Editor
KOMPAS.com-Sholat Dhuha merupakan ibadah sunnah yang memiliki kedudukan istimewa dan sangat dianjurkan dalam ajaran Islam.
Ibadah ini umumnya dikerjakan secara perorangan, namun dalam praktiknya tidak jarang dilaksanakan secara berjamaah, terutama di lembaga pendidikan berbasis keagamaan.
Pelaksanaan sholat Dhuha berjamaah biasanya bertujuan membiasakan umat, khususnya peserta didik, untuk melaksanakan ibadah sunnah.
Baca juga: Niat Sholat Dhuha: Waktu, Keutamaan, dan Bacaan Lengkap
Praktik tersebut kemudian memunculkan pertanyaan fiqih mengenai hukum sholat Dhuha yang dilakukan secara berjamaah.
Dilansir dari MUI, dalam sejumlah riwayat hadis, Rasulullah SAW pernah melaksanakan sholat sunnah secara berjamaah.
Salah satunya diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu sebagai berikut:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ جَدَّتَهُ مُلَيْكَةَ، دَعَتْ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِطَعَامٍ صَنَعَتْهُ، فَأَكَلَ مِنْهُ، ثُمَّ قَالَ: قُومُوا فَأُصَلِّيَ لَكُمْ، قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ فَقُمْتُ إِلَى حَصِيرٍ لَنَا قَدِ اسْوَدَّ مِنْ طُولِ مَا لُبِسَ، فَنَضَحْتُهُ بِمَاءٍ، فَقَامَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَفَفْتُ أَنَا، وَالْيَتِيمُ وَرَاءَهُ، وَالْعَجُوزُ مِنْ وَرَائِنَا، فَصَلَّى لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ انْصَرَفَ
Artinya:
“Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa neneknya Mulaikah mengundang Rasulullah SAW untuk menyantap makanan yang ia siapkan. Beliau pun memakannya. Setelah itu beliau bersabda, ‘Berdirilah kalian, agar aku shalat untuk kalian.’ Anas bin Malik berkata: Aku menuju sebuah tikar milik kami yang telah menghitam karena lama dipakai, lalu aku memercikinya dengan air. Rasulullah SAW berdiri di atasnya. Aku dan seorang anak yatim berdiri di belakang beliau, sementara seorang perempuan tua berdiri di belakang kami. Rasulullah SAW kemudian melaksanakan shalat dua rakaat untuk kami, lalu beliau pun beranjak pergi.” (HR Muslim)
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadis tersebut menjadi dasar kebolehan sholat sunnah dilakukan secara berjamaah.
Hadis ini juga menunjukkan bahwa Rasulullah SAW bermaksud memberikan pengajaran langsung mengenai tata cara shalat.
قَوْلُهُ: «قُومُوا فَلِأُصَلِّيَ لَكُمْ» فِيهِ جَوَازُ النَّافِلَةِ جَمَاعَةً، وَتَبْرِيكُ الرَّجُلِ الصَّالِحِ وَالْعَالِمِ أَهْلَ الْمَنْزِلِ بِصَلَاتِهِ فِي مَنْزِلِهِمْ. فَقَالَ بَعْضُهُمْ: وَلَعَلَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَادَ تَعْلِيمَهُمْ أَفْعَالَ الصَّلَاةِ مُشَاهَدَةً مَعَ تَبْرِيكِهِمْ، فَإِنَّ الْمَرْأَةَ قَلَّمَا تُشَاهِدُ أَفْعَالَهُ لَهُ فِي الْمَسْجِدِ، فَأَرَادَ أَنْ تُشَاهِدَهَا وَتَتَعَلَّمَهَا وَتُعَلِّمَهَا غَيْرَهَا
(Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, vol. 5, h. 138)
Baca juga: Lima Keutamaan Sholat Dhuha, Dari Ampunan Dosa hingga Istana di Surga
Para ulama fiqih membagi sholat sunnah ke dalam dua kategori.
Pertama, sholat sunnah yang disunnahkan dilaksanakan secara berjamaah, seperti sholat Id, sholat gerhana (kusuf dan khusuf), sholat istisqa, dan shalat tarawih menurut pendapat terkuat.
Kedua, sholat sunnah yang tidak disunnahkan berjamaah, tetapi tetap sah apabila dilakukan secara berjamaah.
تَطَوُّعُ الصَّلَاةِ ضَرْبَانِ: ضَرْبٌ تُسَنُّ فِيهِ الْجَمَاعَةُ، وَهُوَ الْعِيدُ، وَالْكُسُوفُ، وَالِاسْتِسْقَاءُ، وَكَذَا التَّرَاوِيحُ عَلَى الْأَصَحِّ. وَضَرْبٌ لَا تُسَنُّ لَهُ الْجَمَاعَةُ، لَكِنْ لَوْ فُعِلَ جَمَاعَةً صَحَّ، وَهُوَ مَا سِوَى ذَلِكَ
(Al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, vol. 5, h. 7)
Berdasarkan literatur fiqih mazhab Syafi’i, sholat Dhuha yang dilakukan secara berjamaah hukumnya diperbolehkan.
Praktik tersebut tidak dihukumi makruh dan tetap sah secara syariat.
Imam an-Nawawi menegaskan kebolehan tersebut dalam karyanya yang lain.
وَأَمَّا النَّوَافِلُ، فَقَدْ سَبَقَ فِي بَابِ صَلَاةِ التَّطَوُّعِ مَا يُشْرَعُ فِيهِ الْجَمَاعَةُ مِنْهَا، وَمَا لَا يُشْرَعُ. وَمَعْنَى قَوْلِهِمْ: لَا يُشْرَعُ، لَا تُسْتَحَبُّ، فَلَوْ صُلِّيَ هَذَا النَّوْعُ جَمَاعَةً جَازَ، وَلَا يُقَالُ مَكْرُوهٌ، فَقَدْ تَظَاهَرَتِ الْأَحَادِيثُ الصَّحِيْحَةُ عَلَى ذَلِكَ
(Raudhah at-Thalibin, vol. 1, h. 445)
Baca juga: Sholat Dhuha: Pengertian, Hukum, Waktu Pelaksanaan, dan Dalil Kesunnahannya
Meski diperbolehkan, kebolehan sholat Dhuha berjamaah tidak bersifat mutlak.
Syekh Abdurrahman al-Masyhur menegaskan bahwa praktik berjamaah tidak boleh menimbulkan keyakinan keliru di tengah masyarakat.
تُبَاحُ الْجَمَاعَةُ فِي نَحْوِ الْوِتْرِ وَالتَّسْبِيْحِ فَلَا كَرَاهَةَ فِي ذَلِكَ وَلَا ثَوَابَ، نَعَمْ إِنْ قَصَدَ تَعْلِيْمَ الْمُصَلِّيْنَ وَتَحْرِيْضَهُمْ كَانَ لَهُ ثَوَابٌ ، وَأَيُّ ثَوَابٍ باِلنِّيِّةِ الْحَسَنَةِ … وَإِلَّا فَلَا ثَوَابَ بَلْ يَحْرُمُ وَيُمْنَعُ مِنْهَا
(Bughyah al-Mustarsyidin, h. 86)
Sholat Dhuha berjamaah menurut fiqih mazhab Syafi’i hukumnya boleh dan sah.
Pelaksanaannya dapat bernilai pahala apabila diniatkan sebagai sarana pendidikan dan motivasi ibadah.
Namun, praktik tersebut tidak boleh menimbulkan anggapan bahwa shalat Dhuha disyariatkan khusus secara berjamaah.
Jika menimbulkan kesalahpahaman syariat di tengah masyarakat, maka praktik tersebut tidak diperbolehkan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang