lebih kompleks dapat dijelaskan secara bertahap tanpa memaksakan anak memahami seluruh konsep dalam satu percakapan.
Baca juga: Berawal dari Masjid, Al-Qarawiyyin di Maroko Jadi Salah Satu Universitas Tertua Dunia
Penelitian dalam Jurnal Pendidikan Indonesia berjudul “Konsep Dasar Model Pembelajaran Islamic Parenting” yang ditulis Dinda Nopiana Sari Z dan tim dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyoroti pentingnya komunikasi efektif, keteladanan orang tua, dan rumah sebagai lingkungan pendidikan Islam. Pendekatan tersebut dapat diterapkan dengan membiasakan percakapan terbuka tentang pengalaman serta pertanyaan keagamaan anak.
Orang tua tidak harus mengetahui jawaban atas seluruh pertanyaan agama. Jika menemukan pertanyaan yang belum dapat dijelaskan, lebih baik mengakuinya daripada memberikan informasi yang keliru atau membuat jawaban tanpa dasar.
Baca juga: Teks Khutbah Jumat Singkat: Kritik Rakyat Bukan Kebencian, Pemimpin Perlu Mendengarkan
Orang tua dapat mengajak anak mencari penjelasan bersama melalui Al-Qur'an, hadis, buku keislaman, atau bertanya kepada guru agama dan ulama yang kompeten. Proses tersebut sekaligus mengajarkan bahwa memahami agama membutuhkan ilmu dan sikap hati-hati.
Penjelasan lisan perlu disertai perilaku sehari-hari. Anak dapat melihat bagaimana orang tua menjalankan ibadah, bersikap jujur, menghormati orang lain, dan menyelesaikan perbedaan pendapat. Keteladanan membantu anak mengenali penerapan nilai agama dalam kehidupan nyata.
Pada akhirnya, ketika anak mempertanyakan ajaran agama, orang tua perlu hadir sebagai pendamping yang sabar, bukan sekadar pemberi perintah. Mendengarkan, menjawab dengan ilmu, dan memberikan contoh merupakan langkah untuk membantu anak membangun pemahaman agama secara bertahap.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.