Editor
KOMPAS.com - Ka'bah merupakan bangunan suci yang menjadi kiblat umat Islam di seluruh dunia dan berada di pusat Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi.
Di balik kemegahan dan kesuciannya, banyak umat Islam penasaran dengan kondisi bagian dalam Ka'bah karena tidak semua orang diperbolehkan memasukinya.
Rasa ingin tahu tersebut wajar mengingat jutaan jamaah haji dan umrah hanya dapat melihat Ka'bah dari luar saat beribadah di Tanah Suci.
Baca juga: Rahasia Arah Tawaf Kabah, Ternyata Mirip Gerak Planet di Alam Semesta
Faktanya, bagian dalam Ka'bah tidak dipenuhi emas, perhiasan, atau harta berharga sebagaimana yang kerap dibayangkan sebagian orang, melainkan ruang sederhana yang menyimpan nilai sejarah dan spiritual yang mendalam.
Lantas, seperti apa sebenarnya bagian dalam ka'bah? Berikut ulasan ringkasnya, seperti dilansir dari Antara.
Baca juga: Bagian-Bagian Kabah: Nama, Letak, dan Artinya dalam Islam
Bagian dalam Ka'bah berupa ruang terbuka seluas sekitar 180 meter persegi.
Di dalamnya terdapat tiga pilar kayu besar yang menopang atap bangunan dan dibangun pada masa Abdullah bin Zubair.
Lantainya dilapisi marmer putih dengan tepian berwarna hitam.
Sementara bagian bawah dinding dilapisi marmer berwarna mawar setinggi sekitar empat meter.
Di atasnya terbentang kain hijau bertuliskan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang menghiasi dinding hingga mendekati langit-langit.
Langit-langit Ka'bah dihiasi lentera-lentera kuno peninggalan era Kekhalifahan Utsmaniyah.
Lentera tersebut terbuat dari tembaga, perak, dan kaca serta dihiasi kaligrafi Al-Qur'an.
Di dalam ruangan juga terdapat sebuah tangga kecil yang digunakan untuk menuju atap Ka'bah.
Meski demikian, tidak terdapat jendela pada bagian dalam bangunan tersebut.
Pada bagian dalam dinding Ka'bah terdapat sejumlah prasasti marmer bertuliskan kaligrafi Arab.
Prasasti tersebut berasal dari masa para penguasa Muslim terdahulu sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi mereka dalam renovasi dan pemeliharaan Ka'bah.
Selain itu, terdapat penanda di lantai yang menunjukkan lokasi Nabi Muhammad SAW pernah melaksanakan shalat dan berdoa ketika memasuki Ka'bah.
Penanda tersebut menjadi salah satu bagian yang paling sakral di dalam ruangan Ka'bah.
Salah satu bagian paling terkenal dari Ka'bah adalah Hajar Aswad yang berada di sudut timur bangunan.
Dahulu batu ini berwarna putih dan dipercaya menghitam karena menyerap dosa-dosa orang yang menciumnya.
Dalam pelaksanaan tawaf, jamaah haji dan umrah berusaha mencium atau menyentuh Hajar Aswad sebagai bentuk mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW.
Saat ini, Hajar Aswad terdiri dari tiga bagian utama dan beberapa fragmen kecil yang disatukan menggunakan bingkai perak.
Delapan bagiannya masih berada di Ka'bah, sementara enam bagian lainnya diketahui berada di Istanbul, Turki.
Isi Kabah.Tidak semua orang dapat memasuki Ka'bah. Bahkan, jutaan jamaah yang melaksanakan ibadah haji dan umrah setiap tahun tidak memiliki akses untuk masuk ke dalam bangunan suci tersebut.
Hanya beberapa pihak tertentu yang mendapatkan kehormatan memasuki Ka'bah. Berikut di antaranya.
Pejabat tinggi dari negara-negara Muslim dapat memperoleh kesempatan memasuki Ka'bah melalui undangan resmi Pemerintah Arab Saudi.
Ulama serta cendekiawan Muslim terkemuka juga dapat memperoleh izin memasuki Ka'bah dalam rangka kunjungan atau kegiatan keagamaan tertentu.
Tamu istimewa Kerajaan Arab Saudi juga dapat memperoleh akses khusus untuk memasuki Ka'bah.
Dalam beberapa kasus tertentu, non-Muslim juga dapat memperoleh izin khusus dari otoritas setempat.
Ka'bah bukan hanya bangunan fisik yang berdiri di tengah Masjidil Haram.
Bangunan suci ini menjadi simbol persatuan umat Islam karena seluruh Muslim di dunia menghadap ke arah yang sama saat melaksanakan shalat.
Keberadaan Ka'bah juga menjadi titik temu umat Islam dari berbagai negara, bahasa, dan budaya dalam pelaksanaan ibadah haji maupun umrah.
Ka'bah dapat menjadi pengingat pentingnya nilai kesetaraan dan kepedulian terhadap kaum dhuafa dalam kehidupan bermasyarakat.
Jutaan jamaah yang datang ke Tanah Suci setiap tahun juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga lingkungan dan keberlanjutan.
Ka'bah turut menjadi simbol solidaritas umat Islam dalam menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan di tingkat global.
Multazam di Masjidil Haram diyakini sebagai salah satu tempat mustajab untuk berdoa.Ka'bah bukanlah tempat penyimpanan benda-benda suci ataupun harta duniawi.
Kesederhanaan bagian dalamnya justru mencerminkan nilai utama yang terkandung dalam bangunan suci tersebut, yakni kesucian, ketundukan kepada Allah SWT, dan persatuan umat Islam.
Bagi umat Muslim, Ka'bah adalah Baitullah yang menjadi pusat ibadah dan arah kiblat, bukan sekadar bangunan yang menarik untuk dilihat.
Meski tidak semua orang dapat menyaksikan bagian dalamnya secara langsung, memahami sejarah dan makna Ka'bah dapat menumbuhkan rasa hormat, cinta, dan kekaguman terhadap salah satu simbol terpenting dalam Islam.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang