Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Malam Nisfu Sya’ban 2026, Ini Doa lengkap dan Amalan yang Dianjurkan

Kompas.com, 2 Februari 2026, 13:34 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Malam Nisfu Sya’ban selalu menghadirkan suasana spiritual yang khas di tengah umat Islam.

Ia bukan sekadar pergantian hari di pertengahan bulan Sya’ban, melainkan momentum refleksi, munajat, dan persiapan ruhani menjelang datangnya bulan Ramadhan.

Dalam tradisi keilmuan Islam, malam ini dikenal sebagai salah satu waktu yang sarat keberkahan dan peluang ampunan.

Berdasarkan penetapan Lembaga Falakiyah PBNU, bulan Sya’ban 1447 H dimulai pada 20 Januari 2026.

Dengan demikian, malam Nisfu Sya’ban jatuh pada Senin malam, 2 Februari 2026. Umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, doa, dan introspeksi diri sebagai bekal memasuki bulan puasa.

Makna Nisfu Sya’ban dalam Tradisi Islam

Secara bahasa, “nisfu” berarti pertengahan. Nisfu Sya’ban merujuk pada malam tanggal 15 Sya’ban.

Dalam kitab Lathâ’if al-Ma‘ârif karya Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, dijelaskan bahwa generasi tabi‘in di wilayah Syam seperti Khalid bin Ma‘dan dan Makhul memuliakan malam ini dengan memperbanyak ibadah malam dan doa.

Ibnu Rajab menulis:

“Telah sampai kepada kami bahwa pada malam Nisfu Sya’ban Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada para hamba-Nya dan mengampuni mereka kecuali orang yang musyrik dan orang yang menyimpan permusuhan.”

Keterangan ini sejalan dengan sejumlah hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dan Ath-Thabrani.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah melihat makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni seluruh hamba-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah)

Hadis ini menjadi dasar spiritual bahwa Nisfu Sya’ban adalah malam pembersihan jiwa dan rekonsiliasi batin.

Baca juga: Puasa Nisfu Syaban 2026: Waktu Pelaksanaan, Niat, Tata Cara, dan Keutamaannya

Doa Nisfu Sya’ban dari Syekh Abdul Qadir al-Jailani

Berikut doa malam Nisfu Sya'ban yang dipanjatkan Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ، مَصَابِيْحِ الْحِكْمَةِ وَمَوَالِيْ النِّعْمَةِ، وَمَعَادِنِ الْعِصْمَةِ، وَاعْصِمْنِيْ بِهِمْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ. وَلَا تَأْخُذْنِيْ عَلَى غِرَّةٍ وَلَا عَلَى غَفْلَةٍ، وَلَا تَجْعَلْ عَوَاقِبَ أَمْرِيْ حَسْرَةً وَنَدَامَةً، وَارْضَ عَنِّيْ، فَإِنَّ مَغْفِرَتَكَ لِلظَّالِمِيْنَ، وَأَنَا مِنَ الظَّالِمِيْنَ، اللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ مَا لَا يَضُرُّكَ، وَأَعْطِنِيْ مَا لَا يَنْفَعُكَ، فَإِنَّكَ الْوَاسِعَةُ رَحْمَتُهُ، اَلْبَدِيْعَةُ حِكْمَتُهُ، فَأَعْطِنِي السَّعَةَ وَالدَّعَةَ، وَالْأَمْنَ وَالصِّحَّةَ وَالشُّكْرَ وَالْمُعَافَاةَ، وَالتَّقْوَى، وَأَفْرِغِ الصَّبْرَ وَالصِّدْقَ عَلَيَّ، وَعَلَى أَوْلِيَائِيْ فِيْكَ، وَأَعْطِنِي الْيُسْرَ، وَلَا تَجْعَلْ مَعَهُ الْعُسْرَ، وَأَعِمَّ بِذَلِكَ أَهْلِيْ وَوَلَدِيْ وَإِخْوَانِيْ فِيْكَ، وَمَنْ وَلَدَنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Allâhumma shalli ‘alâ Muhammadin wa âlihi, Mashâbihil hikmati wa mawâlin ni’mati, wa ma‘âdinil ‘ishmati, wa‘shimni bihim min kulli sû-in, wa lâ ta’khudznî ‘alâ ghirratin wa lâ ‘ala ghaflatin, wa lâ taj‘al ‘awâqiba amri hasratan wa nadâmatan, wardla ‘annî, fainna maghfirataka lidh dhâlimin, wa anâ minadh dhâlimîna, allâhumma ighfir lî mâ lâ yadlurruka, wa a‘thinî mâ lâ yanfa’uka, fainnaka al-wâsi’atu rahmatuhu, al-badî‘atu hikmatuhu, fa a‘thini as-sa‘ata wad da‘ata, wal-amna wash-shihhata wasy-syukra wal-mu‘âfata wat-taqwa, wa afrighi ash-shabra wash-shidqa ‘alayya, wa ‘alâ auliyâi fîka, wa a‘thinî al-yusra, walâ taj‘al ma‘ahu al-‘usra, wa a‘imma bi dzâlika ahlî wa waladî wa ikhwanî fîka, wa man waladanî minal muslimîna wal muslimâti wal mu’minîna wal mu’minâti.

Artinya: "Ya Allah limpahkan rahmat ta’dhim-Mu kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, lampu-lampu hikmah, tuan-tuan nikmat, sumber-sumber penjagaan. Jagalah aku dari segala keburukan lantaran mereka, janganlah engkau hukum aku atas kelengahan dan kelalaian, janganlah engkau jadikan akhir urusanku suatu kerugian dan penyesalan, ridhailah aku, sesungguhnya ampunanMu untuk orang-orang zhalim dan aku termasuk dari mereka, ya Allah ampunilah bagiku dosa yang tidak merugikanMu, berilah aku anugerah yang tidak memberi manfaat kepadaMu, sesungguhnya rahmat-Mu luas, hikmah-Mu indah, berilah aku kelapangan, ketenangan, keamanan, kesehatan, syukur, perlindungan (dari segala penyakit) dan ketakwaan. Tuangkanlah kesabaran dan kejujuran kepadaku, kepada kekasih-kekasihku karena-Mu, berilah aku kemudahan dan janganlah jadikan bersamanya kesulitan, liputilah dengan karunia-karunia tersebut kepada keluargaku, anaku, saudar-saudaraku karena-Mu dan para orang tua yang melahirkanku dari kaum muslimin muslimat, serta kaum mukiminin dan mukminat.”

Doa Nisfu Sya’ban Versi Perukunan Melayu

اللّٰهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الخَائِفِيْنَ اللّٰهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنَا (كَتَبْتَنِيْ) عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الكِتَابِ أَشْقِيَاءَ أَوْ مَحْرُوْمِيْنَ أَوْ مَطْرُوْدِيْنَ أَوْ مُقَتَّرِيْنَ عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللّٰهُمَّ بِفَضْلِكَ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتَنَا (شَقَاوَتِيْ) وَحِرْمَانَنَا (وَحِرْمَانٍيْ) وَطَرْدَنَا (وَطَرْدٍي) وَاقْتِتَارَ رِزْقِنَا (َوَاقْتِتَارَ رِزْقِيْ)، وَأَثْبِتْنَا (وَأَثْبِتْنِيْ) عِنْدَكَ فِي أُمِّ الكِتَابِ سُعَدَاءَ مَرْزُوْقِيْنَ مُوَفَّقِيْنَ لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَابِكَ المُنَزَّلِ عَلَى نَبِيِّكَ المُرْسَلِ: “يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ” إِلَهَنَا (ِإِلَهِيْ) بِالتَّجَلِّيِ الأَعْظَمِ، فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ المُكَرَّمِ، الَّتِي يُفْرَقُ فِيْهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيْمٍ وَيُبْرَمُ، اِصْرِفْ عَنَّا (عَنِّيْ) مِنَ البَلَاءِ مَا نَعْلَمُ وَمَا لَا نَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الغُيُوْبِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Allāhumma yā dzal manni wa lā yumannu ‘alaika yā dzal jalāli wal ikrām, yā dzat thawli wal in‘ām, lā ilāha illā anta zhahral lājīna wa jāral mustajīrīna, wa ma’manal khā’ifīn. Allāhumma in kunta katabtanā (katabtani) ‘indaka fī ummil kitābi asyqiyā’a au mahrūmīna au mathrūdīna au muqattarīna ‘alayna fir rizqi, famhullāhumma bi fadhlika fī ummil kitābi syaqāwatanā (syaqāwati), wa hirmānanā (wa hirmāni), wa thardhanā (thardhani), waqtitāra rizqinā (waqtitāra rizqi), wa atsbitnā (wa atsbitni) ‘indaka fī ummil kitābi su‘adā’a marzūqīna muwaffaqīn lil khairāt. Fa innaka qulta wa qaulukal haqq fī kitābikal munazzali ‘ala nabiyyikal mursali “Yamhullāhu mā yasyā’u wa yutsbitu wa ‘indahū ummul kitāb.” Ilāhanā (Ilāhi), bit tajalil a‘zham fī laylatin nishfi min syahri Sya‘bānal mukarrami, allatī yufraqu fīhā kullu amrin hakīmin wa yubram, ishrif ‘annā ('anni) minal balā’i mā na‘lamu wa mā lā na‘lamu, wa anta ‘allāmul ghuyūbi, bi rahmatika yā arhamar rāhimīn. Wa shallallāhu ‘alā sayyidinā Muhammadin wa ‘alā ālihī wa shahbihī wa sallama.

Artinya: “Wahai Tuhan kami yang maha pemberi, Engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemilik kekayaan dan pemberi nikmat. Tiada Tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut. Tuhan kami, jika Kau mencatat kami di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang-orang celaka, sial, terbuang, atau orang-orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, keterbuangan, dan kesempitan rezeki kami/ku. Tetapkanlah kami/ku di sisi-Mu sebagai orang-orang yang mujur, murah rezeki, dan diberi taufiq untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata-sementara perkataan-Mu adalah benar-di kitabmu yang diturunkan melalui Rasul utusan-Mu, ‘Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.’ Tuhan kami/ku, dengan penampakkan teragung pada malam pertengahan bulan Sya’ban yang mulia, yang mana diputuskan di dalamnya semua perkara yang bijak dan ditetapkan, palingkanlah dari kami musibah yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui. Sungguh Engkau maha mengetahui yang ghaib, wahai Tuhan yang maha pengasih. Allah bershalawat dan bersalam atas sayyidina Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.”

Baca juga: Keutamaan Malam Nisfu Syaban, Ulama Anjurkan Perbanyak Shalawat dan Ibadah

Kemuliaan Malam Nisfu Sya’ban Menurut Ulama

Dalam kitab Ihyâ’ ‘Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa malam Nisfu Sya’ban termasuk malam yang dianjurkan untuk dihidupkan dengan ibadah, bersama malam Idul Fitri, Idul Adha, dan malam Jumat.

Para ulama menyebut sedikitnya tiga kemuliaan utama Nisfu Sya’ban.

  • Pertama, malam pengampunan dosa. Banyak hadis menyebutkan bahwa Allah membuka pintu ampunan secara luas pada malam ini.
  • Kedua, malam evaluasi spiritual. Nisfu Sya’ban menjadi momen muhasabah sebelum memasuki Ramadhan, agar hati bersih dan niat ibadah diperbarui.
  • Ketiga, malam persiapan ruhani. Bulan Sya’ban disebut Nabi sebagai bulan yang sering dilalaikan manusia, padahal menjadi penghubung antara Rajab dan Ramadhan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Itu adalah bulan yang banyak manusia lalai, yaitu antara Rajab dan Ramadhan. Bulan itu adalah bulan diangkatnya amal kepada Allah.”
(HR. An-Nasa’i)

Amalan yang Dianjurkan di Malam Nisfu Sya’ban

Para ulama sepakat bahwa penghidupan malam Nisfu Sya’ban dilakukan dengan amalan umum yang dianjurkan syariat.

  • Pertama, memperbanyak doa dan istighfar. Malam ini menjadi waktu terbaik untuk memohon ampunan dan keberkahan hidup.
  • Kedua, membaca Al-Qur’an. Tradisi membaca Surah Yasin tiga kali dengan niat panjang umur, kelapangan rezeki, dan keteguhan iman berkembang luas di Nusantara.
  • Ketiga, shalat sunnah malam. Meski tidak ada jumlah rakaat khusus yang diwajibkan, shalat malam tetap dianjurkan sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah.
  • Keempat, memperbaiki hubungan sosial. Hadis tentang larangan permusuhan pada malam Nisfu Sya’ban menjadi peringatan penting untuk berdamai, memaafkan, dan membersihkan hati dari dendam.

Baca juga: Hari Ini Malam Nisfu Syaban, Jangan Lupa Baca Yasin 3 Kali dan Berdoa Supaya Hajat Dikabulkan

Nisfu Sya’ban sebagai Gerbang Menuju Ramadhan

Secara spiritual, Nisfu Sya’ban ibarat pintu gerbang menuju Ramadhan. Ia menjadi fase pemanasan ruhani agar umat Islam tidak memasuki bulan puasa dalam kondisi lalai dan kering secara batin.

Dalam kitab Fiqh as-Sunnah, Sayyid Sabiq menegaskan bahwa memperbanyak ibadah pada bulan Sya’ban, termasuk Nisfu Sya’ban adalah bagian dari teladan Rasulullah SAW dalam mempersiapkan diri menyambut Ramadhan.

Malam Nisfu Sya’ban bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi momentum perjumpaan spiritual antara hamba dan Tuhannya.

Di malam inilah doa-doa dilangitkan, air mata taubat mengalir, dan harapan akan perubahan hidup dititipkan kepada Allah Yang Maha Pengasih.

Di tengah hiruk-pikuk dunia, Nisfu Sya’ban mengajak umat Islam berhenti sejenak, menundukkan hati, dan menata ulang arah hidup.

Sebab, sebagaimana pesan para ulama, Ramadhan yang berkualitas selalu diawali dengan Sya’ban yang disucikan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Malam Nisfu Sya’ban: Waktu Terbaik Taubat Sebelum Ramadhan
Malam Nisfu Sya’ban: Waktu Terbaik Taubat Sebelum Ramadhan
Doa dan Niat
Hari Pertama Puasa 2026: Ide Ngabuburit Seru Bareng Keluarga
Hari Pertama Puasa 2026: Ide Ngabuburit Seru Bareng Keluarga
Aktual
Jangan Lewatkan Nisfu Sya’ban, Istighfar Jadi Kunci Ampunan
Jangan Lewatkan Nisfu Sya’ban, Istighfar Jadi Kunci Ampunan
Aktual
Kapan Puasa Nisfu Syaban 2026? Simak Waktu, Niat, dan Keutamaannya
Kapan Puasa Nisfu Syaban 2026? Simak Waktu, Niat, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
Malam Nisfu Sya’ban 2026, Ini Doa lengkap dan Amalan yang Dianjurkan
Malam Nisfu Sya’ban 2026, Ini Doa lengkap dan Amalan yang Dianjurkan
Doa dan Niat
Gerhana Matahari Cincin Ramadhan 2026, Ini Pesan Langit Jelang Puasa
Gerhana Matahari Cincin Ramadhan 2026, Ini Pesan Langit Jelang Puasa
Aktual
Puasa Nisfu Syaban 2026: Waktu Pelaksanaan, Niat, Tata Cara, dan Keutamaannya
Puasa Nisfu Syaban 2026: Waktu Pelaksanaan, Niat, Tata Cara, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
Gerhana Matahari Cincin Ramadhan 2026, Ini Jadwal dan Faktanya
Gerhana Matahari Cincin Ramadhan 2026, Ini Jadwal dan Faktanya
Aktual
Puasa Pertama 2026: Niat Mandi Wajib agar Puasa Sah
Puasa Pertama 2026: Niat Mandi Wajib agar Puasa Sah
Doa dan Niat
Awal Puasa 2026, Ini Hikmah Puasa Ramadhan Menurut Alquran
Awal Puasa 2026, Ini Hikmah Puasa Ramadhan Menurut Alquran
Doa dan Niat
Keutamaan Malam Nisfu Syaban, Ulama Anjurkan Perbanyak Shalawat dan Ibadah
Keutamaan Malam Nisfu Syaban, Ulama Anjurkan Perbanyak Shalawat dan Ibadah
Aktual
Hari Ini Malam Nisfu Syaban, Jangan Lupa Baca Yasin 3 Kali dan Berdoa Supaya Hajat Dikabulkan
Hari Ini Malam Nisfu Syaban, Jangan Lupa Baca Yasin 3 Kali dan Berdoa Supaya Hajat Dikabulkan
Doa dan Niat
Bulan Purnama Snow Moon Februari 2026, Ini Doa yang Dianjurkan Saat Melihatnya
Bulan Purnama Snow Moon Februari 2026, Ini Doa yang Dianjurkan Saat Melihatnya
Aktual
Jaringan Gusdurian Tolak Board of Peace, Singgung Amanat Konstitusi
Jaringan Gusdurian Tolak Board of Peace, Singgung Amanat Konstitusi
Aktual
Niat Puasa Senin Kamis: Bacaan Lengkap, Waktu Niat, dan Keutamaannya
Niat Puasa Senin Kamis: Bacaan Lengkap, Waktu Niat, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com