Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketum PBNU Gus Yahya Temui Dubes AS Bahas Perdamaian Timur Tengah

Kompas.com, 2 April 2026, 10:14 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf bertemu dengan Kuasa Usaha Interim Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Peter M Haymond, pada Rabu (1/4/2026) siang.

Menurut siaran pers PBNU, pertemuan yang berlangsung di kediaman Duta Besar di Jalan Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, ini membahas upaya perdamaian di Timur Tengah.

Pertemuan tersebut merupakan bagian dari rangkaian silaturahmi Lebaran yang dilakukan Gus Yahya dengan sejumlah Duta Besar negara sahabat.

Baca juga: Ketum PBNU Gus Yahya Temui Dubes Iran, Sampaikan Dukungan Moral

Inisiatif ini bertujuan meretas jalan damai di Timur Tengah yang sedang menghadapi krisis serius dan dikhawatirkan dapat memicu Perang Dunia Ketiga.

Sebelumnya, Gus Yahya telah mengunjungi Duta Besar Iran pada 27 Maret dan Duta Besar Arab Saudi pada 31 Maret.

Dalam pertemuan tersebut, Gus Yahya didampingi Ketua PBNU Ulil Abshar Abdalla dan Wakil Sekjen PBNU M Najib Azca.

Sementara itu, Peter M Haymond ditemani sejumlah diplomat senior Kedutaan Besar AS, termasuk Peter Muehlike, Konselor Bidang Politik, dan Todd Campbell, Wakil Konselor Politik urusan dalam negeri.

Pandangan Amerika Serikat

Gus Yahya menggali pandangan Peter Haymond mengenai situasi di Timur Tengah dan prospek perdamaian ke depan.

Haymond menyatakan bahwa AS mendukung Israel menyerang Iran karena adanya ancaman keamanan serius dari Iran terhadap Israel dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah.

Ia meyakini bahwa jika tidak ada tindakan penyerangan terhadap Iran, ancaman keamanan tersebut dapat terwujud nyata, bahkan berpotensi senjata berbahaya, termasuk nuklir, yang dikembangkan Iran jatuh ke tangan kelompok ekstremis dan teroris.

Mengenai prospek deeskalasi dan perdamaian, Haymond meyakini bahwa pemerintah AS sedang mencari jalan untuk menghentikan perang.

Namun, pemerintah AS juga ingin memastikan adanya jaminan keamanan bagi negaranya dan para sekutu utamanya, termasuk negara-negara Islam di Timur Tengah dan Israel.

Ketika Gus Yahya mempertanyakan pengiriman tentara AS dalam jumlah besar ke Timur Tengah yang terkesan menyiapkan serangan darat ke Iran, Haymond menjawab bahwa itu merupakan langkah antisipatif untuk menghadapi kemungkinan terburuk jika upaya diplomatik dan perdamaian menemui kegagalan.

Sikap PBNU

Dalam kesempatan itu, Gus Yahya menyampaikan dengan tegas bahwa umat Islam Indonesia, khususnya warga NU, sangat menyesalkan terjadinya peperangan yang menimbulkan banyak korban jiwa serta dampak ekonomi dan sosial yang sangat buruk dan masif.

Gus Yahya juga kembali menyampaikan pesan damai dari PBNU sejak awal agar penghentian peperangan segera dilakukan dan upaya menuju deeskalasi serta perdamaian harus secepatnya diwujudkan.

Baca juga: Board of Peace untuk Palestina, PBNU Nilai Penting, MUI Menolak

"Perang merupakan bencana kemanusiaan, kita harus memilih dialog dan diplomasi sebagai upaya penyelesaian konflik antar pihak," ujar tokoh pesantren asal Rembang itu.

Pertemuan diakhiri dengan sesi foto bersama antara Gus Yahya dan Peter Haymond, diikuti oleh fungsionaris PBNU dan staf diplomat Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com