Editor
KOMPAS.com - Bagi muslimah, selesai haid berarti saatnya kembali suci agar bisa melaksanakan salat, puasa, dan ibadah lain. Karena itu, cara mandi wajib setelah haid beserta doanya penting dipahami dengan benar—bukan hanya urutannya, tapi juga dalilnya dalam fikih.
Para ulama menjelaskan, mandi wajib (ghusl) setelah haid bertujuan mengangkat hadas besar. Dasarnya antara lain firman Allah tentang bersuci dan praktik Nabi SAW yang diriwayatkan dalam hadis-hadis sahih mengenai tata cara mandi janabah, yang kemudian diqiyaskan (dianalogikan) pada mandi setelah haid.
Baca juga: Doa Mandi Wajib Setelah Haid: Niat, Rukun, dan Tata Cara Sesuai Syariat Islam
Niat cukup di dalam hati, namun banyak ulama membolehkan dilafalkan untuk membantu kekhusyukan.
Arab:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ الْحَيْضِ ِللهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitul ghusla li raf‘il hadatsil haid lillahi ta‘ala
Arti:
“Saya berniat mandi wajib untuk menghilangkan hadas besar dari haid karena Allah Ta’ala.”
Merujuk penjelasan fikih wanita (mazhab Syafi’i) dan hadis tata cara mandi Nabi SAW sebagaimana dilansir dari situs bsimasalahat.or.id:
1. Membaca niat.
2. Mencuci kedua tangan tiga kali.
3. Membersihkan kemaluan dengan tangan kiri.
4. Mencuci tangan kembali dengan sabun.
5. Berwudhu seperti hendak salat.
6. Menyiram kepala tiga kali sambil menyela rambut hingga ke kulit kepala.
7. Mengguyur seluruh tubuh, dimulai dari sisi kanan lalu kiri.
8. Memastikan tidak ada bagian tubuh yang terhalang air.
9. Boleh dilanjutkan dengan sabun/sampo seperti mandi biasa.
10. Jika ingin salat, boleh berwudhu lagi (tidak wajib bila wudhu tidak batal).
Dalil praktik ini diambil dari hadis riwayat Aisyah RA tentang tata cara mandi Nabi SAW saat janabah (HR. Bukhari dan Muslim), yang oleh ulama diterapkan pula pada mandi setelah haid.
Ulama menganjurkan membaca doa setelah mandi sebagaimana doa setelah wudhu (qiyas).
Arab:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ
Latin:
Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Allahummaj‘alnii minat tawwaabiin waj‘alnii minal mutathahhiriin.
Arti:
“Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah… Ya Allah jadikan aku termasuk orang yang bertaubat dan mensucikan diri.”
Baca juga: 4 Macam Mandi Wajib untuk Wanita Lengkap dengan Tata Caranya
Tanpa mandi wajib, salat dan ibadah tidak sah. Karena itu, memahami cara mandi wajib setelah haid beserta doanya bukan sekadar rutinitas, tapi bagian dari sahnya ibadah seorang muslimah.
Panduan ini dirujuk dari kitab-kitab fikih wanita mazhab Syafi’i dan penjelasan ulama tentang hadis mandi Nabi SAW yang menjadi rujukan utama tata cara bersuci.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang