Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Alam Barzakh: Kehidupan Setelah Kematian yang Pasti Dilalui Setiap Manusia

Kompas.com, 29 Januari 2026, 08:34 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Ada satu momen yang pasti akan dialami semua manusia, tetapi jarang benar-benar mempersiapkannya. Bukan hari pernikahan, bukan hari kelahiran, melainkan hari ketika manusia dibaringkan, ditinggalkan, dan dunia berjalan tanpanya, yaitu kematian.

Kematian bukan akhir dari segalanya, ia hanyalah fase peralihan dari alam dunia menuju alam yang baru, yaitu alam barzakh. Berbeda dengan kehidupan dunia, alam barzakh adalah kehidupan sunyi antara dunia dan akhirat.

Tidak ada lagi harta, jabatan, atau nama besar, yang tersisa hanyalah amal perbuatan. Siapa yang banyak amal kebaikannya di alam dunia, ia akan memperoleh kenikmatan. Dan siapa yang banyak amal keburukannya, ia akan mendapat azab dan siksaan.

Baca juga: Doa Ziarah Kubur Lengkap: Arab, Latin, dan Artinya.

Untuk lebih mengenal alam barzakh, berikut penjelasan lengkapnya.

Pengertian Alam Barzakh

Secara bahasa, barzakh berarti pembatas atau penghalang. Dalam konteks akidah Islam, alam barzakh adalah dunia perantara yang memisahkan kehidupan dunia dan akhirat. Meskipun sebagai pembatas, alam barzakh merupakan kehidupan tersendiri, dimana manusia akan mendapatkan balasan awal dari apa yang telah dikerjakannya di dunia.

Allah SWT berfirman:

وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Artinya: “Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100)

Ayat ini menegaskan bahwa setelah kematian, manusia tidak langsung menuju surga atau neraka secara final, melainkan menunggu di alam barzakh hingga datang hari kebangkitan yang dijanjikan.

Ibnu Qayyim Al JAuziyyah dalam kitab Ar-Ruh menjelaskan secara panjang lebar tentang kehidupan ruh di alam barzakh. Ia menyebutkan kondisi di alam barzakh:

  • Ruh tetap memiliki kesadaran
  • Ruh dapat merasakan kebahagiaan atau penderitaan
  • Ruh saling bertemu (dengan izin Allah)
  • Ruh menunggu hari kebangkitan

Namun, Ibnu Qayyim menekankan bahwa kehidupan barzakh tidak bisa diukur dengan hukum dunia, sehingga tidak layak disamakan dengan kehidupan jasmani.

Baca juga: Sibuk Dunia tapi Rugi Akhirat? Ini Cara Agar Aktivitas Bernilai Ibadah

Gambaran Kehidupan di Alam Barzakh

Menurut penjelasan para ulama, di antaranya Imam Al-Qurthubi dalam At-Tadzkirah, alam barzakh menjadi tempat di mana manusia mulai merasakan balasan awal dari amal perbuatannya di dunia.

Setelah dikuburkan dan ditinggalkan orang-orang yang mengantarnya ke liang lahat, seseorang akan didatangi dua malaikat, yaitu Munar dan Nakir, yang akan mengajukan beberapa pertanyaan fundamental:

  • Man rabbuka? Siapa Tuhanmu?
  • Ma dinuka? Apa agamamu?
  • Man nabiyyuka? Siapa Nabimu?
  • Ma kitabuka? Apa kitabmu?
  • Aina qiblatuka? Di mana kiblatmu?
  • Man ikhwanuka? Siapa saudaramu?

Barangsiapa lolos dari pertanyaan tersebut, kuburannya diperluas 70 x 70 hasta, dan diberi penerangan, ia akan ditemani oleh seorang yang rupawan sebagai representasi amal kebaikannya selama di dunia.

Sebaiknya, orang yang tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan benar, kuburannya akan menyempit dan menghimpitnya hingga hancur tulang-tulang rusuknya, ia juga berada di kegelapan dan akan mendapat siksaan hingga hari kebangkitan.

Baca juga: Ziarah Kubur Jelang Ramadan, Sunnah atau Sekadar Tradisi?

Apakah Ruh Sadar di Alam Barzakh?

Mayoritas ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa ruh tetap hidup dan sadar, meskipun dengan cara yang berbeda dari kehidupan dunia. Ruh dapat merasakan nikmat atau azab, namun tanpa keterikatan fisik seperti di dunia.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Ar-Ruh menjelaskan bahwa kehidupan di alam barzakh adalah kehidupan yang hakiki, tetapi tidak bisa diukur dengan logika duniawi.

Pentingnya Memahami Alam Barzakh

Memahami alam barzakh bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran spiritual. Kesadaran bahwa ada kehidupan setelah kematian akan membuat seseorang lebih berhati-hati agar tidak berbuat dosa, mendorong untuk taubat dan berbuat kebaikan, serta menguatkan iman terhadap hari akhir.

Rasulullah SAW menganjurkan untuk banyak-banyak mengingat kematian. Beliau bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

Artinya: “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (kematian).” (HR. At Tirmidzi)

Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

Artinya: “Orang yang cerdas adalah yang mengevaluasi dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah.” (HR. At Tirmidzi).

Baca juga: Bolehkah Wanita Haid Berziarah Kubur? Berikut Penjelasannya dalam Islam

Penutup

Alam barzakh adalah fase kehidupan yang pasti datang, meski sering dilupakan. Ia bukan dongeng, bukan pula sekadar simbol, melainkan realitas yang ditegaskan oleh Al Quran dan hadits.

Menyadari keberadaan alam barzakh seharusnya membuat seseorang lebih serius menjalani hidup, karena kematian bukan akhir cerita, ia adalah awal dari pertanggungjawaban. Bekal yang perlu dipersiapkan menghadapi kematian adalah iman yang lurus dan amal sholeh.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com