Editor
KOMPAS.com - Malam Nisfu Syaban yang bertepatan dengan 15 Syaban 1447 Hijriah jatuh pada Senin malam, 2 Februari 2026, dan dimulai sejak waktu Magrib.
Dalam tradisi Islam, malam pertengahan bulan Syaban ini dikenal sebagai lailatul ijabah atau malam dikabulkannya doa.
Umat Islam dianjurkan memperbanyak amalan ibadah pada malam tersebut sebagai bentuk permohonan ampunan dan pengharapan dikabulkannya hajat.
Salah satu amalan yang lazim dilakukan adalah membaca Surat Yasin sebanyak tiga kali, baik secara pribadi maupun berjemaah.
Baca juga: Benarkah Catatan Amal Manusia Diangkat pada Malam Nisfu Syaban? Ini Penjelasannya
Malam Nisfu Syaban dipandang sebagai momentum spiritual untuk memperbanyak doa dan ibadah.
Pada malam ini, umat Islam dianjurkan memohon agar hajat-hajat dikabulkan serta memperbanyak amalan sunnah sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.
Membaca Surat Yasin minimal tiga kali sebelum berdoa menjadi salah satu amalan yang dianjurkan oleh para ulama.
Surat Yasin merupakan surat ke-36 dalam Al-Qur’an yang terdiri dari 83 ayat.
Dalam tradisi keagamaan, membaca Surat Yasin pada malam Nisfu Syaban diyakini membawa kebaikan dan keberkahan bagi yang mengamalkannya.
Dalam praktik masyarakat Muslim di Indonesia, pengamalan doa malam Nisfu Syaban umumnya dilakukan setelah salat Magrib atau Isya hingga menjelang Subuh.
Rangkaian amalan diawali dengan membaca Surat Yasin, kemudian dilanjutkan dengan doa Nisfu Syaban.
Rangkaian pengamalan doa malam Nisfu Syaban dilakukan secara berurutan. Pertama, Surat Yasin dibaca satu kali dengan niat memohon agar diberikan umur panjang yang digunakan untuk ketaatan kepada Allah SWT. Setelah selesai membaca Yasin pertama, doa Nisfu Syaban dibaca.
Kedua, Surat Yasin kembali dibaca satu kali dengan niat memohon rezeki yang halal, luas, dan penuh keberkahan. Setelah pembacaan Yasin kedua, doa Nisfu Syaban kembali diamalkan.
Ketiga, Surat Yasin dibaca untuk ketiga kalinya dengan niat memohon husnul khatimah serta kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Setelah itu, doa Nisfu Syaban kembali dibaca sebagai penutup rangkaian amalan.
Dilansir dari laman Majelis Ulama Indonesia, salah satu doa yang lazim dibaca pada malam Nisfu Syaban banyak dirujuk dari kitab Maslakul Akhyar karya Syekh Sayyid Utsman bin Yahya.
اللّٰهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الخَائِفِيْنَ. اللّٰهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِيْ عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الكِتَابِ أَشْقِيَاءَ أَوْ مَحْرُوْمِيْنَ أَوْ مُقَتَّرِيْنَ عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللّٰهُمَّ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتِيْ وَحِرْمَانِيْ وَاقْتِتَارَ رِزْقِيْ، وَاكْتُبْنِيْ عِنْدَكَ سُعَدَاءَ مَرْزُوْقِيْنَ مُوَفَّقِيْنَ لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ: “يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ” وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَــالَمِيْنَ
Allāhumma yā dzal manni wa lā yumannu ‘alaika yā dzal jalāli wal ikrām, yā dzat thauli wal in‘ām, lā ilāha illā anta zhahral lājīna wa jāral mustajīrīna, wa ma’manal khā’ifīn. Allāhumma in kunta katabtanī ‘indaka fī ummil kitābi asyqiyā’a au mahrūmīna au muqattarīna ‘alayya fir rizqi, famhullāhumma fī ummil kitābi syaqāwatī, wa hirmānī waqtitāra rizqī, waktubnī ‘indaka su‘adā’a marzūqīna muwaffaqīna lil khairāt. Fa innaka qulta wa qaulukal haqq fī kitābikal munzali ‘ala lisāni nabiyyikal mursali “Yamhullāhu mā yasyā’u wa yutsbitu wa ‘indahū ummul kitāb.” Wa shallallāhu ‘alā sayyidinā Muhammadin wa ‘alā ālihī wa shahbihī wa sallama, walhamdulillāḥi rabbil ‘ālamīn.
Artinya: “Wahai Tuhanku yang maha pemberi, Engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemilik kekayaan dan pemberi nikmat. Tiada Tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut. Tuhanku, jika Kau mencatatku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku. Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufiq untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata-sementara perkataan-Mu adalah benar-di kitabmu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, ‘Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.’ Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad, keluarga, beserta sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Sayyid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, hal. 77-80)
Keterangan mengenai doa tersebut juga disebutkan oleh as-Suyuthi sebagaimana termaktub dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah dan karya ad-Dua karangan Ibnu Abi ad-Dunya dari Sahabat Ibnu Mas’ud RA.
Menurut Ibnu Mas’ud, orang yang membaca doa ini akan diluaskan rezekinya dan dipenuhi kebutuhannya.
Perbedaan redaksi doa yang berkembang di tengah masyarakat tidak menjadi persoalan, karena pada dasarnya doa tidak dibatasi oleh satu lafaz tertentu.
Selain membaca Surat Yasin dan doa Nisfu Syaban, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak amalan lain pada bulan Syaban.
Di antaranya adalah melaksanakan salat sunah dan menjalankan puasa Syaban sebagai bagian dari persiapan spiritual menyambut bulan Ramadan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang