KOMPAS.com - Menjelang datangnya bulan Ramadhan 1447 Hijriah, langit menghadirkan sebuah peristiwa kosmik yang menarik perhatian dunia, gerhana matahari cincin pada 17 Februari 2026.
Meski tidak dapat disaksikan langsung dari wilayah Indonesia, fenomena ini tetap menjadi sorotan karena terjadi hanya beberapa hari sebelum umat Islam memulai persiapan spiritual menyambut bulan puasa.
Peristiwa astronomi ini menjadi pengingat bahwa perubahan di langit dan di bumi berjalan dalam keteraturan hukum alam yang diciptakan Tuhan.
Dalam tradisi Islam, fenomena gerhana tidak hanya dipahami sebagai peristiwa ilmiah, tetapi juga sebagai momentum refleksi keimanan.
Gerhana matahari cincin terjadi ketika Bulan melintas di antara Bumi dan Matahari, namun posisinya berada pada jarak terjauh dari Bumi.
Akibatnya, piringan Bulan tampak lebih kecil dan tidak mampu menutupi Matahari secara sempurna.
Cahaya Matahari pun masih terlihat mengelilingi Bulan, membentuk lingkaran terang yang dikenal sebagai “cincin api”.
Menurut penjelasan astronomi dalam buku Astronomy: A Beginner’s Guide to the Universe karya Eric Chaisson dan Steve McMillan, fenomena ini berkaitan erat dengan orbit elips Bulan.
Jarak Bulan yang berubah-ubah menyebabkan ukuran tampak Bulan di langit tidak selalu sama, sehingga dalam kondisi tertentu terciptalah gerhana cincin.
Pada 17 Februari 2026, fase maksimum gerhana diperkirakan terjadi pada malam hari waktu Indonesia, sehingga tidak bisa diamati secara langsung dari Nusantara. Jalur utama gerhana berada di wilayah Antartika dan sebagian Pasifik Selatan.
Baca juga: Sidang Isbat Puasa 2026 Digelar 17 Februari, Ini Tahapan Penetapan Awal Ramadhan 1447 H
Secara astronomis, jalur gerhana matahari sangat sempit dan spesifik. Tidak semua wilayah Bumi berada dalam bayangan Bulan saat peristiwa terjadi.
Pada 17 Februari 2026, konfigurasi posisi Matahari, Bulan, dan Bumi membentuk lintasan gerhana di belahan bumi selatan, jauh dari kawasan Asia Tenggara.
Hal ini menjelaskan mengapa masyarakat Indonesia tidak dapat menyaksikan fenomena tersebut secara langsung.
Meski demikian, pengamatan tetap bisa dilakukan melalui siaran daring yang biasanya disediakan lembaga astronomi internasional.
Fenomena langit seperti gerhana telah lama menjadi perhatian Al-Qur’an sebagai tanda kebesaran Allah.
Salah satu ayat yang sering dikaitkan dengan keteraturan peredaran benda langit adalah Surah Yasin ayat 40:
Lā asy-syamsu yambaghī lahā an tudrikal-qamara wa lal-lailu sābiqun-nahār, wa kullun fī falakin yasbahūn.
Artinya: “Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yasin: 40)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap benda langit bergerak dalam sistem yang teratur. Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, keteraturan kosmik ini merupakan tanda kebijaksanaan Ilahi yang mengatur alam semesta secara presisi.
Dalam konteks menjelang Ramadhan, fenomena gerhana seolah menjadi pengingat bahwa bulan puasa hadir di tengah harmoni alam yang terus bergerak sesuai sunnatullah.
Baca juga: Puasa Kurang Berapa Hari? Hitung Mundur Ramadhan 2026, Tinggal Berapa Minggu Lagi
Dalam Islam, gerhana tidak dipahami sebagai pertanda bencana atau kemarahan Tuhan. Rasulullah SAW justru mengajarkan umat untuk merespons gerhana dengan meningkatkan ibadah.
Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa ketika terjadi gerhana, Rasulullah SAW melaksanakan shalat gerhana (shalat kusuf) dan mengajak umat untuk memperbanyak doa serta dzikir.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa shalat gerhana bertujuan menumbuhkan kesadaran spiritual, bukan rasa takut berlebihan terhadap fenomena alam. Dengan demikian, gerhana menjadi momentum introspeksi, bukan sumber takhayul.
Datangnya gerhana matahari cincin hanya beberapa hari sebelum Ramadhan 1447 H menghadirkan dimensi simbolik yang menarik.
Di satu sisi, umat Islam bersiap menyambut bulan ibadah. Di sisi lain, alam memperlihatkan dinamika kosmik yang mengagumkan.
Menurut Nurcholish Madjid dalam Islam Doktrin dan Peradaban, fenomena alam dapat menjadi sarana tafakur, yaitu perenungan tentang kebesaran Tuhan dan keterbatasan manusia.
Dalam suasana menjelang Ramadhan, tafakur ini dapat memperkuat kesiapan mental dan spiritual dalam menjalani puasa.
Gerhana menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan, dan Ramadhan hadir sebagai momentum pembaruan diri.
Ia mengajak manusia untuk menata ulang orientasi hidup, dari sekadar rutinitas duniawi menuju kesadaran transendental.
Baca juga: Niat Puasa Qadha Ramadhan: Bacaan, Waktu Niat, dan Dalilnya dalam Islam
Meski tidak dapat menikmati gerhana 2026 secara langsung, Indonesia tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menyaksikan peristiwa serupa.
Berdasarkan prediksi astronomi, gerhana matahari cincin berikutnya yang melintasi wilayah Indonesia diperkirakan terjadi pada 21 Mei 2031 dan akan melewati sebagian Kalimantan, Sulawesi, serta Maluku.
Peristiwa ini diprediksi menjadi salah satu fenomena langit paling dinanti dalam dekade mendatang, sekaligus peluang edukasi astronomi bagi masyarakat luas.
Gerhana matahari cincin jelang Ramadhan 2026 bukan sekadar peristiwa astronomi. Ia adalah pertemuan antara sains dan spiritualitas, antara keteraturan kosmos dan kesadaran manusia.
Meski tidak terlihat langsung dari Indonesia, maknanya tetap relevan. Fenomena ini mengingatkan bahwa alam semesta bergerak dalam harmoni, sementara manusia dipanggil untuk menyelaraskan diri melalui ibadah, refleksi, dan peningkatan kualitas iman.
Di ambang Ramadhan, langit seakan berbicara dengan caranya sendiri: bahwa setiap detik adalah kesempatan untuk kembali kepada Tuhan, sebelum cahaya Matahari kembali bersinar penuh dan bulan suci mengetuk pintu umat manusia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang