KOMPAS.com – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia, ada sosok perempuan sufi yang namanya terus dikenang hingga berabad-abad setelah wafatnya.
Ia bukan seorang ratu, bukan pula tokoh yang memimpin pasukan atau menguasai wilayah luas.
Namun ketulusan ibadah dan kecintaannya kepada Allah SWT membuat namanya abadi dalam sejarah Islam.
Dialah Rabiah Al-Adawiyah, seorang perempuan salehah dari Basrah yang dikenal karena kezuhudan, keteguhan iman, dan cinta spiritualnya yang begitu mendalam kepada Sang Pencipta.
Salah satu kisah paling terkenal tentang dirinya adalah kabar yang diterimanya ketika masih menjadi budak.
Dalam kondisi penuh kesulitan, ia mendengar suara yang menenangkan hatinya dan menyampaikan bahwa kelak dirinya akan dimuliakan hingga para malaikat merasa iri terhadap kedudukannya.
Kisah tersebut dikutip dari buku 198 Kisah Haji Wali-Wali Allah karya Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny, yang memuat perjalanan hidup para wali dan orang-orang saleh yang dikenal karena kedekatannya dengan Allah SWT.
Rabiah Al-Adawiyah lahir di Basrah, Irak, dari keluarga yang sangat sederhana. Ia merupakan anak keempat dari empat bersaudara. Karena itulah ia diberi nama Rabiah, yang dalam bahasa Arab berarti "yang keempat".
Masa kecil Rabiah tidak berjalan mudah. Ia kehilangan kedua orang tuanya ketika masih belia. Kesedihan itu semakin berat ketika Basrah dilanda bencana kelaparan yang membuat kehidupan masyarakat kacau.
Dalam situasi sulit tersebut, Rabiah terpisah dari saudara-saudaranya dan harus bertahan hidup seorang diri.
Nasibnya semakin berat ketika suatu hari ia diculik oleh seorang penjahat. Setelah ditangkap, ia dijual sebagai budak dengan harga hanya enam dirham.
Sejak saat itu, kehidupan Rabiah dipenuhi pekerjaan berat. Ia harus melayani majikannya setiap hari dengan tenaga yang terbatas.
Namun menariknya, penderitaan itu tidak membuatnya menjauh dari Allah. Justru di tengah kesulitan hidup, hatinya semakin dekat kepada Sang Pencipta.
Baca juga: Kisah Haru Penjual Sepatu yang Dapat Gelar Haji Mabrur Tanpa ke Makkah
Suatu hari, ketika menjalankan pekerjaannya, Rabiah terjatuh hingga tangannya terkilir. Dalam keadaan kesakitan dan tidak memiliki siapa pun untuk mengadu, ia menengadahkan hati kepada Allah SWT.
Menurut kisah yang diriwayatkan dalam buku 198 Kisah Haji Wali-Wali Allah, Rabiah berdoa dengan penuh kepasrahan.
Ia mengeluhkan kesendiriannya sebagai anak yatim yang hidup jauh dari keluarga. Namun di balik semua penderitaan itu, ada satu hal yang terus menjadi pikirannya: apakah Allah ridha kepadanya atau tidak.
Bagi banyak orang, kehilangan keluarga, kebebasan, dan kesehatan mungkin menjadi alasan untuk mengeluh. Tetapi bagi Rabiah, yang paling penting justru keridhaan Allah.
Di saat itulah ia mendengar suara yang menenangkan dirinya. Suara itu mengatakan bahwa suatu hari nanti ia akan dimuliakan sedemikian rupa hingga para malaikat merasa iri terhadap kedudukannya.
Kalimat tersebut menjadi titik balik dalam hidup Rabiah. Sejak hari itu, ia semakin tekun beribadah.
Meski harus bekerja keras sebagai budak, Rabiah tetap berusaha mengisi hidupnya dengan ibadah.
Pada siang hari ia berpuasa. Pada malam hari ia berdiri dalam shalat dan berdoa hingga larut. Kehidupan spiritualnya berjalan diam-diam tanpa diketahui banyak orang.
Hingga suatu malam, majikannya terbangun dari tidur dan secara tidak sengaja melihat pemandangan yang mengubah hidupnya.
Dari kejauhan ia menyaksikan Rabiah sedang bersujud dengan penuh khusyuk. Dalam doanya, Rabiah berkata bahwa seluruh hasrat hatinya hanya satu, yaitu memenuhi perintah Allah dan mengabdikan dirinya kepada-Nya.
Ia mengaku bahwa seandainya memiliki kebebasan, ia tidak akan berhenti beribadah walau sesaat.
Menurut kisah yang tercatat dalam buku tersebut, majikannya kemudian menyaksikan sesuatu yang luar biasa.
Di atas kepala Rabiah terlihat cahaya terang yang menerangi ruangan. Peristiwa itu membuat sang majikan ketakutan sekaligus tersentuh. Keesokan harinya, ia memanggil Rabiah dan membebaskannya tanpa syarat.
Baca juga: Satu-satunya dalam Sejarah, Kisah Pemulangan Jenazah Bung Tomo dari Makkah
Setelah memperoleh kebebasan, Rabiah tidak memilih kehidupan mewah atau mencari kedudukan dunia.
Sebaliknya, ia justru memilih hidup sederhana dan mengabdikan seluruh waktunya untuk beribadah.
Nama Rabiah mulai dikenal masyarakat Basrah sebagai perempuan salehah yang memiliki kebijaksanaan dan kedalaman spiritual luar biasa.
Banyak orang datang untuk meminta nasihat dan mendengarkan petuahnya. Keistimewaan Rabiah bukan hanya karena banyaknya ibadah yang ia lakukan, melainkan karena ketulusan cintanya kepada Allah SWT.
Dalam berbagai riwayat, Rabiah sering digambarkan sebagai tokoh yang memperkenalkan konsep mahabbah, yakni beribadah karena cinta kepada Allah, bukan semata-mata karena takut neraka atau berharap surga.
Pandangan inilah yang kemudian membuat namanya sangat berpengaruh dalam perkembangan tasawuf Islam.
Salah satu kisah terkenal lainnya adalah perjalanan Rabiah menuju Tanah Suci. Rabiah berangkat menunaikan ibadah haji dengan bekal yang sangat sederhana.
Barang-barangnya diangkut menggunakan seekor keledai. Namun di tengah perjalanan melintasi padang pasir, keledai tersebut mati.
Beberapa orang dalam rombongan menawarkan bantuan untuk membawa barang-barangnya. Rabiah menolak dengan halus karena tidak ingin merepotkan orang lain.
Ketika ditinggalkan sendirian di tengah padang pasir, ia mengadukan kesulitannya kepada Allah SWT.
Belum lama setelah ia berdoa, terjadi peristiwa yang disebut sebagai karamah dalam kisah tersebut.
Keledai yang sebelumnya mati tiba-tiba bangkit kembali. Rabiah kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Makkah.
Kisah ini menjadi salah satu cerita yang paling sering dikaitkan dengan kehidupan spiritual Rabiah Al-Adawiyah.
Baca juga: Kisah Ummu Mihjan, Marbot Perempuan di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah
Di antara warisan terbesar Rabiah adalah doa-doanya yang menggambarkan kecintaan luar biasa kepada Allah SWT.
Salah satu doa yang paling terkenal berbunyi:
"Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka, maka bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, maka jauhkanlah aku darinya. Tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, maka janganlah Engkau palingkan aku dari keindahan-Mu yang abadi."
Doa tersebut hingga kini sering dikutip dalam berbagai kajian tasawuf dan spiritualitas Islam.
Banyak ulama memandang doa itu sebagai gambaran puncak ketulusan seorang hamba dalam beribadah.
Menjelang akhir hayatnya, Rabiah tetap menghabiskan waktu dengan dzikir dan ibadah.
Menurut kisah yang diriwayatkan dalam buku tersebut, saat ajal mendekat ia meminta orang-orang di sekitarnya meninggalkan kamarnya.
Tidak lama kemudian terdengar suara yang menyeru:
"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai."
Ketika para sahabatnya membuka pintu kamar, Rabiah Al-Adawiyah telah wafat.
Ia meninggalkan dunia yang selama hidupnya tidak pernah menjadi tujuan utama.
Di zaman ketika ukuran kesuksesan sering diukur dari harta, jabatan, dan popularitas, kisah Rabiah Al-Adawiyah menghadirkan perspektif yang berbeda.
Ia memulai hidup sebagai anak yatim, menjadi budak, hidup dalam kemiskinan, dan tidak memiliki kekuasaan apa pun.
Namun justru dari kondisi itulah lahir seorang perempuan yang namanya dikenang selama lebih dari 1.200 tahun.
Kisah Rabiah menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu ditentukan oleh status sosial atau kekayaan, melainkan oleh ketulusan hati dan kedekatan kepada Allah SWT.
Barangkali itulah sebabnya kisahnya terus diceritakan dari generasi ke generasi.
Seorang perempuan sederhana dari Basrah yang hidup tanpa kemegahan dunia, tetapi namanya tetap hidup dalam sejarah Islam sebagai sosok yang disebut memiliki kedudukan begitu mulia hingga para malaikat pun iri kepadanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang