Penulis
KOMPAS.com - Di antara nama-nama besar dalam sejarah Islam, Aisyah RA selalu menghadirkan getaran yang berbeda. Ia bukan hanya istri Rasulullah SAW, tetapi saksi paling dekat kehidupan Nabi, penjaga rahasia rumah tangga kenabian, dan perempuan muda yang diuji dengan ujian yang mengguncang langit dan bumi.
Para ulama sirah seperti Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebut Aisyah sebagai salah satu tokoh yang tanpanya, sebagian besar ajaran Nabi tidak akan sampai secara utuh kepada umat.
Baca juga: Profil 11 Istri Nabi Muhammad SAW: Teladan Wanita Sepanjang Zaman
Aisyah adalah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat paling mulia dan paling setia terhadap Rasulullah SAW. Ia lahir pada tahun kelima Kenabian, saat Islam masih lemah secara jumlah namun kuat secara keyakinan.
Ia tumbuh di rumah yang setiap sudutnya dipenuhi iman, kejujuran, dan pengorbanan. Sejak kecil, Aisyah telah terbiasa mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, menyaksikan keteguhan ayahnya, dan merasakan langsung pahitnya perjuangan Islam.
Rasulullah SAW menikahi Aisyah RA ketika ia berusia 6 tahun, namun belum hidup serumah. Baru pada usia 9 tahun, setelah hijrah ke Madinah, Aisyah resmi tinggal bersama Rasulullah SAW.
Walimah pun baru dilakukan di Madinah, sebagian ulama menyebut tahun 1 H, sebagian lain tahun 2 H setelah Perang Badar.
Dalam sebuah hadits, Aisyah sendiri yang menuturkan peristiwa itu, bukan dengan trauma, melainkan dengan kejujuran dan kepolosan seorang anak yang dilindungi cinta Nabi:
“Aku sedang bermain ayunan bersama teman-temanku… Ummu Ruman menarik tanganku… aku dimandikan dan dirias… lalu Rasulullah SAW datang dan mereka menyerahkanku kepada beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Para ulama seperti Imam An-Nawawi menegaskan bahwa pernikahan di usia tersebut adalah tradisi sosial yang lazim pada masa itu, dan tidak mengandung unsur eksploitasi atau kekerasan.
Baca juga: Tugas Istri dalam Islam: Peran Utama yang Tidak Sekadar Urusan Rumah Tangga
Aisyah RA adalah satu-satunya istri Rasulullah yang dinikahi dalam keadaan perawan. Pernikahan ini tidak menghasilkan anak, namun melahirkan sesuatu yang jauh lebih besar: warisan ilmu untuk seluruh umat Islam.
Sebagai perempuan muda, daya ingat Aisyah sangat kuat. Ia menyerap setiap ucapan, sikap, dan kebiasaan Rasulullah SAW, baik di ruang publik maupun di balik pintu rumah. Semua itu kemudian menjadi jalan bagi periwayatan hadits.
Imam Adz Dzahabi dalam kitab Siyar A‘lam An-Nubala menyebutkan bahwa lebih dari 2.000 hadits diriwayatkan melalui lisan Ummul Mukminin paling muda ini.
Selama menikah dengan Rasulullah SAW, Aisyah pernah mendapat ujian yang cukup berat, yaitu dituduh berselingkuh dengan Shafwan bin Mu’athal. Kisah ini bermula saat Aisyah turut dalam sebuah perjalanan perang bersama Rasulullah.
Aisyah tertinggal dari rombongan karena mencari kalungnya yang jatuh. Saat kembali, tandunya telah diangkat, rombongan mengira ia masih berada di dalamnya.
Ia menunggu rombongan kembali menjemputnya. Namun sekian waktu berlalu, tak ada yang mendatanginya. Ia bertahan di tempat tersebut hingga tertidur, esok harinya baru terbangun setelah mendengar derap kaki unta menghampirinya.
Rupanya seorang sahabat bernama Shafwan bin Mu‘athal RA menemukannya. Ia masih berada di belakang pasukan yang sudah berangkat. Melihat Ummul Mukminin, dipersilahkan naik unta sementara ia menuntunnya.
Peristiwa sederhana itu dijadikan senjata oleh kaum munafik di bawah pimpinan Abdullah bin Ubay bin Salul untuk menyebarkan fitnah. Wanita mulia itu dituduh berselingkuh dengan Sahabat tersebut.
Berkat fitnah tersebut, Aisyah jatuh sakit. Tangisnya sunyi. Rasulullah SAW pun menunggu, tidak membela tanpa wahyu, tidak menuduh tanpa bukti.
Bahkan Rasulullah memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid untuk bermusyawarah. Keduanya menegaskan bahwa Aisyah adalah perempuan suci dan baik.
Baca juga: Ali bin Abi Thalib: Khalifah Di Tengah Umat yang Terpecah
Selama sebulan Aisyah menderita dan menunggu tanpa kepastian. Tidak ada jawaban mengenai masalah perselingkuhan tersebut hingga Allah akhirnya menurunkan Surat An Nur ayat 11-20 yang menjelaskan tentang duduk masalah tersebut.
Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa Aisyah tidak melakukan perselingkuhan sebagaimana yang dituduhkan kepadanya.
Ayat-ayat ini bukan hanya membebaskan Aisyah, tetapi menghancurkan fitnah selamanya. Pembelaan itu dibaca hingga hari kiamat, sebuah kehormatan yang tidak dimiliki siapa pun selain Aisyah RA.
Aisyah tida dibela oleh manusia, tetapi langsung dari Allah SWT.
Rasulullah SAW wafat saat Aisyah berusia 18 tahun. Beliau wafat di pangkuannya dan dimakamkan di kamarnya.
Sejak itu, Aisyah mengabdikan hidupnya untuk ilmu dan umat. Rumahnya berubah menjadi madrasah. Para sahabat dan tabi’in datang bertanya, belajar, dan meriwayatkan.
Saat fitnah menyebar, Aisyah pernah berselisih dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Ia berama Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awam memimpin pasukan dan pecahlah pertempuran berkat provokasi di kedua belah pasukan.
Perang tersebut dikenal dengan perang Jamal. Disebut demikian karena saat itu Ummul Mukminin menaiki unta berambut merah dan berada di tengah peperangan.
Pasca, perang Jamal, Aisyah mengabdikan diri untuk memberikan pengajaran kepada umat yang bertanya. Hingga akhirnya di tahun 58 Hijriah, Allah SWT memanggilnya. Aisyah wafat dalam usia 66 tahun.
Baca juga: Kisah Abu Bakar Ash Shiddiq Dicaci Maki Orang Badui: Jangan Membalas Cacian
Aisyah RA bukan hanya bagian dari masa lalu. Ia adalah napas ilmu yang masih hidup dalam setiap hadits yang diriwayatkan melalui jalurnya.
Dari Ummul Mukminin Aisyah, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil: