Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Unik, Makanan di Armuzna Juga Bisa Jadi Oleh-oleh Jamaah Haji Indonesia

Kompas.com, 21 Mei 2026, 19:57 WIB
Add on Google
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber MUI

KOMPAS.com - Puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) tidak hanya identik dengan padatnya rangkaian ibadah, tetapi juga layanan konsumsi bagi jamaah.

Pemerintah Indonesia menyiapkan jutaan porsi makanan siap santap untuk mendukung kebutuhan jamaah selama fase Armuzna.

Menariknya, makanan tersebut juga bisa dijadikan oleh-oleh unik oleh jamaah haji Indonesia karena memiliki daya tahan yang cukup lama.

Baca juga: Makanan Siap Santap Bercita Rasa Nusantara Disiapkan untuk Jamaah Haji saat Fase Armuzna

Selain praktis, makanan siap santap itu tetap menghadirkan cita rasa Nusantara yang akrab bagi jamaah Indonesia.

Makanan siap santap atau ready to eat (RTE) yang dibagikan saat puncak haji aman disimpan hingga 18 bulan dan layak dijadikan oleh-oleh oleh jamaah haji Indonesia.

Baca juga: Rahasia Cita Rasa Makanan Jemaah Haji, Ada Koki Indonesia yang Jadi Andalan Dapur di Makkah

Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji Kemenhaj RI Jaenal Effendi mengatakan pemerintah menyiapkan sekitar 3,08 juta porsi makanan siap santap untuk mendukung kebutuhan konsumsi jamaah selama fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Bisa Dibawa Pulang untuk Jadi Oleh-oleh Unik

Menurut Jaenal, makanan RTE tersebut dikemas rapat dan praktis disimpan di koper maupun tas sehingga bisa dibawa pulang jamaah ke Indonesia.

“Ini saking senangnya, kadang para jamaah membawa makanan siap santap saat puncak haji sebagai oleh-oleh pulang ke Indonesia,” ujar Jaenal di Makkah, Selasa (19/5/2026).

Ia menyebut makanan Armuzna dapat menjadi oleh-oleh unik karena identik dengan pengalaman jamaah selama menjalani puncak ibadah haji di Tanah Suci.

Jaenal memastikan makanan siap santap tersebut aman dikonsumsi dalam jangka waktu lama karena diproduksi dan dikemas sesuai standar keamanan pangan.

“Daya tahannya ini 18 bulan. Kemarin juga sudah kita uji lagi di laboratorium dan masih sangat layak untuk dikonsumsi,” katanya.

Menurut dia, ketahanan produk yang panjang membuat makanan tersebut tetap aman dibawa pulang ke Indonesia selama perjalanan haji.

Bisa Langsung Dimakan Tanpa Dipanaskan

Jaenal menjelaskan makanan RTE dirancang agar praktis dikonsumsi jamaah di tengah aktivitas padat selama puncak haji.

“Ini sudah bisa langsung dibuka dan dimakan. Tidak perlu dipanaskan,” ujarnya.

Selain praktis, kemasan makanan juga dapat langsung digunakan sebagai wadah makan sehingga memudahkan jamaah.

Petugas nantinya juga akan memberikan edukasi kepada jamaah yang belum terbiasa mengonsumsi makanan siap santap tersebut.

Makanan siap santap atau ready to eat yang akan dibagikan kepada jemaah haji menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).  Media Center Haji 2026/Tribunnews.com/Sri Juliati Makanan siap santap atau ready to eat yang akan dibagikan kepada jemaah haji menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Sajikan Makanan dengan Cita Rasa Nusantara

Menu makanan yang disiapkan tetap mengusung cita rasa khas Indonesia agar sesuai dengan selera jamaah haji Tanah Air.

Beberapa menu yang tersedia antara lain nasi uduk, kari ayam, hingga rendang daging.

Jaenal menambahkan makanan siap santap tersebut juga memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), dengan minimal 50 persen bahan dalam paket berasal dari Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com