KOMPAS.com – Di balik kisah-kisah dalam Al-Qur'an, terdapat pelajaran mendalam yang tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga relevan dengan kehidupan modern.
Salah satunya adalah kisah dua malaikat, Harut dan Marut, yang sering dikaitkan dengan ilmu sihir dan menjadi bahan perdebatan hingga kini.
Apakah benar malaikat mengajarkan sihir? Ataukah kisah ini justru menjadi peringatan keras bagi manusia agar tidak terjerumus dalam praktik yang menyesatkan?
Kisah Harut dan Marut disebutkan secara eksplisit dalam Surah Al-Baqarah ayat 102. Ayat ini menjelaskan bahwa sihir bukan berasal dari Nabi Nabi Sulaiman AS, melainkan dari setan-setan yang menyesatkan manusia.
Dalam konteks ini, kehadiran dua malaikat di Babilonia bukanlah untuk menyebarkan sihir, melainkan sebagai ujian. Mereka selalu memperingatkan siapa pun yang datang:
“Sesungguhnya kami hanyalah cobaan, maka janganlah kamu kufur.”
Pesan ini menunjukkan bahwa sejak awal, praktik sihir telah diposisikan sebagai sesuatu yang berbahaya dan berpotensi menjerumuskan manusia pada kekufuran.
Baca juga: Kisah Qurh, Jejak Kota Dagang Kuno di Tengah Gurun Arab Saudi
Wilayah Babilonia yang kini dikenal sebagai bagian dari Irak merupakan pusat peradaban kuno yang maju, namun juga sarat dengan praktik mistik dan kepercayaan supranatural.
Dalam banyak literatur sejarah dan tafsir, masyarakat saat itu dikenal akrab dengan praktik sihir, ramalan, dan kekuatan gaib.
Kehadiran Harut dan Marut menjadi bentuk intervensi Ilahi untuk menguji sekaligus memberi batas antara ilmu dan penyimpangan.
Dalam kitab Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Qutb menegaskan bahwa Al-Qur’an secara tegas menolak anggapan bahwa Allah menurunkan sihir kepada malaikat.
Sebaliknya, menurut beliau, keberadaan dua malaikat tersebut adalah bagian dari skenario ujian.
Mereka tidak pernah mengajarkan sihir tanpa peringatan, bahkan secara eksplisit melarang manusia untuk menggunakannya.
Sementara itu, Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim menjelaskan bahwa manusia yang tetap mempelajari sihir setelah mendapat peringatan berarti telah memilih jalan yang menyimpang dengan kesadaran penuh.
Baca juga: Kultum Ramadhan Hari ke-6: Kisah Sahabat Nabi yang Menyesal Saat Sakaratul Maut
Dalam kajian akidah, sihir dipandang sebagai sesuatu yang nyata keberadaannya, namun haram untuk dipelajari maupun diamalkan.
Menurut buku Al-Kabair karya Imam Adz-Dzahabi, sihir termasuk dalam dosa besar karena melibatkan bantuan setan dan berpotensi merusak akidah seseorang.
Lebih jauh, dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa sihir dapat memberikan dampak nyata, seperti memisahkan hubungan suami-istri, sebagaimana disebutkan dalam ayat Al-Qur’an.
Namun demikian, Islam menegaskan bahwa tidak ada satu pun kekuatan yang mampu mencelakakan manusia tanpa izin Allah SWT. Artinya, sihir bukanlah kekuatan mutlak, melainkan bagian dari ujian kehidupan.
Para ulama sepakat bahwa mempercayai sihir sebagai kekuatan independen di luar kehendak Allah dapat menyeret pada kekufuran.
Dalam buku Mukjizat dan Rahasia Doa karya Yusuf Al-Qaradawi dijelaskan bahwa keyakinan terhadap kekuatan gaib harus tetap berada dalam koridor tauhid, yaitu meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah.
Adapun hukum mempelajari sihir adalah haram, kecuali dalam konteks tertentu seperti untuk mengetahui dan menangkalnya, itupun dengan syarat yang sangat ketat dan tidak untuk diamalkan.
Baca juga: Kisah Masjid Tertua di Samarinda: Dari Kampung Maksiat Jadi Pusat Ibadah
Kisah Harut dan Marut tidak sekadar cerita sejarah, melainkan refleksi tentang pilihan moral manusia.
Ada beberapa pelajaran penting yang dapat diambil:
Dalam konteks modern, “sihir” bisa dimaknai lebih luas sebagai segala sesuatu yang menyesatkan dan menjauhkan manusia dari nilai-nilai tauhid.
Di tengah perkembangan zaman, praktik yang menyerupai sihir masih ditemukan, baik dalam bentuk perdukunan, jimat, hingga kepercayaan berlebihan terhadap hal-hal mistik.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pesan Al-Qur’an tetap relevan. Bahwa manusia harus berhati-hati terhadap segala bentuk penyimpangan akidah, sekecil apa pun itu.
Sebagaimana ditegaskan dalam banyak literatur Islam, perlindungan terbaik bukanlah melalui praktik mistik, melainkan dengan memperkuat iman, memperbanyak doa, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Kisah Harut dan Marut menjadi pengingat bahwa tidak semua yang tampak sebagai “ilmu” membawa kebaikan. Dalam banyak kasus, justru menjadi ujian yang menentukan arah kehidupan manusia.
Pada akhirnya, Islam menempatkan tauhid sebagai fondasi utama. Bahwa segala bentuk kekuatan, baik yang tampak maupun tidak, berada di bawah kehendak Allah SWT.
Dan di situlah letak hikmah terbesar dari kisah ini: manusia diberi pilihan, namun juga tanggung jawab atas setiap pilihan yang diambil.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang