Editor
KOMPAS.com-Dalam perjalanan jauh, seorang musafir kerap menghadapi kesulitan untuk melaksanakan shalat tepat pada waktunya.
Islam sebagai agama yang mengedepankan kemudahan memberikan rukhsah berupa sholat jamak dan sholat qashar bagi umatnya yang berada dalam kondisi tertentu.
Keringanan ini merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT agar ibadah tetap dapat dijalankan tanpa memberatkan hamba-Nya.
Meski demikian, sholat jamak dan qashar tidak dapat dilakukan secara sembarangan karena memiliki syarat dan ketentuan yang harus dipahami dengan benar.
Baca juga: Panduan Lengkap Sholat Sunnah Rawatib: Niat, Tata Cara, dan Jumlah Rakaatnya
Dilansir dari laman Muhammadiyah, sholat jamak dan qashar merupakan keringanan dalam ibadah sholat yang diberikan kepada umat Islam saat menghadapi kondisi tertentu, terutama ketika melakukan perjalanan jauh.
Keringanan ini bertujuan menjaga keseimbangan antara kewajiban ibadah dan kemampuan manusia.
Sholat jamak adalah menggabungkan dua shalat fardhu dalam satu waktu pelaksanaan.
Sholat yang boleh dijamak adalah sholat Dzuhur dengan Ashar serta sholat Maghrib dengan Isya.
Penggabungan tersebut dapat dilakukan di waktu sholat pertama atau di waktu sholat kedua sesuai kondisi yang dihadapi.
Baca juga: Doa Setelah Sholat Istikharah Lengkap dengan Arti dan Tata Caranya
Sholat qashar adalah meringkas jumlah rakaat sholat yang semula empat rakaat menjadi dua rakaat.
Sholat yang boleh diqashar adalah Dzuhur, Ashar, dan Isya.
Qashar hanya diperbolehkan bagi orang yang sedang dalam perjalanan safar dan memenuhi syarat-syarat tertentu.
Pelaksanaan sholat jamak dan qashar memiliki ketentuan yang harus dipenuhi agar sah menurut syariat.
Ketentuan ini dimaksudkan agar rukhsah digunakan sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
Seseorang diperbolehkan menjamak dan mengqashar sholat apabila berada dalam kondisi safar atau perjalanan jauh.
Safar dipahami sebagai perjalanan yang secara umum dianggap bepergian menurut kebiasaan masyarakat.
Keringanan ini berlaku sejak seseorang meninggalkan tempat tinggalnya hingga kembali atau menetap di tujuan.
Mayoritas ulama mensyaratkan bahwa perjalanan yang membolehkan jamak dan qashar bukanlah perjalanan untuk melakukan maksiat.
Safar yang bertujuan mubah atau kebaikan dipandang sah untuk mendapatkan keringanan sholat.
Ketentuan ini bertujuan agar kemudahan ibadah tidak disalahgunakan.
Baca juga: Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 2026: Sejarah Peristiwa dan Makna Pensyariatan Sholat
Sholat jamak dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu jamak taqdim dan jamak takhir.
Kedua cara tersebut memiliki aturan yang harus diperhatikan agar shalat tetap sah.
Jamak taqdim adalah mengerjakan dua shalat fardhu pada waktu sholat pertama.
Contohnya adalah melaksanakan shalat Dzuhur dan Ashar pada waktu Dzuhur.
Pelaksanaan jamak taqdim mensyaratkan niat jamak sebelum menyelesaikan shalat pertama dan dilakukan secara berurutan tanpa jeda lama.
Jamak takhir adalah menunda shalat pertama hingga masuk waktu shalat kedua.
Contohnya adalah melaksanakan shalat Dzuhur dan Ashar pada waktu Ashar.
Niat jamak takhir harus dilakukan sebelum habis waktu sholat pertama dan uzur harus masih ada hingga sholat kedua dilaksanakan.
Keringanan shalat jamak dan qashar memiliki dasar yang kuat dalam Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW.
Dalil-dalil ini menegaskan bahwa rukhsah diberikan sebagai bentuk rahmat Allah SWT kepada umat-Nya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 78:
أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
Ayat ini menjelaskan rentang waktu shalat dari tergelincirnya matahari hingga malam hari.
Para ulama memahami ayat tersebut sebagai isyarat bolehnya menggabungkan shalat Dzuhur dengan Ashar serta Maghrib dengan Isya dalam kondisi tertentu.
Allah SWT juga berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 101:
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا
Ayat ini menegaskan kebolehan mengqashar shalat bagi orang yang sedang bepergian.
Baca juga: Panduan Lengkap Sholat Dhuha: Waktu, Niat, Tata Cara, Doa, dan Keutamaannya
Hadis Nabi Muhammad SAW menunjukkan praktik langsung shalat jamak saat safar.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ، ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا
Hadis ini menunjukkan kebolehan jamak takhir ketika berangkat sebelum tergelincir matahari.
Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu juga meriwayatkan praktik jamak Rasulullah SAW dalam Perang Tabuk.
خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ؛ فَكَانَ يُصَلِّي الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا، وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا
Hadis ini menegaskan kebolehan menjamak Zhuhur dengan Ashar serta Maghrib dengan Isya dalam perjalanan.
Dasar kebolehan sholat qashar juga dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW.
Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah mengqashar shalat saat safar.
Abu Ya’la bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dialog Umar bin Khattab dengan Rasulullah SAW terkait qashar shalat.
صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوا صَدَقَتَهُ
Hadis ini menegaskan bahwa qashar merupakan keringanan dan pemberian dari Allah SWT.
Baca juga: Sholat Dhuha dan Doa-doanya, Amalan Pagi yang Diyakini Membuka Rezeki
Sholat jamak dan qashar merupakan bentuk kemudahan yang Allah SWT berikan kepada umat Islam dalam kondisi tertentu.
Keringanan ini hendaknya dimanfaatkan sesuai tuntunan Rasulullah SAW dan tidak dilakukan secara serampangan.
Pemahaman yang benar tentang syarat dan tata cara jamak serta qashar membantu musafir menjaga ibadah dengan baik.
Kemudahan dalam Islam pada akhirnya bertujuan menjaga ibadah tetap tegak tanpa memberatkan manusia.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang