Editor
KOMPAS.com — Puluhan ribu jemaah dari berbagai daerah tumpah ruah menghadiri Haul ke-58 ulama besar Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (Guru Tua) di Kompleks Alkhairaat, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (1/4/2026).
Suasana khidmat terasa sejak awal hingga akhir acara, menandakan besarnya kecintaan umat kepada sosok pendiri Perguruan Alkhairaat tersebut.
Kegiatan tahunan ini tidak hanya dihadiri masyarakat umum, tetapi juga sejumlah pejabat nasional dan daerah.
Baca juga: Haul Akbar Syaikhona Kholil Bangkalan, Warga Madura di Kaltim Sediakan 8.000 Nasi Kotak Gratis
Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie turut hadir langsung bersama jajaran pemerintah daerah lainnya.
Dalam kesempatan itu, Idah mengungkapkan bahwa haul menjadi momen penting untuk memperdalam nilai-nilai keislaman.
“Banyak pelajaran yang saya peroleh dari rangkaian kegiatan haul ini. Mulai dari ziarah, doa, zikir, hingga berbagai kajian,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi berjabat tangan dan kebersamaan dalam haul memiliki makna mendalam sebagai rantai kebaikan yang menghubungkan umat dengan para ulama hingga Rasulullah SAW.
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid yang juga hadir dalam kegiatan akbar itu menegaskan bahwa kecintaan kepada Guru Tua tidak cukup hanya dengan menghadiri haul.
“Tanda cinta kita adalah melanjutkan perjuangan Guru Tua,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa warisan terbesar Guru Tua bukanlah harta, melainkan pendidikan sebagai fondasi peradaban umat.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah bahkan tengah menggodok program wajib belajar 13 tahun, termasuk memperkuat Madrasah Diniyah Awaliyah sebagai bagian penting pendidikan karakter generasi muda.
Pengaruh dakwah Guru Tua terbukti luas. Perguruan Alkhairaat kini memiliki 1 perguruan tinggi, sekitar 50 pondok pesantren, lebih dari 1.700 madrasah dan jutaan alumni tersebar di seluruh Indonesia
Warisan ini menjadi bukti nyata bahwa perjuangan melalui pendidikan mampu membentuk peradaban umat yang berkelanjutan.
Haul ke-58 yang jatuh pada 1 April 2026 ini mengusung tema “Meneguhkan spirit keteladanan Guru Tua dalam bingkai peradaban ilmu dan akhlak.”
Baca juga: Demokrasi Dinilai di Titik Nadir, Haul Gus Dur Ke-16 Serukan Kembali ke Kedaulatan Rakyat
Menariknya, banyak jemaah yang hadir bahkan tidak pernah bertemu langsung dengan Guru Tua. Namun, kecintaan mereka tetap mengalir lintas generasi.
“Kalau bukan karena cinta, tidak mungkin kita ada di sini,” kata Gubernur Anwar Hafid di hadapan jemaah.
Haul ini bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga menghidupkan kembali semangat menuntut ilmu, menguatkan akhlak, dan menebar manfaat bagi sesama.
Karena sejatinya, warisan ulama tidak berhenti pada cerita—melainkan terus hidup dalam amal dan perjuangan generasi penerus.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang