KOMPAS.com - Bagi umat Muslim, momen berbuka puasa bukan sekadar pelepas dahaga dan lapar setelah seharian menahan diri.
Dalam perspektif Islam, waktu berbuka memiliki nilai spiritual yang tinggi. Ia menjadi pertemuan antara ketekunan ibadah dan limpahan rahmat Allah SWT.
Tak heran jika Rasulullah SAW menempatkan waktu ini sebagai salah satu waktu yang penuh kegembiraan dan keberkahan.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
Lish-shāimi farḥatāni farḥatun ‘inda fiṭrihi wa farḥatun ‘inda liqā’i rabbih.
Artinya: “Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca juga: Ramadhan 2026 Berapa Hari Lagi? Ini Hitung Mundur Puasa Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Hadis ini menunjukkan bahwa berbuka puasa bukan peristiwa biasa. Ada dimensi ruhani yang membuatnya istimewa.
Karena itu, Islam mengajarkan adab dan sunnah agar momen berbuka menjadi sarana meraih pahala yang lebih besar.
Salah satu sunnah utama saat berbuka adalah menyegerakannya begitu matahari terbenam. Rasulullah SAW bersabda:
Lā yazālun-nāsu bikhairin mā ‘ajjalul fiṭr.
Artinya: “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani dijelaskan bahwa menyegerakan berbuka adalah simbol ketundukan terhadap syariat dan pembeda umat Islam dari tradisi ekstrem yang sengaja menunda berbuka.
Secara medis, kebiasaan ini juga berdampak positif karena membantu tubuh segera memulihkan kadar gula darah setelah berjam-jam tidak menerima asupan energi.
Baca juga: Berapa Hari Lagi Puasa Ramadhan 2026? Prediksi Awal dan Tips Persiapannya
Sebelum menyantap hidangan berbuka, Rasulullah SAW selalu mengajarkan untuk menyebut nama Allah. Hal ini ditegaskan dalam hadis:
سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
Sammillāh wa kul biyamīnik wa kul mimmā yalīk.
Artinya: “Sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang dekat denganmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam buku Adabul Mufrad karya Imam Bukhari dijelaskan bahwa adab makan merupakan bagian dari pendidikan akhlak yang Rasulullah tanamkan sejak dini.
Berbuka puasa menjadi momen tepat untuk menghidupkan kembali etika makan Islami yang mulai terlupakan.
Waktu berbuka juga termasuk waktu mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW biasa membaca doa saat berbuka:
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
Allāhumma laka ṣumtu wa ‘alā rizqika afṭartu.
Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.” (HR. Abu Dawud)
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa doa berbuka bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk pengakuan bahwa seluruh kekuatan berpuasa berasal dari pertolongan Allah SWT.
Baca juga: Yang Membatalkan Puasa Ramadhan: Ini 7 Hal yang Harus Dihindari
Sunnah lain yang sangat dikenal adalah berbuka dengan kurma atau air. Dari Anas bin Malik RA diriwayatkan:
Kānan-nabiyyu yuftiru ‘alā ruṭabāt fa in lam yakun fa tamarāt fa in lam yakun ḥasā ḥasawāt min mā’.
Artinya: “Nabi SAW berbuka dengan kurma basah. Jika tidak ada, maka kurma kering. Jika tidak ada juga, beliau minum beberapa teguk air.” (HR. Abu Dawud)
Dalam buku Ath-Thibb an-Nabawi karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dijelaskan bahwa kurma mengandung gula alami yang cepat diserap tubuh sehingga sangat ideal dikonsumsi setelah puasa. Sunnah ini terbukti selaras dengan prinsip kesehatan modern.
Islam juga menekankan keseimbangan dalam berbuka. Allah SWT berfirman:
Wa kulū wasyrabū wa lā tusrifū innahū lā yuḥibbul musrifīn.
Artinya: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat ini menjadi dasar larangan berlebih-lebihan, termasuk saat berbuka puasa.
Makan berlebihan justru dapat melemahkan tubuh, mengganggu ibadah malam, serta menghilangkan tujuan utama puasa yaitu pengendalian diri.
Baca juga: Puasa Ramadhan: Cara Islam Menaikkan Derajat Spiritual Manusia
Berbuka puasa bukan hanya soal memuaskan rasa lapar, tetapi juga latihan spiritual. Dalam buku Madārijus Sālikīn karya Ibnu Qayyim dijelaskan bahwa puasa mengajarkan manusia untuk menunda kesenangan dan menikmati nikmat dengan penuh syukur.
Ketika adab berbuka dijaga, seorang Muslim tidak hanya memperoleh kekuatan fisik, tetapi juga ketenangan batin dan kepekaan spiritual.
Adab berbuka puasa menurut sunnah Rasulullah SAW mengajarkan bahwa Islam tidak memisahkan antara ibadah dan kehidupan sehari-hari.
Mulai dari menyegerakan berbuka, membaca doa, mengawali dengan kurma, hingga menghindari sikap berlebihan, semuanya membentuk pola hidup yang seimbang, sehat, dan bernilai ibadah.
Jika berbuka dilakukan dengan kesadaran dan mengikuti tuntunan Nabi, maka momen tersebut bukan hanya penutup puasa, melainkan awal dari limpahan pahala yang berkelanjutan hingga malam hari.
Ramadan pun tidak sekadar menjadi bulan menahan lapar, tetapi menjadi sekolah akhlak yang membentuk pribadi Muslim yang lebih disiplin, bersyukur, dan bertakwa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang