Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nasehat Ibrahim bin Adham agar Berhenti dari Maksiat

Kompas.com, 1 Oktober 2025, 21:49 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Maksiat adalah perbuatan melanggar perintah-perintah Allah SWT atau melaksanakan apa-apa yang dilarang Allah SWT.

Maksiat termasuk perbuatan dosa yang dapat menjauhkan seseorang dari Allah SWT. Dampak kemaksiatan menjadikan hidup tidak tenang, dan terjerumus ke dalam kebinasaan.

Baca juga: Nasehat Parenting Imam Ghazali dan Ibnul Qayyim Al Jauziyah

Ketika seseorang terus-menerus melakukan kemaksiatan dan tidak sempat bertaubat kepada Allah SWT, maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka. Tidak ada jalan untuk kembali lagi ke dunia.

حَتّٰٓى اِذَا جَآءَ اَحَدَهُمُ الۡمَوۡتُ قَالَ رَبِّ ارۡجِعُوۡنِۙ لَعَلِّىۡۤ اَعۡمَلُ صَالِحًـا فِيۡمَا تَرَكۡتُؕ كَلَّا ؕ اِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَاؕ وَمِنۡ وَّرَآئِهِمۡ بَرۡزَخٌ اِلٰى يَوۡمِ يُبۡعَثُوۡنَ 

Artinya: "Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka (orang-orang kafir), dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan." (Q.S. Al Mu'minun: 99-100).

Untuk mencegah kemaksiatan agar tidak menjadi penyesalan nantinya, seorang ulama besar bernama Ibrahim bin Adham memberikan nasehatnya.

Nasehat Ibrahim bin Adham agar Berhenti Maksiat

Nasehat Ibrahim bin Adham ini diberikan kepada seorang lelaki yang sering melakukan kemaksiatan. Ia ingin terbebas dari kemaksiatan sehingga meminta nasehat Ibrahim bin Adham.

Baca juga: 10 Hal yang Menyebabkan Doa Tidak Terkabul Menurut Ibrahim bin Adham

Nasehat Pertama

Ketika engkau hendak berbuat maksiat kepada Allah SWT, maka janganlah engkau makan sedikit pun dari rezeki Allah SWT.

Jika engkau menyadari bahwa semua rezeki berasal dari Allah SWT, maka apakah pantas engkau makan rezeki-Nya padahal engkau berbuat maksiat kepada-Nya?

Nasehat Kedua

Jika engkau hendak berbuat maksiat kepada Allah SWT, maka janganlah engkau tinggal di bumi-Nya.

Jika engkau menyadari bahwa bumi ini milik Allah SWT, maka apakah pantas engkau tinggal di bumi-Nya padahal engkau berbuat maksiat kepada-Nya?

Nasehat Ketiga

Jika engkau hendak berbuat maksiat kepada Allah SWT, maka carilah tempat di mana Allah SWT tidak dapat melihatmu, lalu berbuatlah maksiat di tempat itu!

Jika engkau menyadari bahwa semua dalam pengawasan Allah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, maka apakah pantas engkau berbuat maksiat padahal setiap perbuatanmu pasti dilihat-Nya?

Baca juga: Nasehat Bermanfaat Ali bin Abi Thalib Bagi Kehidupan

Nasehat Keempat

Jika malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu, maka katakanlah padanya, ‘Tundalah kematianku sampai waktu tertentu!’

Jika engkau menyadari bahwa datangnya maut tak bisa diduga dan tak tau kapan datangnya, lantas mengapa engkau masih mengharap keselamatan?

Nasehat Kelima

Apabila malaikat Zabaniyah atau malaikat yang bertugas menyiksa di neraka mendatangimu untuk menyeretmu ke neraka Jahannam, maka janganlah engkau ikut mereka.

Laki-laki yang diberi nasehat itu tidak kuat mendengarkan nasehat Ibrahim bin Adham. Ia langsung menangis dan bertaubat kepada Allah SWT.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com