Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tanda-Tanda Amalan Diterima Allah, Apa yang Bisa Dirasakan?

Kompas.com, 15 Januari 2026, 19:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Dalam setiap ibadah yang dilakukan seorang muslim, harapan terbesarnya bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan diterimanya amalan oleh Allah SWT.

Namun, pertanyaan yang kerap muncul di benak umat Islam adalah bagaimana mengetahui apakah suatu amalan benar-benar diterima?

Islam mengajarkan bahwa diterimanya amal bukan diukur dari banyak atau sedikitnya ibadah, melainkan dari kualitas batin yang menyertainya.

Para ulama klasik hingga kontemporer menjelaskan bahwa ada tanda-tanda spiritual yang dapat dirasakan seorang hamba ketika amalnya mendapatkan penerimaan dari Allah.

Baca juga: Hukum Pamer Kekayaan di Media Sosial Menurut Islam, Bisa Hapus Amal Kebaikan

Perubahan Sikap Menuju Kebaikan

Salah satu tanda paling mendasar dari diterimanya amalan adalah adanya perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.

Ibadah yang diterima akan meninggalkan jejak pada akhlak, cara berpikir, dan sikap hidup seseorang.

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim menjelaskan bahwa ketakwaan merupakan syarat utama diterimanya amal, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Ma’idah ayat 27.

Ketakwaan ini tidak berhenti pada ritual, tetapi tercermin dalam kehati-hatian menjalani hidup, menjauhi maksiat, serta konsisten dalam kebaikan.

Jika seseorang setelah beribadah justru lebih jujur, lebih sabar, dan lebih peduli kepada sesama, hal itu menjadi isyarat kuat bahwa amalnya tidak berhenti di langit dunia.

Baca juga: Isra Miraj Biasanya Ngapain? Ini Kegiatan dan Amalan yang Dianjurkan

Bertambahnya Keikhlasan dalam Beribadah

Tanda berikutnya adalah meningkatnya keikhlasan. Amal yang diterima tidak melahirkan rasa bangga, apalagi keinginan untuk dipuji. Sebaliknya, ia justru membuat pelakunya semakin merasa kecil di hadapan Allah.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa ikhlas adalah ruh ibadah. Amal tanpa ikhlas ibarat jasad tanpa nyawa.

Ketika seseorang semakin menjaga niatnya dan merasa khawatir amalnya tercemar riya, itulah pertanda hatinya sedang dibersihkan oleh Allah.

Keikhlasan yang tumbuh setelah ibadah merupakan karunia yang tidak semua orang mendapatkannya.

Munculnya Rasa Takut dan Harap kepada Allah

Diterimanya amalan juga ditandai dengan keseimbangan antara rasa takut dan harap. Orang yang amalnya diterima tidak merasa aman dari murka Allah, tetapi juga tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

Dalam Tafsir Ath-Thabari, dijelaskan bahwa QS. Al-Mu’minun ayat 60 menggambarkan orang beriman yang tetap cemas terhadap amalnya meskipun telah berbuat kebaikan.

Kecemasan ini bukan karena kurang yakin kepada Allah, melainkan karena kesadaran akan keterbatasan diri. Hati yang terus berharap diterima sekaligus takut ditolak adalah ciri spiritualitas yang sehat.

Baca juga: Isi Libur Isra Miraj dengan Amalan Penuh Pahala dan Keberkahan

Mencintai Ketaatan dan Membenci Maksiat

Amal yang diterima akan melahirkan kecintaan kepada kebaikan. Seseorang akan merasa ringan dalam beribadah dan gelisah ketika terjatuh dalam dosa.

Syekh Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa kenikmatan dalam ketaatan adalah buah dari amal yang diberkahi.

Sebaliknya, kebencian terhadap maksiat menunjukkan bahwa hati masih hidup dan peka terhadap dosa.

Jika seseorang merasa sedih ketika lalai dan bahagia ketika bisa berbuat baik, itu adalah tanda iman yang tumbuh.

Hati Menjadi Lebih Tenang dan Tawakal

Ketenangan batin juga menjadi indikator penting. Amal yang diterima akan menghadirkan ketenteraman, bukan kegelisahan. Hati menjadi lebih lapang dalam menerima takdir dan lebih mudah bersandar kepada Allah.

Menurut Imam An-Nawawi dalam Syarah Riyadhus Shalihin, ketenangan hati setelah ibadah merupakan anugerah yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang tulus.

Ia tidak selalu datang dalam bentuk kemudahan hidup, tetapi dalam kekuatan menghadapi ujian.

Hati yang tenang adalah buah dari dzikir dan keyakinan, bukan semata-mata dari banyaknya amal.

Baca juga: 7 Amalan Ringan dengan Pahala Setara Haji dan Umroh

Amal Diterima, Bukan Alasan Berhenti Beribadah

Meski tanda-tanda tersebut dapat dirasakan, para ulama sepakat bahwa seorang mukmin tidak boleh merasa pasti amalnya telah diterima. Justru keyakinan mutlak semacam itu dapat menjerumuskan pada ujub.

Imam Hasan Al-Bashri dalam Hilyatul Auliya’ mengatakan bahwa orang beriman menggabungkan amal terbaik dengan rasa takut yang mendalam, sementara orang munafik menggabungkan dosa dengan rasa aman.

Karena itu, tanda diterimanya amal bukan untuk membuat seseorang puas diri, melainkan untuk mendorongnya terus memperbaiki ibadah dan akhlak sepanjang hayat.

Pada akhirnya, hanya Allah yang Maha Mengetahui nilai sebuah amalan. Namun, ketika ibadah melahirkan keikhlasan, ketakwaan, ketenangan, dan kecintaan pada kebaikan, itulah harapan terbaik bahwa amal tersebut telah mendapatkan penerimaan di sisi-Nya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Menag: Salat Ajarkan Kepedulian Sosial dan Lingkungan, Ini Makna Isra Mikraj
Menag: Salat Ajarkan Kepedulian Sosial dan Lingkungan, Ini Makna Isra Mikraj
Aktual
Tanda-Tanda Amalan Diterima Allah, Apa yang Bisa Dirasakan?
Tanda-Tanda Amalan Diterima Allah, Apa yang Bisa Dirasakan?
Doa dan Niat
Riya’, Ujub, dan Sum’ah: Tiga Penyakit Hati yang Merusak Amal Ibadah
Riya’, Ujub, dan Sum’ah: Tiga Penyakit Hati yang Merusak Amal Ibadah
Doa dan Niat
Menimbun Harta dan Azabnya, Peringatan Islam bagi Orang Kikir
Menimbun Harta dan Azabnya, Peringatan Islam bagi Orang Kikir
Doa dan Niat
Apakah Nabi Muhammad Melihat Allah Saat Isra Miraj? Ini Jawabannya
Apakah Nabi Muhammad Melihat Allah Saat Isra Miraj? Ini Jawabannya
Doa dan Niat
Aktivis Pro Palestina Akhiri Mogok Makan usai Kontrak Senjata Israel Dibatalkan
Aktivis Pro Palestina Akhiri Mogok Makan usai Kontrak Senjata Israel Dibatalkan
Aktual
Pria Tertua Arab Saudi Wafat Usia 142 Tahun, Nasser Al Wadaei Tinggalkan 134 Keturunan
Pria Tertua Arab Saudi Wafat Usia 142 Tahun, Nasser Al Wadaei Tinggalkan 134 Keturunan
Aktual
Mengenal Buraq Kendaraan Mulia dalam Peristiwa Isra Mi’raj
Mengenal Buraq Kendaraan Mulia dalam Peristiwa Isra Mi’raj
Aktual
Menag Bilang Masyarakat Ingin ASN Kemenag Seperti Malaikat
Menag Bilang Masyarakat Ingin ASN Kemenag Seperti Malaikat
Aktual
5 Puisi Religi tentang Isra Miraj yang Menyentuh Jiwa
5 Puisi Religi tentang Isra Miraj yang Menyentuh Jiwa
Aktual
Tugas Istri dalam Islam: Peran Utama yang Tidak Sekadar Urusan Rumah Tangga
Tugas Istri dalam Islam: Peran Utama yang Tidak Sekadar Urusan Rumah Tangga
Doa dan Niat
Kenapa Isra Miraj Dilakukan Malam Hari? Ini Penjelasan Alquran
Kenapa Isra Miraj Dilakukan Malam Hari? Ini Penjelasan Alquran
Aktual
7 Langkah Praktis Bersyukur kepada Allah SWT untuk Hidup Lebih Berkah
7 Langkah Praktis Bersyukur kepada Allah SWT untuk Hidup Lebih Berkah
Doa dan Niat
Peringatan Isra Mikraj, Menag: Jika Ada Masalah Rumah Tangga, Jangan Langsung ke Pengadilan
Peringatan Isra Mikraj, Menag: Jika Ada Masalah Rumah Tangga, Jangan Langsung ke Pengadilan
Aktual
Musim Dingin Ekstrem Menguji Pengungsi Gaza Utara, Selimut Hangat Jadi Penyelamat
Musim Dingin Ekstrem Menguji Pengungsi Gaza Utara, Selimut Hangat Jadi Penyelamat
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com