Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hari Pertama Puasa 2026: Ide Ngabuburit Seru Bareng Keluarga

Kompas.com, 2 Februari 2026, 15:15 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ramadhan selalu hadir sebagai bulan yang istimewa bagi umat Islam. Selain menjadi momentum peningkatan ibadah, Ramadhan juga membuka ruang bagi keluarga untuk mempererat ikatan batin melalui aktivitas sederhana yang sarat makna.

Salah satu tradisi yang terus hidup di tengah masyarakat Indonesia adalah ngabuburit, yakni aktivitas mengisi waktu menjelang berbuka puasa.

Dalam konteks kekinian, ngabuburit tidak lagi sekadar berjalan-jalan menunggu azan Magrib. Lebih dari itu, momen ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan karakter, pembentukan kebiasaan positif, hingga penguatan spiritual dalam keluarga.

Jika dirancang dengan tepat, ngabuburit justru menjadi bagian dari ibadah sosial yang bernilai pahala.

Makna Ngabuburit dalam Perspektif Sosial dan Religius

Secara etimologis, istilah ngabuburit berasal dari bahasa Sunda yang berarti menunggu waktu sore atau menanti datangnya senja.

Namun, dalam praktiknya, tradisi ini berkembang menjadi ruang interaksi sosial yang khas selama Ramadhan.

Dalam buku Sosiologi Agama karya Dadang Kahmad, dijelaskan bahwa praktik keagamaan masyarakat tidak hanya terwujud dalam ritual formal, tetapi juga dalam aktivitas sosial yang menguatkan solidaritas dan kebersamaan.

Ngabuburit termasuk dalam kategori praktik kultural yang memadukan unsur religi dan sosial, sehingga mampu memperkuat identitas keislaman sekaligus ikatan keluarga.

Al-Qur’an sendiri menekankan pentingnya memanfaatkan waktu dalam kebaikan. Allah SWT berfirman:

Wal ‘ashr. Innal insāna lafī khusr. Illalladzīna āmanū wa ‘amilush shālihāt...

Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan...” (QS. Al-‘Ashr: 1–3).

Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap detik, termasuk waktu menunggu berbuka, memiliki nilai jika diisi dengan aktivitas yang bermakna.

Baca juga: Awal Puasa 2026, Ini Hikmah Puasa Ramadhan Menurut Alquran

Jalan Santai dan Berburu Takjil

Salah satu bentuk ngabuburit yang paling populer adalah berjalan santai sambil berburu takjil. Aktivitas ini bukan hanya soal membeli makanan, tetapi juga menikmati atmosfer Ramadhan yang khas, mulai dari keramaian pasar musiman hingga ragam kuliner tradisional.

Menurut penelitian dalam buku 100 Mak Nyus Makanan Tradisional Indonesia karya Bondan Winarno, pasar takjil menjadi ruang pertemuan sosial yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat.

Bagi keluarga, momen ini dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan anak pada keberagaman kuliner sekaligus menanamkan nilai kesederhanaan dalam memilih makanan berbuka.

Memasak Bersama, Menguatkan Kerja Sama Keluarga

Ngabuburit juga dapat diisi dengan kegiatan memasak bersama di rumah. Membagi peran, mulai dari menyiapkan bahan hingga menyajikan hidangan, menciptakan suasana kolaboratif yang hangat.

Dalam buku Prophetic Parenting Cara Nabi Mendidik Anak karya Syaikh Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, dijelaskan bahwa keterlibatan anak dalam aktivitas rumah tangga mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab dan empati.

Aktivitas memasak saat Ramadhan bukan sekadar persiapan berbuka, tetapi juga sarana pendidikan karakter yang efektif.

Kreasi Dekorasi Ramadhan dan Aktivitas Seni Keluarga

Bagi keluarga yang gemar berkreasi, membuat hiasan bertema Ramadhan dapat menjadi pilihan ngabuburit yang menyenangkan. Mulai dari menghias toples kue, membuat kartu ucapan, hingga mencoba kaligrafi sederhana.

Aktivitas kreatif ini sejalan dengan konsep learning by doing yang dibahas dalam buku Psikologi Pendidikan karya Slameto, di mana anak belajar melalui pengalaman langsung.

Selain memperindah rumah, kegiatan ini juga menumbuhkan rasa memiliki terhadap suasana Ramadhan di lingkungan keluarga.

Baca juga: Sidang Isbat Puasa 2026 Digelar 17 Februari, Ini Tahapan Penetapan Awal Ramadhan 1447 H

Tontonan Inspiratif sebagai Media Edukasi

Menonton film keluarga atau tayangan religi dapat menjadi alternatif ngabuburit yang edukatif. Pilihan konten yang tepat mampu menghadirkan nilai moral sekaligus hiburan yang sehat.

Menurut buku Media Literasi Sekolah: Teori dan Praktik karya Hamidulloh Ibda, tayangan yang sarat pesan positif dapat memperkuat nilai empati, toleransi, dan spiritualitas jika dikonsumsi secara terarah bersama keluarga.

Tadarus dan Diskusi Keagamaan

Ramadhan identik dengan tilawah Al-Qur’an. Mengisi waktu menjelang berbuka dengan tadarus bersama dapat menciptakan atmosfer religius di dalam rumah.

Allah SWT berfirman:

Syahru Ramadhānal ladzī unzila fīhil Qur’ān...

Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia...” (QS. Al-Baqarah: 185).

Membaca Al-Qur’an lalu mendiskusikan maknanya secara sederhana membantu anggota keluarga memahami pesan ilahi secara lebih kontekstual dan aplikatif.

Olahraga Ringan dan Aktivitas Fisik Menjelang Berbuka

Berjalan kaki atau bersepeda santai di sekitar lingkungan rumah juga bisa menjadi pilihan ngabuburit yang sehat.

Aktivitas fisik ringan membantu menjaga kebugaran tubuh selama puasa tanpa menguras energi berlebihan.

Dalam buku Jurus Sehat Rasulullah karya dr. Zaidul Akbar, disebutkan bahwa pergerakan ringan menjelang berbuka membantu melancarkan sirkulasi darah serta menjaga metabolisme tubuh selama Ramadhan.

Baca juga: Puasa Kurang Berapa Hari? Hitung Mundur Ramadhan 2026, Tinggal Berapa Minggu Lagi

Menulis Jurnal Ramadhan sebagai Sarana Refleksi Diri

Mengisi waktu ngabuburit dengan menulis jurnal Ramadhan juga semakin diminati. Mencatat pengalaman puasa, target ibadah, hingga rasa syukur harian membantu membangun kesadaran spiritual.

Menurut buku Educating for Character karya Thomas Lickona, kebiasaan refleksi diri mampu meningkatkan kontrol emosi dan kesadaran moral seseorang.

Berbagi Takjil, Menanamkan Nilai Kepedulian Sosial

Ngabuburit yang paling bermakna adalah berbagi dengan sesama. Menyiapkan takjil untuk tetangga atau masyarakat sekitar tidak hanya membawa kebahagiaan, tetapi juga menumbuhkan empati dalam keluarga.

Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tersebut." (HR. Tirmidzi).

Hadis ini menegaskan bahwa berbagi saat Ramadhan memiliki nilai spiritual yang besar sekaligus membangun solidaritas sosial.

Ngabuburit sebagai Investasi Emosional Keluarga

Ngabuburit sejatinya bukan hanya soal mengisi waktu menunggu azan Magrib. Lebih dari itu, tradisi ini merupakan ruang strategis untuk membangun memori kolektif keluarga, menanamkan nilai agama, serta memperkuat ikatan emosional antaranggota keluarga.

Di tengah ritme kehidupan modern yang serba cepat, Ramadhan menghadirkan jeda yang berharga.

Dari jalan sore hingga tadarus bersama, dari dapur rumah hingga berbagi di jalanan, setiap momen ngabuburit menyimpan potensi menjadi ladang pahala sekaligus kenangan indah yang kelak dirindukan.

Dengan mengelola ngabuburit secara kreatif dan bermakna, Ramadhan tidak hanya terasa sebagai bulan ibadah, tetapi juga sebagai musim kebersamaan yang memperkaya jiwa dan menguatkan keluarga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
MUI Desak Pemerintah Tinjau Ulang Keterlibatan di Board of Peace, Soroti Krisis Palestina yang Kian Memburuk
MUI Desak Pemerintah Tinjau Ulang Keterlibatan di Board of Peace, Soroti Krisis Palestina yang Kian Memburuk
Aktual
Bingung Pilih Outfit HalalbiHalal? 4 Inspirasi Dress Simple nan Elegan Ini Bikin Tampil Fresh Seketika
Bingung Pilih Outfit HalalbiHalal? 4 Inspirasi Dress Simple nan Elegan Ini Bikin Tampil Fresh Seketika
Aktual
Satu Syawal, Banyak Tafsir, Satu Tujuan
Satu Syawal, Banyak Tafsir, Satu Tujuan
Aktual
Masih Ada yang Tak Mampu Beli Kafan, Dedi Mulyadi Tahan Tangis, Minta Maaf di Hari Lebaran
Masih Ada yang Tak Mampu Beli Kafan, Dedi Mulyadi Tahan Tangis, Minta Maaf di Hari Lebaran
Aktual
4 Perang Besar di Bulan Syawal dalam Sejarah Islam, dari Perang Uhud hingga Thaif
4 Perang Besar di Bulan Syawal dalam Sejarah Islam, dari Perang Uhud hingga Thaif
Aktual
Cerita Warga Banten Rela ke Medan demi Shalat Id di Masjid Bersejarah
Cerita Warga Banten Rela ke Medan demi Shalat Id di Masjid Bersejarah
Aktual
Takbiran Tanpa Petasan, “Gantara” di Salatiga Ubah Malam Lebaran Jadi Panggung Budaya
Takbiran Tanpa Petasan, “Gantara” di Salatiga Ubah Malam Lebaran Jadi Panggung Budaya
Aktual
Cerita di Tengah Takbir, Warga Rayakan Lebaran dengan Cara Sederhana namun Bermakna
Cerita di Tengah Takbir, Warga Rayakan Lebaran dengan Cara Sederhana namun Bermakna
Aktual
Ribuan Umat Muslim Shalat Ied di Pelabuhan Marina Labuan Bajo
Ribuan Umat Muslim Shalat Ied di Pelabuhan Marina Labuan Bajo
Aktual
Suasana Kemeriahan Pawai Obor Sambut Hari Raya Idul Fitri di Stadion Pakansari Cibinong
Suasana Kemeriahan Pawai Obor Sambut Hari Raya Idul Fitri di Stadion Pakansari Cibinong
Aktual
Pesan Bupati Karawang pada Idul Fitri 2026, Tekankan Komitmen Jalankan Program Prioritas
Pesan Bupati Karawang pada Idul Fitri 2026, Tekankan Komitmen Jalankan Program Prioritas
Aktual
 Jejak Tiga Datok Pembawa Islam di Luwu dan Cahaya Obor  Malam Takbiran yang Menjaga Ingatan
Jejak Tiga Datok Pembawa Islam di Luwu dan Cahaya Obor Malam Takbiran yang Menjaga Ingatan
Aktual
3 Amalan Sunnah di Bulan Syawal: Puasa, Iktikaf, hingga Menikah
3 Amalan Sunnah di Bulan Syawal: Puasa, Iktikaf, hingga Menikah
Aktual
Bolehkah Menggabungkan Puasa Qadha dan Puasa Syawal? Ini Penjelasan Hukumnya Menurut Ulama
Bolehkah Menggabungkan Puasa Qadha dan Puasa Syawal? Ini Penjelasan Hukumnya Menurut Ulama
Aktual
Puasa Syawal: Hukum, Niat, dan Tata Cara Menurut Ulama
Puasa Syawal: Hukum, Niat, dan Tata Cara Menurut Ulama
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com