Penulis
KOMPAS.com - Ali bin Abi Thalib adalah sosok manusia pilihan. Ia tumbuh sejak kecil dalam dekapan iman dibawah asuhan manusia paling mulia, Nabi Muhammad SAW. Ia sangat dekat dengan Rasulullah SAW karena kedudukannya sebagai sepupu sekaligus menantu.
Dari urutan manusia paling mulia setelah Nabi Muhammad SAW, Ali bin Abi Thalib menduduki urutan keempat setelah Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan.
Sosok yang sederhana ini memberikan keteladanan dalam kehidupan terutama dalam hal kesederhanaan, keberanian, dan keteguhan iman.
Untuk lebih mengenal sosok mulai ini, berikut biografi singkat kehidupannya.
Baca juga: Kisah Cinta Ali bin Abi Thalib dan Fatimah yang Penuh Kesabaran
Ali bin Abi Thalib lahir di Mekkah pada tahun 600 Hijriah. Ia dilahirkan dari keturunan yang mulia di kalangan Arab, yaitu suku Quraisy dari Bani Hasyim.
Ali bin Abi Thalib kecil tumbuh bersama Nabi Muhammad SAW dalam asuhan ayahnya Abi Thalib yang tak lain paman Nabi Muhammad SAW yang mengasuhnya dari kecil hingga remaja.
Sepupu Nabi ini dikenal dengan gelar karamallahu Wajhah atau orang yang wajahnya dimuliakan Allah SWT. Gelar yang disematkan karena ia tidak pernah menyembah berhala dan karena ketinggian akhlaknya.
Ali bin Abi Thalib adalah anak-anak pertama yang masuk Islam. Hal ini tidak mengherankan karena ia tumbuh bersama Nabi Muhammad SAW.
Kisah pernikahan Ali bin Abi Thalib menjadi salah satu kisah paling romantis sepanjang zaman.
Saat putri tercinta Rasulullah SAW mulai tumbuh dewasa, banyak orang yang hendak mempersuntingnya. Namun semua calon yang mengajukan ditolak Rasulullah SAW.
Ali bin Abi Thalib yang hidup dalam kesederhanaan tidak punya keberanian untuk melamar putri Sang Nabi. Berkat dorongan dari sahabat-sahabat lainnya, ia memberanikan diri untuk melamar Fatimah Az Zahra. Rasulullah pun menerimanya dengan tangan terbuka.
Dari pernikahan tersebut, lahir dua anak yang menjadi penghulu pemuda di surga, yaitu Hasan dan Husain.
Baca juga: Kisah Tokoh Pemuda Islam Teladan dari Ali bin Abi Thalib hingga Imam Bukhari
Konflik yang berkecamuk dikalangan internal umat Islam membuat Khalifah Utsman bin Affan wafat sebagai syahid. Peristiwa tersebut membuat umat Islam terpecah. Pengangkatan pemimpin menjadi tidak mudah.
Muncul dualisme kepemimpinan di kalangan umat Islam. Mayoritas masyarakat membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Namun ada sosok Muawiyah yang tidak mau tunduk di bawah kepemimpinan Ali bin Abi Thalib.
Saat menjadi khalifah, fitnah di kalangan umat semakin membesar. Dampaknya, muncul berbagai perang saudara, yang terbesar adalah Perang Jamal antara pasukan Ali bin Abi Thalib melawan pasukan Ummul Mukminin Aisyah.
Perang kedua dinaman perang Shiffin, antara pasukan Ali bin Abi Thalib melawan pasukan Muawiyah bin Abi Sufyan. Perpecahan tak terelakkan, korban dari kalangan kaum muslimin berjatuhan.
Puncaknya adalah wafatnya Ali bin Abi Thalib setelah ditikam oleh Ibnu Muljam, golongan kaum Khawarij yang merasa dalam kebenaran padahal berada dalam kesesatan.
Kaum Khawarij, orang yang memisahkan diri dari golongan Ali bin Abi Thalib dan golongan Muawiyah bin Abi Sufyan merasa ada tiga orang yang menjadi sumber masalah di kalangan umat Islam.
Ketiganya adalah Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sufyan, dan Amr bin Ash. Kaum Khawarij kemudian mengirim tiga orang pembunuh untuk menghabisi ketiga orang tersebut.
Dari misi yang diberikan, hanya Abdurrahman bin Muljam atau Ibnu Muljam yang berhasil menjalankan tugasnya. Ibnu Muljam berhasil menikam Ali bin Abi Thalib saat hendak menunaikan shalat Subuh di Masjid Kufah.
Khalifah keempat ini wafat dalam keadaan syahid pada tahun 40 H. Sementara dua lainnya gagal dibunuh. Muawiyah bin Abi Sufyan hanya mendapatkan luka, sementara Amr bin Ash selamat karena sedang sakit dan tidak pergi ke masjid.
Baca juga: Nasehat Ali Bin Abi Thalib: Tiga Cara Menjadi Manusia Terbaik
Berikut ini pelajaran berharga dari kehidupan Ali bin Abi Thalib dalam hal kesederhanaan, keberanian, dan keteguhan iman.
Latar belakang keluarga Ali bin Abi Thalib adalah keluarga yang sederhana. Meskipun Ayahnya adalah pemuka Quraisy, tapi termasuk yang hidupnya sederhana, tidak mempunyai banyak harta.
Selama menjalani kehidupan, Ali bin Abi Thalib hidup dalam kesederhanaan. Bajunya bertambal dan pernah menggadaikan barangnya kepada orang Yahudi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Saat hidup berkeluarga, Ali bin Abi Thalib dan sang istri, Fatimah Az Zahra tetap hidup dalam kesederhanaan. Meskipun dari kalangan mulia dan dekat dengan manusia mulia, tidak membuat gengsi untuk hidup sederhana.
Bahkan saat menjadi khalifah, ia tetap hidup dalam kesederhanaan dan menolak kemewahan. Iman yang sudah merasuk ke dalam jiwa tidak memandang kemewahan dan harta benda sebagai sumber kenikmatan.
Keberanian terbesar Ali bin Abi Thalib diperlihatkan saat peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW. Usianya yang masih muda tidak menggentarkannya untuk menggantikan Nabi Muhammad di tempat tidur.
Resiko dari keputusan tersebut adalah nyawa bisa melayang. Namun keberanian itu tumbuh karena keimanan yang luar biasa dan mendapat peneguhan dari manusia paling mulia.
Dalam berbagai pertempuran, Ali bin Abi Thalib juga selalu berada di garda terdepan. Pada perang Badar, ia menjadi tiga jagoan yang diajukan Rasulullah SAW untuk memulai peperangan. Ia pun berhasil mengalahkan musuh dengan mudahnya.
Baca juga: Nasehat Bermanfaat Ali bin Abi Thalib Bagi Kehidupan
Keteguhan iman Ali bin Abi Thalib tak perlu diragukan lagi. Ia adalah manusia paling mulia keempat dan sudah dijamin masuk surga. Orang yang mempunyai kedudukan tersebut tentu adalah orang yang sangat teguh imannya.
Keteguhan iman ini diperlihatkan saat ia menjadi khalifah. Masa kepemimpinannya dipenuhi dengan konflik internal. Namun dengan keteguhan iman, ia dapat melaksanakan tugasnya dengan menjunjung tinggi prinsip keadilan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang