Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Soal Konsesi Tambang, Gus Yahya Tegaskan PBNU Tak Mau Jadi Naga ke-10

Kompas.com, 30 Mei 2026, 06:44 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa keterlibatan NU dalam pengelolaan konsesi tambang bukan bertujuan menjadikan organisasi sebagai kekuatan bisnis baru ataupun alat akumulasi kekayaan.

Menurut Gus Yahya, langkah tersebut harus dipahami sebagai upaya menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat basis NU dengan tetap menjaga independensi organisasi di tengah dinamika politik nasional.

Pernyataan itu disampaikan Gus Yahya saat menanggapi kritik publik terkait penerimaan konsesi tambang oleh organisasi kemasyarakatan keagamaan, termasuk NU.

Ia mengakui bahwa langkah tersebut memunculkan banyak pertanyaan karena NU selama ini dikenal sebagai organisasi sosial-keagamaan, bukan korporasi bisnis.

“NU ini organisasi sosial keagamaan, tidak pernah punya pengalaman memiliki korporasi apalagi punya tambang. Punya warung kelontong saja belum pernah, apalagi punya tambang,” ujar Gus Yahya di Jakarta, Jumat (29/5/2026).

Baca juga: Tanpa Meritokrasi di NU, Gus Yahya: Semua Orang Bisa Lompat ke Puncak

Ia menjelaskan bahwa pemberian konsesi tambang bukan kebijakan khusus untuk NU semata, melainkan bagian dari agenda pemerintah yang juga melibatkan organisasi masyarakat lainnya.

“Pemerintah punya agenda untuk membagi konsesi tambang kepada organisasi-organisasi masyarakat termasuk NU. Jadi bukan cuma NU yang dapat, yang lain dapat juga,” katanya.

Namun, Gus Yahya tidak menampik bahwa NU menghadapi tantangan besar dalam menjalankan kebijakan tersebut.

Sebab, organisasi sebesar NU belum memiliki pengalaman mengelola usaha korporasi dalam skala besar sehingga membutuhkan proses penyesuaian dan pembelajaran.

“NU itu sejak awal memang harus menghadapi tantangan-tantangan untuk melakukan kalibrasi dari satu inisiatif baru supaya bisa dilaksanakan dengan baik di tengah konstruksi yang eksisting yang sekarang ada,” jelasnya.

Oleh karena itu, ia meminta masyarakat memberikan waktu kepada PBNU untuk menyusun tata kelola yang tepat dan akuntabel sebelum pengelolaan tambang benar-benar berjalan optimal.

“Kami tentu saja harus mohon maaf kepada masyarakat bahwa kami perlu waktu untuk bisa menyesuaikan diri dengan semua ini karena belum pernah sama sekali,” ucap Gus Yahya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa orientasi utama pengelolaan tambang oleh NU bukanlah memperkaya organisasi, melainkan menjadikan konsesi tersebut sebagai saluran distribusi manfaat ekonomi bagi masyarakat akar rumput.

“Perspektifnya adalah supaya ini menjadi channel terhantarnya maslahat dari tambang itu kepada masyarakat basis. Maka tujuan dari pengelolaan tambang oleh NU jelas bukan dan tidak boleh menjadi sesuatu untuk mengakumulasikan kekayaan untuk NU sendiri,” ungkapnya.

Baca juga: Krapyak, Rahim Intelektual NU: Dari Gus Dur hingga Gus Yahya

Gus Yahya bahkan menolak anggapan bahwa NU ingin berubah menjadi kekuatan oligarki ekonomi baru melalui pengelolaan tambang.

“NU ini tidak bisa lalu berpikir NU dapat tambang ingin jadi naga ke-10 misalnya, kan tidak. Tapi ini semuanya untuk masyarakat basis,” tuturnya.

Menurutnya, PBNU saat ini sedang menyusun berbagai perangkat aturan internal untuk memastikan tata kelola tambang dilakukan secara transparan dan objektif.

Salah satunya melalui penyusunan peraturan perkumpulan khusus terkait prinsip pengelolaan tambang.

“Kita mempersiapkan satu peraturan perkumpulan yang khusus untuk mengatur prinsip-prinsip tata kelola tambang yang menjadi konsesi NU misalnya. Ini semua kami lakukan supaya ada akuntabilitas, ada transparansi dan semuanya dilaksanakan secara objektif,” jelas Gus Yahya.

Ia juga mengakui bahwa sampai saat ini masih banyak aspek teknis yang belum sepenuhnya dipahami oleh PBNU, termasuk soal hitung-hitungan keuntungan bisnis tambang.

“Terus terang saja memang kami masih mencari keuntungannya berapa. Saya sendiri misalnya masih tidak tahu gimana cara ngitung keuntungannya itu sampai sekarang. Saya ini jualan genteng saja gagal dulu, apalagi suruh mikir tambang,” katanya sambil berkelakar.

Di tengah polemik tersebut, Gus Yahya juga menyinggung mengapa NU menjadi organisasi yang paling banyak mendapat sorotan publik dibanding ormas lain yang memperoleh konsesi serupa.

“Ya lebih seksi kali ya,” ujarnya singkat.

Meski demikian, Gus Yahya menegaskan bahwa langkah NU menerima konsesi tambang tidak boleh dibaca sebagai tanda organisasi sedang mendekat pada kekuasaan atau kehilangan independensinya.

Menurutnya, sejak awal sejarah berdirinya, NU memiliki karakter independen yang sangat kuat dan tidak mudah dikooptasi oleh kekuatan politik mana pun.

“NU itu sebetulnya by nature memang independen. Tidak bisa siapa yang bisa mengangkangi satu basis komunitas yang begitu luas dan memang punya tradisi independennya yang sangat kuat itu,” ungkapnya.

Baca juga: Kiai Imjaz, Gus Yahya, dan Gus Yusuf Hadir di PMKNU Cirebon, Sinyal Panas Menuju Muktamar NU 2026

Ia mencontohkan bagaimana NU tetap mampu menjaga jarak dengan kekuasaan sejak era kolonial Belanda, Orde Lama, hingga Orde Baru.

“Belanda tidak bisa mengkooptasi NU. Orde Lama dulu juga tidak bisa mengkooptasi NU. Bahkan Orde Baru dengan konstruksi yang seperti itu tidak bisa mengkooptasi NU,” tutur Gus Yahya.

Namun menurutnya, yang paling penting bukan sekadar mempertahankan independensi, melainkan menentukan untuk apa independensi tersebut digunakan.

“Tinggal persoalannya bagaimana NU memanfaatkan independensinya. Dengan independen ini kita mau apa? Kita mau ikut berebut kekuasaan atau kita mau melakukan sesuatu untuk masyarakat basis?” katanya.

Gus Yahya mengakui memang ada sebagian kalangan yang memandang NU seharusnya masuk lebih jauh ke dalam arena kekuasaan politik.

Tetapi ia menegaskan bahwa posisi dasar NU tetaplah sebagai organisasi khidmah untuk masyarakat luas.

“NU ini sebetulnya posisinya ada pada khidmah kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia kemudian mengutip pesan pendiri NU, Hasyim Asy'ari, yang menyebut bahwa NU harus mengupayakan kemaslahatan seluruh masyarakat, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

“NU itu tas’a li mashlahatil ‘ammah. Jadi NU ini mengupayakan kemaslahatan semua orang, masyarakat umum, dan mengupayakan kebaikan bagi mereka baik dunia maupun akhirat,” jelas Gus Yahya.

Dengan demikian, menurutnya, keterlibatan NU dalam berbagai isu kebangsaan termasuk pengelolaan sumber daya ekonomi harus tetap ditempatkan dalam kerangka pelayanan sosial, bukan perebutan kekuasaan ataupun kepentingan kelompok tertentu.

“Yang harus menjadi posisi NU bukan soal merebut kekuasaan lalu mempertahankannya, tapi soal bagaimana memperjuangkan kemaslahatan umum,” pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Jemaah Haji Mulai Tiba di Madinah, Masjid Nabawi Siapkan 141 Pintu
Jemaah Haji Mulai Tiba di Madinah, Masjid Nabawi Siapkan 141 Pintu
Aktual
Gus Yahya: Pemimpin Baru NU Masa Depan Harus Paham Isu Global
Gus Yahya: Pemimpin Baru NU Masa Depan Harus Paham Isu Global
Aktual
Gus Yahya: Kritik Gus Dur Soal Keikhlasan Harus Membayangi Kader NU
Gus Yahya: Kritik Gus Dur Soal Keikhlasan Harus Membayangi Kader NU
Aktual
Soal Konsesi Tambang, Gus Yahya Tegaskan PBNU Tak Mau Jadi Naga ke-10
Soal Konsesi Tambang, Gus Yahya Tegaskan PBNU Tak Mau Jadi Naga ke-10
Aktual
Jemaah Haji Diimbau Tidak Berbagi Alat Cukur saat Tahalul
Jemaah Haji Diimbau Tidak Berbagi Alat Cukur saat Tahalul
Aktual
Musyrif Diny: Mina Jadi Madrasah Kesabaran dan Dzikir bagi Jamaah Haji di Hari Tasyrik
Musyrif Diny: Mina Jadi Madrasah Kesabaran dan Dzikir bagi Jamaah Haji di Hari Tasyrik
Aktual
Inspektorat Kemenhaj Perketat Pengawasan Layanan Jemaah Haji di Mina
Inspektorat Kemenhaj Perketat Pengawasan Layanan Jemaah Haji di Mina
Aktual
Kloter Pertama Jemaah Haji Debarkasi Makassar Tiba 1 Juni 2026
Kloter Pertama Jemaah Haji Debarkasi Makassar Tiba 1 Juni 2026
Aktual
PPIH: Sebagian Jamaah Haji Kloter 8 PLM Asal Babel Mulai Tinggalkan Mina
PPIH: Sebagian Jamaah Haji Kloter 8 PLM Asal Babel Mulai Tinggalkan Mina
Aktual
Sapi Kurban Jumbo di Sleman Hasilkan 700 Kilogram Daging, Dibagikan hingga Luar DIY
Sapi Kurban Jumbo di Sleman Hasilkan 700 Kilogram Daging, Dibagikan hingga Luar DIY
Aktual
Penggunaan APBN untuk Pembelian Hewan Kurban Presiden Dinilai Sah untuk Kepentingan Rakyat
Penggunaan APBN untuk Pembelian Hewan Kurban Presiden Dinilai Sah untuk Kepentingan Rakyat
Aktual
Tanpa Meritokrasi di NU, Gus Yahya: Semua Orang Bisa Lompat ke Puncak
Tanpa Meritokrasi di NU, Gus Yahya: Semua Orang Bisa Lompat ke Puncak
Aktual
Hukum Menjual Kulit Hewan Kurban dalam Islam, Boleh atau Haram?
Hukum Menjual Kulit Hewan Kurban dalam Islam, Boleh atau Haram?
Aktual
Indef: Transaksi Hewan Kurban Berdampak Positif bagi Peternak dan Ekonomi
Indef: Transaksi Hewan Kurban Berdampak Positif bagi Peternak dan Ekonomi
Aktual
Dimulai Setelah Hari Tasyrik, Ini Jadwal Kepulangan Jemaah Haji 2026
Dimulai Setelah Hari Tasyrik, Ini Jadwal Kepulangan Jemaah Haji 2026
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com