Editor
KOMPAS.com-Kemewahan hidup dan kelapangan rezeki kerap dianggap sebagai tanda keberkahan, padahal dalam ajaran Islam kondisi tersebut bisa menjadi peringatan serius apabila tidak disertai ketaatan kepada Allah SWT.
Islam mengenal konsep istidraj, yakni keadaan ketika seseorang terus diberi kenikmatan duniawi meski semakin lalai dalam ibadah dan tenggelam dalam maksiat.
Pemahaman tentang istidraj menjadi penting agar umat Islam tidak terjebak pada kesenangan semu yang justru menjauhkan dari keselamatan akhirat.
Baca juga: Ujian Kesenangan dalam Islam: Memahami Bahaya Istidraj
Dilansir dari laman Baznas, istidraj merupakan kondisi ketika nikmat materi seperti harta, kesehatan, dan kelapangan hidup terus bertambah, sementara kesadaran spiritual dan rasa syukur kepada Allah SWT justru semakin berkurang.
Secara istilah, istidraj dimaknai sebagai pemberian nikmat lahiriah yang tidak disertai keberkahan batin karena dicabutnya kepekaan iman tanpa disadari oleh orang yang menerimanya.
Keadaan ini menjadi berbahaya ketika kelimpahan nikmat mendorong seseorang semakin tenggelam dalam maksiat dan lupa kepada Allah SWT sebagai Pemberi nikmat.
Alquran memberikan peringatan tegas tentang istidraj melalui firman Allah SWT dalam Surah Al-An’am ayat 44.
“Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”
(QS. Al-An’am: 44)
Baca juga: Istidraj: Jebakan Kenikmatan yang Melenakan dan Membinasakan
Ayat tersebut menjelaskan bahwa kelapangan hidup tidak selalu menjadi tanda kasih sayang Allah SWT, melainkan bisa menjadi ujian berat sebelum datangnya azab.
Dalam sejumlah hadis, Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa kenikmatan yang terus diberikan kepada orang yang bermaksiat dapat menjadi bentuk penangguhan sebelum hukuman diturunkan.
Peringatan tersebut menegaskan bahwa nikmat dunia harus selalu diiringi ketaatan dan rasa takut kepada Allah SWT.
Baca juga: Teks Khutbah Jumat Singkat: Hati-hati Terhadap Istidraj
Salah satu tanda istidraj adalah seseorang merasa hidupnya baik-baik saja meskipun jarang beribadah dan terus melakukan perbuatan maksiat.
Kondisi ini membuat hati menjadi keras karena tidak merasa sedih ketika meninggalkan ketaatan dan tidak menyesal setelah berbuat dosa.
Kenikmatan yang terus mengalir menumbuhkan rasa aman palsu sehingga seseorang merasa tidak membutuhkan ampunan dan pertolongan Allah SWT.
Dalam jangka panjang, keadaan tersebut menjauhkan seseorang dari kesadaran akan tujuan hidup dan kehidupan akhirat.
Seseorang yang hidup bergelimang harta, sehat, dan sukses secara duniawi, tetapi semakin jauh dari ibadah dan nilai-nilai agama, dapat menjadi gambaran kondisi istidraj.
Kelapangan rezeki dalam situasi ini tidak mendorong rasa syukur, melainkan memperkuat kesombongan dan kelalaian.
Ketika nikmat tersebut suatu saat dicabut secara tiba-tiba, penyesalan sering kali datang terlambat karena tidak diiringi kesiapan iman dan amal saleh.
Islam juga mengajarkan cara agar umat terhindar dari jebakan istidraj dalam kehidupan sehari-hari.
Rasa syukur kepada Allah SWT atas setiap nikmat menjadi kunci utama menjaga keberkahan hidup.
Konsistensi dalam menjalankan ibadah dan menaati perintah serta larangan Allah SWT membantu menjaga hati tetap hidup.
Taubat yang terus-menerus menjaga seseorang tidak terbuai oleh kelapangan dunia.
Kesadaran akan kematian dan akhirat menempatkan kenikmatan dunia pada posisi yang proporsional.
Sedekah, rendah hati, serta lingkungan pergaulan yang saleh menjadi penopang agar nikmat yang diterima benar-benar membawa keberkahan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang