Penulis
KOMPAS.com - Pernahkah melihat orang yang sedemikian mudah hidupnya? Rezeki datang mengalir tanpa henti. Semua kenikmatan datang silih berganti. Namun disatu sisi, tidak pernah terlihat kedekatannya pada Ilahi. Semua kenikmatan hanya digunakan untuk mengejar kenikmatan duniawi.
Dalam Islam, kondisi semacam itu bukan selalu menjadi kabar baik. Bisa jadi, itulah yang disebut istidraj dari Allah SWT. Istidraj adalah keadaan ketika Allah SWT memberikan kelapangan rezeki dan berbagai kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara ketaatannya tidak bertambah, bahkan semakin berpaling dari-Nya.
Baca juga: Kenapa Kenikmatan Dunia Bisa Menyesatkan? Mengenal Istidraj
Dalam buku Ihsan Ways, Agus Susanto menjelaskan bahwa istidraj adalah saat Allah membiarkan seorang hamba tenggelam dalam kenikmatan hingga ia merasa aman, sombong, dan menganggap dirinya berada di atas segalanya. Pada titik itu, hati menjadi lalai, doa terasa hampa, dan dosa tak lagi dianggap beban.
Ketika kesadaran telah tertutup oleh rasa “berhasil”, Allah mencabut nikmat itu, bukan sekadar harta, tetapi ketenangan, keberkahan, dan arah hidup. Yang tersisa hanyalah kesengsaraan dan kebinasaan.
Perkara istidraj ini telah disinggung Allah SWT dan Rasul-nya. Allah SWT berfirman:
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
Artinya:
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Q.S. Al An'am: 44).
Sedangkan Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ
Artinya:
“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (H.R. Ahmad).
Baca juga: Teks Khutbah Jumat Singkat: Hati-hati Terhadap Istidraj
Pembeda utama antara nikmat sejati dan istidraj bukan terletak pada banyak atau sedikitnya harta, melainkan pada perubahan perilaku.
Nikmat yang berupa Istidraj dapat dikenali dengan kondisi berikut:
Sementara nikmat sejati dapat dikenali dengan tanda berikut:
Jika sebuah kenikmatan membuat seseorang lebih dekat dan taat kepada Allah, maka itulah nikmat sejati. Namun jika kenikmatan justru menjauhkan dari Allah dan menambah maksiat, maka patut dicurigai sebagai istidraj.
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menghindari istdraj, diantaranya adalah:
Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menegaskan bahwa nikmat yang tidak menambah ketaatan sejatinya adalah ujian yang berbahaya. Jika rezeki bertambah tetapi sholat makin lalai, hati makin keras, dan dosa terasa biasa, maka nikmat itu patut dicurigai.
Baca juga: Perbaiki Hidup dengan Memperbaiki Shalat agar Hidup Menjadi Nikmat
Syukur bukan hanya ucapan Alhamdulillah. Syukur sejati adalah ketaatan yang bertambah setelah nikmat diterima.
Para ulama menjelaskan bahwa tambahan nikmat terbesar bukan selalu harta, tetapi tambahan hidayah dan keistiqamahan. Nikmat yang disyukuri dengan maksiat justru bisa berubah menjadi istidraj.
Saat hidup terasa berat, seseorang mudah mengingat Allah. Namun saat hidup terasa nyaman, justru di situlah muhasabah paling dibutuhkan.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”
Muhasabah membuat seseorang sadar bahwa kelapangan bukan jaminan keselamatan. Ia menahan hati dari rasa aman palsu, yaitu perasaan seolah Allah pasti ridha hanya karena hidup sedang baik-baik saja.
Salah satu bentuk istidraj yang paling halus adalah aib yang terus ditutupi, meski dosa terus dilakukan dan menumpuk.
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Allah sering menutup aib seseorang bukan karena ridha, tetapi sebagai penundaan hukuman. Jika aib ditutup namun taubat tidak dilakukan, maka itu bisa menjadi tanda istidraj.
Karena itu, jangan tunggu dipermalukan untuk bertaubat. Taubat yang datang saat nikmat masih ada jauh lebih selamat daripada taubat yang datang setelah semuanya dicabut.
Baca juga: Doa Berlindung dari Hilangnya Nikmat Lengkap dengan Artinya
Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk tidak hanya meminta dunia, tetapi juga keselamatan iman. Rasulullah SAW mengajarkan doa dalam hadits yang diriwayatkan Imam At tirmidzi sebagai berikut:
Arab:
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا
Latin:
Allāhumma lā taj‘alid-dunyā akbara hamminā, wa lā mablagha ‘ilminā.
Artinya:
Ya Allah, jangan Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami, dan jangan pula Engkau jadikan dunia sebagai puncak pengetahuan kami.”
Doa adalah pengakuan bahwa nikmat tanpa penjagaan Allah bisa menjadi bencana. Orang yang takut istidraj akan lebih sering berdoa saat senang daripada saat susah.
Nikmat harta, jabatan, dan kemampuan sejatinya adalah amanah. Jika nikmat digunakan untuk maksiat, ia berubah menjadi hujjah yang memberatkan di akhirat.
Hasan Al-Bashri pernah berkata: “Setiap nikmat yang tidak mendekatkanmu kepada Allah, maka ia adalah musibah.”
Menghindari istidraj berarti menggunakan setiap nikmat sebagai sarana mendekat, bukan menjauh.
Baca juga: Kumpulan Doa Syukur Nikmat Lengkap dengan Terjemahannya
Istidraj adalah peringatan halus dari Allah yang sering kali disalahartikan sebagai keberhasilan dan keberuntungan. Oleh karena itu, setiap kenikmatan yang diterima hendaknya diiringi dengan muhasabah, rasa takut, dan syukur yang mendalam.
Sebagaimana diajarkan para ulama, nikmat terbesar bukanlah kelapangan dunia, melainkan hati yang tetap hidup dalam ketaatan kepada Allah SWT.
Jangan tertipu oleh nikmat semu yang membawa bahagia di awal tapi binasa pada akhirnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang